Minggu, 02 Oktober 2016

Kepincut Hati Sang Gitaris





The Rhioz adalah band pensi yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang pemuda ganteng yang terdiri dari Dani (Vocalist), Dika (Drum), Al (Bassis) dan Raka (Gitaris). Mereka berempat berasal dari satu jurusan yang sama dan berasal dari keluarga yang berada. Meski, semuanya berasal dari keluarga yang berada tetapi sifat rendah hatinya selalu saja menjadi hal utama yang dikagumi oleh para fansnya.
“Rin nonton The Rhioz yuk?” ajak Nia sambil menarik tangan Airin.
“Nggak ah, aku lagi males nonton.” jawab Airin dengan raut wajah yang datar.
“Lho, kenapa? Bukannya kamu suka band?” tanya Nia kembali.
“Niaaaa,, aku lagi males nonton. Aku masih kepikiran sama skripsiku yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar Airin datar.
“Ya ampun, Rin. Justru dengan menonton The Rhioz hati kamu akan sedikit terhibur. Jadi, setelah pulang dari nonton The Rhioz kamu nggak akan kepikiran terus˗terusan dengan skripsi yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar Nia kepada Airin
“Yuukkk!!” Ajak Nia tanpa mendengarkan kembali jawaban dari Airin.
Tanpa membuang banyak waktu Nia menarik tangan Airin untuk ikut pergi bersamanya menonton penampilan The Rhioz sore itu. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama 10 menit mereka sampai di café tempat The Rhioz manggung. Suara teriakan para penonton semakin terdengar begitu jelas dari halaman parkiran yang tak begitu jauh dari pintu masuk menuju café. Gemerlap lampu yang menerangi ruangan semakin terlihat begitu indah, disertai dengan alunan music yang begitu merdu yang dimainkan oleh band The Rhioz.
Penampilan The Rhioz sungguh membuat Airin kagum. Mereka tampil dengan sangat sempurna disertai aksi panggung yang menawan sehingga para penonton merasa puas dan terhibur dengan penampilan The Rhioz sore itu. Sepanjang penampilan The Rhioz, Airin hanya bisa berdecak kagum memandangi satu persatu penampilan dari masing˗masing anggotanya. Ternyata, mereka sungguh mempesona. Mata dan telinga Airin dimanjakan dengan alunan lagu dan penampilan keren yang dimainkan oleh The Rhioz.  
“Wow,,,ternyata mereka benar˗benar mengaggumkan.” ujar Airin dalam hatinya.
Sorakan dari para penonton membuat suasana café semakin ramai didatangi oleh para anak muda. Tak hanya kaum hawa tapi kaum adam pun sangat menikmati penampilan yang disuguhi oleh band The Rhioz. Mereka tak takut untuk berjubelan diantara para penonton yang lainnya, itu semua dikarenakan mereka sangat menikmati aksi panggung band pensi yang saat ini sedang hangat menjadi perbincangan anak muda.
Semua orang bersorak bergembira, tak lupa pula teriakan penonton yang memanggil nama masing˗masing personil band The Rhioz semakin membuat suasana terasa lebih ramai. Mereka selalu melemparkan senyum manisnya kepada setiap penonton yang memanggil namanya. Penampilan keempat aksi cowok ganteng dari personil The Rhioz sungguh mampu membius suasana café sore itu menjadi lebih meriah.
“Hey,,,Rin!! Kenapa kamu diam membisu tanpa satu kata pun?” ujar Nia sambil menepuk pundak Airin.
“Hah!! Aku baik-baik saja kok.” sahut Airin.
“Aah,,,bohooonng!! Pasti kamu mulai suka kan dengan penampilan The Rhioz? Ya,,iyalah The Rhioz itu band pensi paling ngetop di kota kita. Bahkan di kampus kita aja nama band The Rhioz sudah sangat populer, makanya jadi orang tuh jangan kuper kuper amat  dong Rin.” ujar Nia meledek Airin
“Niiiiaaaaaaa…. Kamu ini cuma tahu nya tentang band The Rhioz aja. Emang kamu nggak mikirin tugas skripsimu yang masih ditolak dosen.” Sahut Airin dengan nada yang keras.
“Yaelaaaaah…!!! Bisa nggak sih, Rin satu hari aja tanpa mikirin skripsi.” Nia pun bergegas pergi meninggalkan Airin dan mulai menikmati kembali alunan lagu yang disuguhi oleh The Rhioz.
***
Keesokan harinya, tanpa disengaja Airin bertemu dengan Raka sang gitaris band The Rhioz di koridor kampus. Raka yang memiliki senyum manis, dan mempunyai postur badan besar dan tinggi serta mempunyai fans yang lebih banyak dibandingkan personil The Rhioz yang lainnya mampu membuat Airin jadi salah tingkah. Airin merasa malu ketika Raka berjalan menuju kearahnya. Karena rasa malu yang dimilikinya, Airin pun mencoba beralih kearah kantin agar tidak berpapasan secara langsung dengan Raka sang gitaris manis itu.
Setelah beberapa menit Raka pun berlalu dari arahnya.
“Huuu,,,legah!! Akhirnya ia tak mengarah kesini. Bisa salting gue kalau ketemu dengan dia secara langsung.” ujar Airin sambil menghembuskan nafasnya.
Airin pun mulai melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Pak Anwar yaitu Dosen Pembimbing skripsinya. Airin terus berjalan dengan gaya cuek yang telah menjadi ciri khas dirinya, tanpa melihat orang˗orang disekelilingnya Airin terus berjalan lurus menuju ruangan Pak Anwar.
 Setibanya sampai di depan ruang tunggu Pak Anwar. Airin pun dikagetkan dengan sosok laki˗laki bertubuh besar dan tinggi yang sedang duduk dipojokan di ruang tunggu  Pak Anwar. Ternyata, laki˗laki itu adalah Raka. Sosok laki˗laki yang mampu membuat dirinya menjadi salah tingkah dan gugup.
Di ruang tunggu Dosen, Airin terdiam bagaikan patung yang tak bisa bergerak, dan bicara. Tak henti˗hentinya Airin memainkan handphone genggamnya sambil sesekali memandangi Raka yang saat itu sedang membaca buku, duduk disebelahnya.
“Wah,,,ternyata nih cowok keren juga ya. Aku kira kerjaannya cuma bisa main gitar doang, ternyata dia juga suka membaca!” Pikir Airin.
Lamunan Airin terlalu dalam, sehingga ketika Raka mengarahkan pandangannya kearah Airin, Airin pun kaget dan kebingungan.
“Loe lihatin gue ya? Kenapa? Apa ada yang aneh dari muka gue?” Ujar Raka
“Enggaaaakk kok. Gue nggak lihatin loe. Dasar loe˗nya aja yang kepedean.” Ujar Airin dengan raut wajah yang datar.
“Oh,,,gitu!!!’” Sahut Raka dengan singkat
Raka pun tak menghiraukan Airin, ia masih asyik dengan buku bacaannya dan terus membaca hingga Pak Anwar tiba di ruangannya. Tak lama kemudian Pak Anwar pun tiba diruangannya. Beliau mengenakan kemeja putih polos dengan tatanan rambut yang rapi. Beliau tersenyum kepada seluruh mahasiswanya yang saat itu telah datang duluan untuk melakukan bimbingan skripsi dengannya.
Setelah secara bergiliran mengantri satu per satu masuk keruangan Pak Anwar, bimbingan pun usai. Airin dan Raka pun berpisah selayaknya orang biasa yang tak saling mengenal.
***
“Hey,, kamu dimana? Tumben batang hidungmu belum kelihatan jam segini?” ujar Airin melalui pesan singkat yang ia kirimkan untuk Nia.
“Masih di bus nih. Kenapa? Kamu udah kangen ya sama aku? Ledek Nia dipesan singkat yang ia kirimkan untuk Airin.
“Buruan deh kesini. Aku udah di kampus dari 35 menit yang lalu” Jawab Airin kembali dengan nada memaksa Nia agar segera tiba.
“Iya…iya sabaarr. Bentar lagi aku sampai kok.”
Beberapa menit kemudian, Nia pun tiba dikampus.
“Woy,,,,benggong aja loe” Teriak Nia tepat ditelinga Airin.
“Aahh loe ngagetin gue aja.” Airin pun terkejut
By the way, aku mau cerita nih, tapi kamu harus janji ya jangan bilang ke siapa˗siapa.” Sahut Airin dengan wajah yang serius.
“Oke, aku janji.” Ujar Nia mengulurkan jari kelingkingnya.
“Jadi gini ceritanya…..”
‘’APAAAA….? Loe serius Rin? Loe nggak bohongi gue kan tentang cerita yang barusan loe ceritain?” Jawab Nia yang masih tak mempercayai hal itu.
“Yaelah,, sejak kapan gue sering bohongin loe. Emang loe nggak lihat muka gue sudah serius begini!!” Ujar Airin dengan kesal.
“Heheh,,,maaf deh kalau gitu. Soalnya aku masih nggak percaya aja nih sama cerita kamu. By the way, jadi apa nih yang kamu rasakan setelah duduk bersebelahan dengan Raka? Apakah Raka semanis dan seganteng ketika ia sedang memainkan gitarnya? Ayooo dong Rin ceritain ke gue.” ujar Nia yang tak henti˗hentinya mencerocos.
“Pertanyaan loe banyak baget sih, pusing gue dengernya. Mending loe lihat sendiri tuh idola loe.” sahut Airin dengan kesal.
Karena tak sanggup mendengarkan celotehan Nia, Airin pun pergi meninggalkan Nia yang tak henti˗hentinya menanyakan tentang Raka sang cowok idolanya. Airin berjalan sendirian menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan. Ia membeli semangkok bakso dan es teh manis sebagai menu favorite˗nya. Tak lama kemudian Raka dan teman˗teman The Rhioz tiba di kantin tempat Airin sedang menyantap baksonya. Rasa jengkel Airin terhadap Raka masih saja menyelimuti hatinya. Ia merasa bahwa Raka adalah cowok sok kepedean yang ia kenal.
***
Keesokan harinya, dengan persiapan yang matang Airin pun siap melanjutkan bimbingannya dengan Pak Anwar. Ia telah melakukan perbaikan sesuai yang Pak Anwar inginkan. Dengan penuh harapan, ia berharap semoga hari ini adalah hari terakhir baginya untuk melakukan bimbingan. Rasa percaya dirinya membuat Airin melangkah dengan berani menuju ruangan Pak anwar.
Di ruang tunggu ruangan Pak Anwar, ternyata Raka telah lebih dulu datang dibandingkan Airin. Hari ini Raka terlihat semakin ganteng dan manis dengan kemeja polosnya yang berwarna navy. Penampilannya sangat berbeda dengan penampilannya ketika ia berada di panggung.
Meskipun Raka merupakan salah satu anggota band pensi terkenal di kampus, Entah kenapa suasana ruang tunggu tetap saja terasa hening, Semua mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada satu pun orang yang meminta foto dengan Raka meskipun ketika ia selesai performance bersama teman bandnya biasanya Raka kebanjiran fans yang meminta foto bersama dirinya, hal itu membuat Airin merasa aneh.
Ditengah˗tengah lamunannya, tanpa ia sadari ternyata Raka pun mencoba mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana hening siang itu.
“Hai..” sapa Raka
“Hai,,” jawab Airin singkat
“Kamu bimbingan dengan Pak Anwar juga ya?” tanya Raka dengan singkat.
“Eem..iya.”
“Owh, sama dong. aku juga bimbingan sama Pak Anwar.” ujar Raka dengan ramah
“Owh…” sahut Airin.
 "Raka terpanah melihat tingkah Airin yang begitu cuek."
By the way, namamu siapa?” tanya Raka kembali.
“Aku Airin.” Kalau kamu siapa?” ujar Airin yang berpura˗pura tidak tahu.
“Raka.” Raka pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Airin.
Berkali˗kali Airin masih tak mempercayai bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya. Setelah sebelumnya Raka bersikap sok cuek dan kepedean, hari ini Airin merasa terkagum kembali kepada Raka sang gitaris band The Rioz.
“Sungguh ini diluar dugaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya” ujar Airin dalam hatinya.
Satu jam berbincang˗bincang dengan Raka membuat rasa bosan Airin menghilang. Akhirnya, Pak Anwar pun tiba. Beliau mengenakan batik panjang berwarna biru cerah dengan rambut yang tertata rapi ditambah sedikit senyum manis yang terkadang mengalihkan pandangan mahasiswa. sikap tegasnya terkadang membuat Airin menangis, beliau merupakan salah satu Dosen yang paling teliti untuk membimbing mahasiswanya dalam menyelesaikan skripsi.
Setelah secara bergantian mengantri untuk melakukan bimbingan dengan Pak Anwar. Akhirnya jam bimbingan pun telah usai. Airin dan Raka pun berpisah disana.. Tiba˗tiba dari jarak yang berjauhan Raka lari˗larian memanggil nama Airin.
“Airiiiiiiinn…..Airinn, Hey tunggu dulu!!” ujar Raka memanggil Airin sambil berlari kearah tempat Airin berhenti.
“Iya, kenapa?” jawab Airin singkat
 By the way boleh nggak aku minta Id Line mu?” tanya Raka kepada Airin.
“Emangnya untuk apa?” tanya Airin kembali
“Jadi gini…….”
Setelah perbincangan singkat ditengah kampus tersebut akhirnya Raka mendapatkan Id Line Airin dan Airin pun tahu Id Line Raka si artis pensi itu.
“Aku tak pernah menyangka bahwa Raka akan seramah ini kepadaku. Meski dulunya aku sempat berpikir bahwa dia bukanlah cowok yang baik terhadap fans dan orang˗orang disekitarnya, ternyata tafsiranku terhadap dirinya selama ini salah”  pikir Airin.
***
Semenjak pertukeran Id Line di kampus beberapa hari yang lalu, akhirnya Airin dan Raka sering chattingan disela˗sela kesibukan mereka masing˗masing.
 “Hallo,, Rin. Kamu lagi apa?” Tanya Raka
“Lagi revisi aja nih. Emangnya kamu lagi ngapain? Pasti lagi manggung ya? tanya Airin kembali kepada Raka
“Hahaha….nggak lah. Aku lagi ngejam aja sama The Rhioz.”
“Owh,,,gitu.” jawab Airin singkat
“Yaudah kalau kamu lagi sibuk, lanjutin aja revisinya. Maaf ya aku ganggu.” Jawab Raka menutupi obrolan malam itu.
“Perbincangan yang sering mereka lakukan melalui Line membuat Airin menjadi tak keruan. Ia sering senyum˗senyum sendiri sambil menatapi layar handphone˗nya dan berharap semoga Raka akan segera mengirimkan stiker lucu untuknya.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
 Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.



















Sabtu, 02 Juli 2016

Ketakutan Raina








Di saat Allah memanggil Papaku untuk selama­-lamanya, rasanya aku tak mampu lagi untuk menjalani setiap hari­-hariku. Entah kenapa, semenjak hari itu banyak hal yang aku takuti. Aku semakin takut untuk kehilangan, dan aku semakin takut untuk menatap masa depanku  Aku merasa bahwa aku tak mampu bangkit lagi dari rasa sedih yang aku alami ini. Luka ini begitu amat dalam aku rasakan. Aku tak mampu membagikan apa yang aku rasakan, karena aku yakin tak ada satu pun orang yang paham tentang apa yang aku rasakan.
Namaku Raina, aku anak bungsu dari lima bersaudara. Semua saudaraku sangat beruntung. Mereka mempunyai kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu meneruskan pendidikan ke Universitas dengan didampingi papa dan mama. Sedangkan aku? Aku harus rela menelan pahitnya cobaan yang datang padaku.
Di usiaku yang masih sangat remaja, aku harus ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan untukku dan keluargaku. Pada Tanggal 15 September 2008, tepat dibulan Ramadan, derai air mata membasahi setiap pipi anggota keluargaku. Tangisan ini mengiringi kepergian Papa untuk selama˗lamanya. Aku tak pernah menduga bahwa kejadian ini akan terjadi begitu cepat di dalam hidupku. Aku selalu berdoa semoga keluarga kami akan selalu lengkap dengan kehadiran Papa, Mama dan keempat saudaraku yang lainnya. Tetapi, Allah berkehendak lain padaku. Ia memberikan ujian yang amat perih untuk aku rasakan, ujian itu begitu sulit untuk aku lalui.
Masih terngiang di benakku, pagi itu, aku dikagetkan dengan dering telepon rumah yang berbunyi tepat setelah azan Subuh berkumandang. Hatiku berdebar˗debar untuk mendengarkan siapa si penelepon pagi itu. Suara itu tak asing lagi di telingaku, ternyata kakak yang menelepon. Kakak memberikan kabar yang membuat aku dan keluarga menjadi panik.
“Papa kritis.” ujar Kakak memberitahu kami lewat pesan suara yang ia sampaikan.
Aku hanya terpaku membisu setelah aku mendengarkan kabar dari kakak. Aku takut, aku cemas, dan aku tak tahu harus berbuat apa setelah berita itu sampai ditelinga ku. Aku ambil jaket untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara dipagi itu, lalu aku siap˗siap untuk pergi menuju kerumah sakit tempat papaku dirawat. Sesampainya disana, aku menyiapkan semua kekuatanku untuk tidak menangis, ku pandangi wajahnya yang telah lelah dengan semua selang yang berada disekujur tubuhnya, ia tampak lelah, matanya mulai mensipit dan nafasnya mulai tersenggah˗senggah seolah tak mampu lagi untuk bertahan dengan semua peralatan medis yang berada disekitarnya. Aku hanya bisa berdoa dengan semua keadaan yang mungkin saja akan terjadi dipagi itu.
“Bu, yang sabar ya. Bapak telah pergi untuk selama˗lamanya.” ujar Dokter cantik yang merawat Papaku.
Derai air mata mulai membanjiri seisi ruangan tempat Papaku dirawat. Seluruh keluarga menangis melihat kepergian papa untuk selama˗lamanya. Aku masih tak mempercayai semua hal ini bisa terjadi secepat ini. Aku hanya bisa diam membisu disudut kamar tempat Papaku dirawat. Aku masih yakin bahwa Papa hanya tidur sebentar lalu ia akan bangun kembali. Tetapi, itu semua hanya khayalanku saja. Aku hanya bisa menangis untuk meluapkan semua emosi didalam dadaku.
“Papa,,,,Papa bangun.” ujarku sambil menggoyangkan tubuh Papa yang mulai mengkaku.
“Raina,,,kamu harus ikhlas, sekarang Papa sudah pergi untuk selama˗lamanya dari kita.” ujar Mama yang mencoba untuk menenangkan jiwaku.”
“Aku yakin papa masih bisa bertahan, Ma!! Aku yakin Papa pasti kuat.”
“Mama memeluk ku begitu erat untuk menenangkan jiwa dan perasaanku setelah melihat kepergian Papa.”
Aku masih tak mempercayai semua ini akan terjadi begitu cepat didalam hidupku. Hatiku sakit ketika aku harus melihat orang yang aku sayangi pergi. Papa adalah sosok lelaki yang paling gagah didalam keluargaku. Kini, ia terpaku membisu dengan kain yang menutupi sekujur tubuhnya. Ia tertidur dengan pulas dengan senyuman khas miliknya. Ia terlihat sangat bahagia ketika rasa sakit yang ia rasakan kini tak akan pernah lagi ia rasakan.
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju kerumah, air mata ini terus mengalir tak henti˗hentinya. Ini semua bagaikan mimpi buruk yang harus aku lalui. Aku masih tak mempercayai bahwa hal ini benar˗benar terjadi di dalam hidupku, bendera kuning yang berkibar didepan rumahku membuat hatiku semakin tersakiti.
“Kenapa harus aku Fina yang mengalami kejadian terpahit ini?” ujarku kepada Fina teman sekelasku.
“Aku masih membutuhkan Papa untuk selalu ada didekat ku. keberadaannya begitu penting untukku. Tanpanya aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya seperti apa. Ya Allah, sungguh sulit cobaan ini untuk aku lalui.” gerutuku kembali sembari memandangi wajah papa untuk terakhir kalinya.
 “Sabar ya Raina, ini semua adalah ujian dari Allah.” ujar Fina, yang saat itu datang melayat kerumahku.
“Aku hanya bisa menganggukan kepalaku sambil sesekali menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku tak mampu memperlihatkan wajah sedihku di depan teman˗temanku yang sedang melayat kerumahku.”
Kini, aku harus siap menjadi seorang anak yatim. Meski aku tak tahu seberapa sulitnya menjalani hari˗hari sebagai anak yatim tapi aku percaya bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk sukses meski tanpa didampingi sosok Papa disampingku lagi.
Semenjak hari itu terjadi, satu per satu rasa takutku muncul dari dalam diriku. Aku takut bila nanti aku tak bisa melanjutkan kuliah, aku takut tak bisa membahagiakan Papa dan Mama, dan aku takut bila aku tak bisa menjadi anak yang sukses untuk Papa. Semua hal itu selalu saja menghantui perasaanku. Aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya akan menuju kemana semenjak kepergian Papa dari hidupku. Hidupku bagaikan deburan ombak yang selalu terombang˗ambing tak jelas selayaknya gelombang datang menghempaskan pantai.
Hari demi hari telah aku lalui tanpa kehadiran Papa. Tak terasa kini sudah  tahun kedua Papa meninggalkanku. Masa˗masa pahit yang pernah aku lalui dulu masih membekas didalam hati. Meski kejadian itu telah terjadi dua tahun yang lalu, tapi tak ada sedikit pun kenangan yang tecipta antara aku dan Papa hilang memudar begitu saja dari hatiku. Papa masih tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sosoknya masih akan selalu hidup dalam jiwaku, darahnya masih akan selalu mengalir didalam darahku. Begitu kentalnya perasaan ini untuknya hingga saat ini aku masih tetap merindukan dirinya.
Sore itu, bumi dibasahi dengan turunnya hujan yang begitu deras. Udara yang sejuk serta tiupan angin yang begitu syahdu membuat suasana bersantai aku dan mama terasa begitu nyaman. Meski tanpa kehadiran papa, tapi aku bersyukur setidaknya aku masih mempunyai mama yang selalu setia mendampingku.
“Ma,, hari ini tepat dua tahun kepergian papa ya?” tanyaku
“Iya, dek. Waktu berlalu begitu cepat ya dek.” jawab Mama.
“Iya, Ma. Aku juga baru sadar ternyata aku bisa sekuat ini melalui setiap cobaan yang datang padaku. Meski awalnya aku sempat meragukan diriku sendiri, tapi berkat support dari Mama, dan keempat kakak akhirnya aku mampu bangkit dari keterpurukan ku setelah kepergian Papa.”
“Sedih itu adalah hal yang wajar, tapi kalau kamu sedihnya berlarut˗larut pasti papa disana akan lebih sedih lagi melihat kamu disini. Jadi, untuk menjadi anak yang hebat kamu harus buktikan ke Papa kalau kamu mampu berdiri menjadi anak yang lebih kuat, tegar, mandiri dan bertanggung jawab.” ujar Mama menasehatiku.
“Setelah tamat sekolah nanti, kamu mau melanjutkan kuliah kemana, dek?” tanya Mama kepadaku.
“Aku masih ragu, Ma. Aku belum yakin apa aku masih bisa melanjutkan pendidikan tanpa bantuan dari papa? Mengandalkan uang pensiunan dari Papa rasanya belum cukup untuk membiayai semua keperluan kuliah ku, apalagi saat ini biaya kuliah semakin  mahal. Aku takut kalau nantinya aku merepotkan mama.” Jawabku.
“Papa kerja selama ini untuk menyekolahkan kalian semua sampai kejenjang yang lebih tinggi, mama selama ini berhemat untuk menabung menyiapkan semua keperluan kamu dan keempat saudaramu kuliah. Bagi kami, pendidikan adalah hal utama sebagai bekal kamu dewasa nanti. Dengan pendidikan kamu mampu bersaing untuk menaklukan dunia. Jadi, jangan pernah berpikir setelah Papa pergi kamu tidak bisa kuliah. Karena sebelum Papa pergi Papa dan keempat saudaramu telah tolong menolong untuk menyiapkan semua kebutuhan kuliahmu.” ujar Mama kepadaku.
Selama ini aku selalu saja ditakuti dengan perasaan itu. aku takut bahwa aku tak mampu menjadi anak yang berguna untuk Papa dan Mama. Hingga akhirnya aku selalu berpikiran pesimis sebelum aku menjalani hari˗hariku selanjutnya. Tanpa aku ketahui, ternyata dari dulu Papa selalu memperjuangkan kelima anaknya untuk bisa menginjak bangku sekolahan yang lebih tinggi hingga akhirnya ketika Papa telah tiada, Papa bisa tenang pergi meninggalkan kami dengan bekal akhlak dan ilmu yang telah Papa tinggalkan.
Selepas perpisahan sekolah, hari baru pun telah siap menanti kehadiranku. Aku siap untuk melangkah lebih maju seperti yang Papa harapkan. Aku mantapkan langkah kaki ku untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk ke Universitas Swasta di kota Palembang. Kulalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya aku dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswi baru angkatan 2010 yang mengambil jurusan pendidikan akuntansi.
Palembang merupakan ibu kota dari Sumatra Selatan. Kotanya cukup asing untukku. Apalagi selama ini aku tinggal di kota kecil yaitu kota Sekayu yang harus menempuh perjalanan ± 3,5 jam dari Sekayu ke Palembang. Kotanya sangat besar, hampir sebagian orang dari daerah terpencil merantau ke kota Palembang untuk bekerja bahkan untuk melanjutkan pendidikannya, salah satunya adalah aku. Meski tante dan om tinggal di kota Palembang tapi aku tidak ingin merepotkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal sendiri disebuah kontrakan yang tak jauh dari lokasi kampusku. Awal mulanya aku takut tak sanggup untuk tinggal sendirian di kota yang sebesar ini sebagai anak kosan, aku belum terbiasa hidup jauh dari Mama. Tapi semenjak Papa telah tiada, semua rasa ketakutanku harus dilawan agar aku mampu hidup mandiri tanpa harus berlindung dibawah bayang˗bayang keluargaku lagi. Akhirnya aku memulai menjalani hari˗hariku dengan sendirian seperti yang Papa dan Mama inginkan.
Di kontrakan yang sederhana ini aku memulainya dari awal. Aku mulai membiasakan diriku dengan kehidupan baru yang aku jalani sekarang. Aku mulai menikmati hari-hariku sebagai mahasiswi jurusan akuntansi, aku menikmati indahnya masa-masa kuliah, aku menikmati setiap perputaran waktu yang begitu cepatnya berputar hingga tanpa kusadari kini aku mulai terbiasa hidup mandiri tanpa didampingi Papa dan Mama lagi.
Hampir Tiga tahun menjalani kehidupan sebagai anak kosan yang tinggal di kota orang, bukanlah hal yang mudah untuk aku jalani. Hal yang dulunya aku takuti kini hilang seketika. Itu semua berkat support yang selalu Mama berikan untukku. Aku tak pernah lupa dengan semua nasihat yang Mama berikan untukku. Seperti yang diharapkan Papa dan Mama, aku harus menjadi anak yang sukses agar kelak aku bisa membuat Papa dan Mama bangga terhadapku. Ku mantapkan langkah kaki ku untuk melangkah meraih impianku. Aku lalui hari demi hari, ku lewati tahun demi tahun hingga akhirnya setelah beberapa tahun aku menjalani masa kuliahku, dipenghujung tahun 2014 aku telah siap untuk diwisuda.
Tanggal 24 Desember 2014 akan menjadi tanggal yang bersejarah untukku. Ditanggal itu, aku akan resmi menyandang gelar dibelakang namaku selain itu aku akan resmi dinyatakan lulus dari universitas tempatku menimba ilmu. Meski wisuda ini tak dihadiri oleh Papa dan keempat saudaraku yang lainnya, tetapi aku selalu yakin bahwa doa mereka selalu menghantarkanku menuju hari baruku. Jubah hitam dan kucir yang berpindah kesebelah kanan membuat perasaanku semakin bahagia, apalagi dengan kehadiran Mama, Tante dan Om yang datang dihari spesialku membuat hariku semakin terasa berkesan dengan doa yang selalu mereka berikan hingga akhirnya menghantarkanku sampai kesini. Aku lulus dengan nilai IPK yang sangat memuaskan. Kebahagiaan ini semoga dapat Papa rasakan dari jarak yang berjauhan. Kini, kelima anak Papa telah menjadi sarjana, foto wisuda seperti yang papa impikan kini sudah terpasang rapi didinding ruangan keluarga tempat biasanya kita bercengkeraman bersama.



My Sweetheart

Pagi itu, hujan menyambut kehadiranmu Sembilan bulan yang ku nantikan dulu Kini berakhir sudah Tangisan merdu dari bibir mungilmu membuat...