The Rhioz adalah band pensi
yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka
semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang
pemuda ganteng yang terdiri dari Dani (Vocalist),
Dika (Drum), Al (Bassis) dan Raka (Gitaris).
Mereka berempat berasal dari satu jurusan yang sama dan berasal dari keluarga
yang berada. Meski, semuanya berasal dari keluarga yang berada tetapi sifat
rendah hatinya selalu saja menjadi hal utama yang dikagumi oleh para fansnya.
“Rin nonton The Rhioz
yuk?” ajak Nia sambil menarik tangan Airin.
“Nggak ah, aku lagi males
nonton.” jawab Airin dengan raut wajah yang datar.
“Lho, kenapa? Bukannya
kamu suka band?” tanya Nia kembali.
“Niaaaa,, aku lagi
males nonton. Aku masih kepikiran sama skripsiku yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar
Airin datar.
“Ya ampun, Rin. Justru
dengan menonton The Rhioz hati kamu akan sedikit terhibur. Jadi, setelah pulang
dari nonton The Rhioz kamu nggak akan kepikiran terus˗terusan dengan skripsi yang
ditolak sama Pak Anwar.” ujar Nia kepada Airin
“Yuukkk!!” Ajak Nia
tanpa mendengarkan kembali jawaban dari Airin.
Tanpa membuang banyak
waktu Nia menarik tangan Airin untuk ikut pergi bersamanya menonton penampilan
The Rhioz sore itu. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama 10 menit
mereka sampai di café tempat The Rhioz manggung. Suara teriakan para penonton
semakin terdengar begitu jelas dari halaman parkiran yang tak begitu jauh dari
pintu masuk menuju café. Gemerlap lampu yang menerangi ruangan semakin terlihat
begitu indah, disertai dengan alunan music yang begitu merdu yang dimainkan
oleh band The Rhioz.
Penampilan The Rhioz
sungguh membuat Airin kagum. Mereka tampil dengan sangat sempurna disertai aksi
panggung yang menawan sehingga para penonton merasa puas dan terhibur dengan
penampilan The Rhioz sore itu. Sepanjang penampilan The Rhioz, Airin hanya bisa
berdecak kagum memandangi satu persatu penampilan dari masing˗masing
anggotanya. Ternyata, mereka sungguh mempesona. Mata dan telinga Airin
dimanjakan dengan alunan lagu dan penampilan keren yang dimainkan oleh The Rhioz.
“Wow,,,ternyata mereka
benar˗benar mengaggumkan.” ujar Airin dalam hatinya.
Sorakan dari para
penonton membuat suasana café semakin ramai didatangi oleh para anak muda. Tak
hanya kaum hawa tapi kaum adam pun sangat menikmati penampilan yang disuguhi
oleh band The Rhioz. Mereka tak takut untuk berjubelan diantara para penonton
yang lainnya, itu semua dikarenakan mereka sangat menikmati aksi panggung band
pensi yang saat ini sedang hangat menjadi perbincangan anak muda.
Semua orang bersorak bergembira,
tak lupa pula teriakan penonton yang memanggil nama masing˗masing personil band
The Rhioz semakin membuat suasana terasa lebih ramai. Mereka selalu melemparkan
senyum manisnya kepada setiap penonton yang memanggil namanya. Penampilan keempat
aksi cowok ganteng dari personil The Rhioz sungguh mampu membius suasana café
sore itu menjadi lebih meriah.
“Hey,,,Rin!! Kenapa kamu
diam membisu tanpa satu kata pun?” ujar Nia sambil menepuk pundak Airin.
“Hah!! Aku baik-baik
saja kok.” sahut Airin.
“Aah,,,bohooonng!!
Pasti kamu mulai suka kan dengan penampilan The Rhioz? Ya,,iyalah The Rhioz itu
band pensi paling ngetop di kota kita. Bahkan di kampus kita aja nama band The
Rhioz sudah sangat populer, makanya jadi orang tuh jangan kuper kuper amat dong Rin.” ujar Nia meledek Airin
“Niiiiaaaaaaa…. Kamu
ini cuma tahu nya tentang band The Rhioz aja. Emang kamu nggak mikirin tugas skripsimu
yang masih ditolak dosen.” Sahut Airin dengan nada yang keras.
“Yaelaaaaah…!!! Bisa
nggak sih, Rin satu hari aja tanpa mikirin skripsi.” Nia pun bergegas pergi
meninggalkan Airin dan mulai menikmati kembali alunan lagu yang disuguhi oleh
The Rhioz.
***
Keesokan harinya, tanpa
disengaja Airin bertemu dengan Raka sang gitaris band The Rhioz di koridor
kampus. Raka yang memiliki senyum manis, dan mempunyai postur badan besar dan
tinggi serta mempunyai fans yang lebih banyak dibandingkan personil The Rhioz
yang lainnya mampu membuat Airin jadi salah tingkah. Airin merasa malu ketika Raka
berjalan menuju kearahnya. Karena rasa malu yang dimilikinya, Airin pun mencoba
beralih kearah kantin agar tidak berpapasan secara langsung dengan Raka sang
gitaris manis itu.
Setelah beberapa menit Raka
pun berlalu dari arahnya.
“Huuu,,,legah!!
Akhirnya ia tak mengarah kesini. Bisa salting gue kalau ketemu dengan dia
secara langsung.” ujar Airin sambil menghembuskan nafasnya.
Airin pun mulai
melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Pak Anwar yaitu Dosen Pembimbing
skripsinya. Airin terus berjalan dengan gaya cuek yang telah menjadi ciri khas
dirinya, tanpa melihat orang˗orang
disekelilingnya Airin terus berjalan lurus menuju ruangan Pak Anwar.
Setibanya sampai di depan ruang tunggu Pak
Anwar. Airin pun dikagetkan dengan sosok laki˗laki bertubuh besar dan tinggi
yang sedang duduk dipojokan di ruang tunggu Pak Anwar. Ternyata,
laki˗laki itu adalah Raka. Sosok laki˗laki yang mampu membuat dirinya menjadi
salah tingkah dan gugup.
Di ruang tunggu Dosen,
Airin terdiam bagaikan patung yang tak bisa bergerak, dan bicara. Tak henti˗hentinya
Airin memainkan handphone genggamnya sambil
sesekali memandangi Raka yang saat itu sedang membaca buku, duduk disebelahnya.
“Wah,,,ternyata nih
cowok keren juga ya. Aku kira kerjaannya cuma bisa main gitar doang, ternyata
dia juga suka membaca!” Pikir Airin.
Lamunan Airin terlalu
dalam, sehingga ketika Raka mengarahkan pandangannya kearah Airin, Airin pun
kaget dan kebingungan.
“Loe lihatin gue ya?
Kenapa? Apa ada yang aneh dari muka gue?” Ujar Raka
“Enggaaaakk kok. Gue
nggak lihatin loe. Dasar loe˗nya aja yang kepedean.” Ujar Airin dengan raut
wajah yang datar.
“Oh,,,gitu!!!’” Sahut
Raka dengan singkat
Raka pun tak
menghiraukan Airin, ia masih asyik dengan buku bacaannya dan terus membaca
hingga Pak Anwar tiba di ruangannya. Tak lama kemudian Pak Anwar pun tiba
diruangannya. Beliau mengenakan kemeja putih polos dengan tatanan rambut yang
rapi. Beliau tersenyum kepada seluruh mahasiswanya yang saat itu telah datang
duluan untuk melakukan bimbingan skripsi dengannya.
Setelah secara
bergiliran mengantri satu per satu masuk keruangan Pak Anwar, bimbingan pun
usai. Airin dan Raka pun berpisah selayaknya orang biasa yang tak saling
mengenal.
***
“Hey,, kamu dimana?
Tumben batang hidungmu belum kelihatan jam segini?” ujar Airin melalui pesan
singkat yang ia kirimkan untuk Nia.
“Masih di bus nih. Kenapa? Kamu udah kangen ya
sama aku? Ledek Nia dipesan singkat yang ia kirimkan untuk Airin.
“Buruan deh kesini. Aku
udah di kampus dari 35 menit yang lalu” Jawab Airin kembali dengan nada memaksa
Nia agar segera tiba.
“Iya…iya sabaarr.
Bentar lagi aku sampai kok.”
Beberapa menit kemudian,
Nia pun tiba dikampus.
“Woy,,,,benggong aja
loe” Teriak Nia tepat ditelinga Airin.
“Aahh loe ngagetin gue
aja.” Airin pun terkejut
“By the way, aku mau cerita nih, tapi kamu harus janji ya jangan
bilang ke siapa˗siapa.” Sahut Airin dengan wajah yang serius.
“Oke, aku janji.” Ujar
Nia mengulurkan jari kelingkingnya.
“Jadi gini
ceritanya…..”
‘’APAAAA….? Loe serius
Rin? Loe nggak bohongi gue kan tentang cerita yang barusan loe ceritain?” Jawab
Nia yang masih tak mempercayai hal itu.
“Yaelah,, sejak kapan
gue sering bohongin loe. Emang loe nggak lihat muka gue sudah serius begini!!”
Ujar Airin dengan kesal.
“Heheh,,,maaf deh kalau
gitu. Soalnya aku masih nggak percaya aja nih sama cerita kamu. By the way, jadi apa nih yang kamu
rasakan setelah duduk bersebelahan dengan Raka? Apakah Raka semanis dan
seganteng ketika ia sedang memainkan gitarnya? Ayooo dong Rin ceritain ke gue.”
ujar Nia yang tak henti˗hentinya mencerocos.
“Pertanyaan loe banyak
baget sih, pusing gue dengernya. Mending loe lihat sendiri tuh idola loe.”
sahut Airin dengan kesal.
Karena tak sanggup
mendengarkan celotehan Nia, Airin pun pergi meninggalkan Nia yang tak
henti˗hentinya menanyakan tentang Raka sang cowok idolanya. Airin berjalan
sendirian menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan. Ia
membeli semangkok bakso dan es teh manis sebagai menu favorite˗nya. Tak lama kemudian Raka dan teman˗teman The Rhioz tiba
di kantin tempat Airin sedang menyantap baksonya. Rasa jengkel Airin terhadap
Raka masih saja menyelimuti hatinya. Ia merasa bahwa Raka adalah cowok sok
kepedean yang ia kenal.
***
Keesokan harinya,
dengan persiapan yang matang Airin pun siap melanjutkan bimbingannya dengan Pak
Anwar. Ia telah melakukan perbaikan sesuai yang Pak Anwar inginkan. Dengan penuh
harapan, ia berharap semoga hari ini adalah hari terakhir baginya untuk
melakukan bimbingan. Rasa percaya dirinya membuat Airin melangkah dengan berani
menuju ruangan Pak anwar.
Di ruang tunggu ruangan
Pak Anwar, ternyata Raka telah lebih dulu datang dibandingkan Airin. Hari ini
Raka terlihat semakin ganteng dan manis dengan kemeja polosnya yang berwarna navy. Penampilannya sangat berbeda
dengan penampilannya ketika ia berada di panggung.
Meskipun Raka merupakan
salah satu anggota band pensi terkenal di kampus, Entah kenapa suasana ruang
tunggu tetap saja terasa hening, Semua mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri. Tak
ada satu pun orang yang meminta foto dengan Raka meskipun ketika ia selesai performance bersama teman bandnya biasanya
Raka kebanjiran fans yang meminta foto bersama dirinya, hal itu membuat Airin
merasa aneh.
Ditengah˗tengah
lamunannya, tanpa ia sadari ternyata Raka pun mencoba mengajaknya mengobrol
untuk mencairkan suasana hening siang itu.
“Hai..” sapa Raka
“Hai,,” jawab Airin singkat
“Kamu bimbingan dengan
Pak Anwar juga ya?” tanya Raka dengan singkat.
“Eem..iya.”
“Owh, sama dong. aku juga
bimbingan sama Pak Anwar.” ujar Raka dengan ramah
“Owh…” sahut Airin.
"Raka terpanah melihat
tingkah Airin yang begitu cuek."
“By the way, namamu siapa?” tanya Raka kembali.
“Aku Airin.” Kalau kamu
siapa?” ujar Airin yang berpura˗pura tidak tahu.
“Raka.” Raka pun
tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Airin.
Berkali˗kali Airin
masih tak mempercayai bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya. Setelah
sebelumnya Raka bersikap sok cuek dan kepedean, hari ini Airin merasa terkagum
kembali kepada Raka sang gitaris band The Rioz.
“Sungguh ini diluar
dugaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya” ujar Airin dalam hatinya.
Satu jam
berbincang˗bincang dengan Raka membuat rasa bosan Airin menghilang. Akhirnya, Pak
Anwar pun tiba. Beliau mengenakan batik panjang berwarna biru cerah dengan
rambut yang tertata rapi ditambah sedikit senyum manis yang terkadang
mengalihkan pandangan mahasiswa. sikap tegasnya terkadang membuat Airin menangis,
beliau merupakan salah satu Dosen yang paling teliti untuk membimbing mahasiswanya
dalam menyelesaikan skripsi.
Setelah secara
bergantian mengantri untuk melakukan bimbingan dengan Pak Anwar. Akhirnya jam
bimbingan pun telah usai. Airin dan Raka pun berpisah disana.. Tiba˗tiba dari
jarak yang berjauhan Raka lari˗larian memanggil nama Airin.
“Airiiiiiiinn…..Airinn,
Hey tunggu dulu!!” ujar Raka memanggil Airin sambil berlari kearah tempat Airin
berhenti.
“Iya, kenapa?” jawab
Airin singkat
“By
the way boleh nggak aku minta Id Line
mu?” tanya Raka kepada Airin.
“Emangnya untuk apa?” tanya
Airin kembali
“Jadi gini…….”
Setelah perbincangan singkat
ditengah kampus tersebut akhirnya Raka mendapatkan Id Line Airin dan Airin pun tahu Id
Line Raka si artis pensi itu.
“Aku tak pernah
menyangka bahwa Raka akan seramah ini kepadaku. Meski dulunya aku sempat
berpikir bahwa dia bukanlah cowok yang baik terhadap fans dan orang˗orang
disekitarnya, ternyata tafsiranku terhadap dirinya selama ini salah” pikir Airin.
***
Semenjak pertukeran Id Line di kampus beberapa hari yang
lalu, akhirnya Airin dan Raka sering chattingan
disela˗sela kesibukan mereka masing˗masing.
“Hallo,, Rin. Kamu lagi apa?” Tanya Raka
“Lagi revisi aja nih.
Emangnya kamu lagi ngapain? Pasti lagi manggung ya? tanya Airin kembali kepada
Raka
“Hahaha….nggak lah. Aku
lagi ngejam aja sama The Rhioz.”
“Owh,,,gitu.” jawab
Airin singkat
“Yaudah kalau kamu lagi
sibuk, lanjutin aja revisinya. Maaf ya aku ganggu.” Jawab Raka menutupi obrolan
malam itu.
“Perbincangan yang sering
mereka lakukan melalui Line membuat Airin
menjadi tak keruan. Ia sering senyum˗senyum sendiri sambil menatapi layar handphone˗nya dan berharap semoga Raka
akan segera mengirimkan stiker lucu untuknya.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.