Di saat Allah memanggil
Papaku untuk selama-lamanya, rasanya aku tak mampu lagi untuk menjalani setiap
hari-hariku. Entah kenapa, semenjak hari itu banyak hal yang aku takuti. Aku
semakin takut untuk kehilangan, dan aku semakin takut untuk menatap masa
depanku Aku merasa bahwa aku tak mampu
bangkit lagi dari rasa sedih yang aku alami ini. Luka ini begitu amat dalam aku
rasakan. Aku tak mampu membagikan apa yang aku rasakan, karena aku yakin tak
ada satu pun orang yang paham tentang apa yang aku rasakan.
Namaku Raina, aku anak
bungsu dari lima bersaudara. Semua saudaraku sangat beruntung. Mereka mempunyai
kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu
meneruskan pendidikan ke Universitas dengan didampingi papa dan mama. Sedangkan
aku? Aku harus rela menelan pahitnya cobaan yang datang padaku.
Di usiaku yang masih
sangat remaja, aku harus ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan
untukku dan keluargaku. Pada Tanggal 15 September 2008, tepat dibulan Ramadan,
derai air mata membasahi setiap pipi anggota keluargaku. Tangisan ini
mengiringi kepergian Papa untuk selama˗lamanya. Aku tak pernah menduga bahwa
kejadian ini akan terjadi begitu cepat di dalam hidupku. Aku selalu berdoa
semoga keluarga kami akan selalu lengkap dengan kehadiran Papa, Mama dan
keempat saudaraku yang lainnya. Tetapi, Allah berkehendak lain padaku. Ia
memberikan ujian yang amat perih untuk aku rasakan, ujian itu begitu sulit
untuk aku lalui.
Masih terngiang di benakku,
pagi itu, aku dikagetkan dengan dering telepon rumah yang berbunyi tepat
setelah azan Subuh berkumandang. Hatiku berdebar˗debar untuk mendengarkan siapa
si penelepon pagi itu. Suara itu tak asing lagi di telingaku, ternyata kakak
yang menelepon. Kakak memberikan kabar yang membuat aku dan keluarga menjadi
panik.
“Papa kritis.” ujar Kakak
memberitahu kami lewat pesan suara yang ia sampaikan.
Aku hanya terpaku
membisu setelah aku mendengarkan kabar dari kakak. Aku takut, aku cemas, dan
aku tak tahu harus berbuat apa setelah berita itu sampai ditelinga ku. Aku ambil
jaket untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara dipagi itu, lalu aku siap˗siap
untuk pergi menuju kerumah sakit tempat papaku dirawat. Sesampainya disana, aku
menyiapkan semua kekuatanku untuk tidak menangis, ku pandangi wajahnya yang
telah lelah dengan semua selang yang berada disekujur tubuhnya, ia tampak
lelah, matanya mulai mensipit dan nafasnya mulai tersenggah˗senggah seolah tak
mampu lagi untuk bertahan dengan semua peralatan medis yang berada
disekitarnya. Aku hanya bisa berdoa dengan semua keadaan yang mungkin saja akan
terjadi dipagi itu.
“Bu, yang sabar ya.
Bapak telah pergi untuk selama˗lamanya.” ujar Dokter cantik yang merawat Papaku.
Derai air mata mulai
membanjiri seisi ruangan tempat Papaku dirawat. Seluruh keluarga menangis
melihat kepergian papa untuk selama˗lamanya. Aku masih tak mempercayai semua
hal ini bisa terjadi secepat ini. Aku hanya bisa diam membisu disudut kamar
tempat Papaku dirawat. Aku masih yakin bahwa Papa hanya tidur sebentar lalu ia
akan bangun kembali. Tetapi, itu semua hanya khayalanku saja. Aku hanya bisa
menangis untuk meluapkan semua emosi didalam dadaku.
“Papa,,,,Papa bangun.”
ujarku sambil menggoyangkan tubuh Papa yang mulai mengkaku.
“Raina,,,kamu harus
ikhlas, sekarang Papa sudah pergi untuk selama˗lamanya dari kita.” ujar Mama
yang mencoba untuk menenangkan jiwaku.”
“Aku yakin papa masih
bisa bertahan, Ma!! Aku yakin Papa pasti kuat.”
“Mama memeluk ku begitu
erat untuk menenangkan jiwa dan perasaanku setelah melihat kepergian Papa.”
Aku masih tak
mempercayai semua ini akan terjadi begitu cepat didalam hidupku. Hatiku sakit
ketika aku harus melihat orang yang aku sayangi pergi. Papa adalah sosok lelaki
yang paling gagah didalam keluargaku. Kini, ia terpaku membisu dengan kain yang
menutupi sekujur tubuhnya. Ia tertidur dengan pulas dengan senyuman khas
miliknya. Ia terlihat sangat bahagia ketika rasa sakit yang ia rasakan kini tak
akan pernah lagi ia rasakan.
Sepanjang perjalanan
dari rumah sakit menuju kerumah, air mata ini terus mengalir tak
henti˗hentinya. Ini semua bagaikan mimpi buruk yang harus aku lalui. Aku masih
tak mempercayai bahwa hal ini benar˗benar terjadi di dalam hidupku, bendera
kuning yang berkibar didepan rumahku membuat hatiku semakin tersakiti.
“Kenapa harus aku Fina yang
mengalami kejadian terpahit ini?” ujarku kepada Fina teman sekelasku.
“Aku masih membutuhkan
Papa untuk selalu ada didekat ku. keberadaannya begitu penting untukku.
Tanpanya aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya seperti apa. Ya Allah, sungguh
sulit cobaan ini untuk aku lalui.” gerutuku kembali sembari memandangi wajah
papa untuk terakhir kalinya.
“Sabar ya Raina, ini semua adalah ujian dari Allah.”
ujar Fina, yang saat itu datang melayat kerumahku.
“Aku hanya bisa
menganggukan kepalaku sambil sesekali menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Aku tak mampu memperlihatkan wajah sedihku di depan teman˗temanku yang sedang
melayat kerumahku.”
Kini, aku harus siap
menjadi seorang anak yatim. Meski aku tak tahu seberapa sulitnya menjalani
hari˗hari sebagai anak yatim tapi aku percaya bahwa aku masih mempunyai
kesempatan untuk sukses meski tanpa didampingi sosok Papa disampingku lagi.
Semenjak hari itu
terjadi, satu per satu rasa takutku muncul dari dalam diriku. Aku takut bila
nanti aku tak bisa melanjutkan kuliah, aku takut tak bisa membahagiakan Papa
dan Mama, dan aku takut bila aku tak bisa menjadi anak yang sukses untuk Papa.
Semua hal itu selalu saja menghantui perasaanku. Aku tak tahu jalan hidupku
selanjutnya akan menuju kemana semenjak kepergian Papa dari hidupku. Hidupku
bagaikan deburan ombak yang selalu terombang˗ambing tak jelas selayaknya gelombang
datang menghempaskan pantai.
Hari demi hari telah
aku lalui tanpa kehadiran Papa. Tak terasa kini sudah tahun kedua Papa meninggalkanku. Masa˗masa
pahit yang pernah aku lalui dulu masih membekas didalam hati. Meski kejadian
itu telah terjadi dua tahun yang lalu, tapi tak ada sedikit pun kenangan yang
tecipta antara aku dan Papa hilang memudar begitu saja dari hatiku. Papa masih
tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sosoknya masih akan selalu hidup
dalam jiwaku, darahnya masih akan selalu mengalir didalam darahku. Begitu
kentalnya perasaan ini untuknya hingga saat ini aku masih tetap merindukan
dirinya.
Sore itu, bumi dibasahi
dengan turunnya hujan yang begitu deras. Udara yang sejuk serta tiupan angin
yang begitu syahdu membuat suasana bersantai aku dan mama terasa begitu nyaman.
Meski tanpa kehadiran papa, tapi aku bersyukur setidaknya aku masih mempunyai
mama yang selalu setia mendampingku.
“Ma,, hari ini tepat
dua tahun kepergian papa ya?” tanyaku
“Iya, dek. Waktu
berlalu begitu cepat ya dek.” jawab Mama.
“Iya, Ma. Aku juga baru
sadar ternyata aku bisa sekuat ini melalui setiap cobaan yang datang padaku.
Meski awalnya aku sempat meragukan diriku sendiri, tapi berkat support dari Mama, dan keempat kakak
akhirnya aku mampu bangkit dari keterpurukan ku setelah kepergian Papa.”
“Sedih itu adalah hal
yang wajar, tapi kalau kamu sedihnya berlarut˗larut pasti papa disana akan
lebih sedih lagi melihat kamu disini. Jadi, untuk menjadi anak yang hebat kamu
harus buktikan ke Papa kalau kamu mampu berdiri menjadi anak yang lebih kuat,
tegar, mandiri dan bertanggung jawab.” ujar Mama menasehatiku.
“Setelah tamat sekolah
nanti, kamu mau melanjutkan kuliah kemana, dek?” tanya Mama kepadaku.
“Aku masih ragu, Ma.
Aku belum yakin apa aku masih bisa melanjutkan pendidikan tanpa bantuan dari
papa? Mengandalkan uang pensiunan dari Papa rasanya belum cukup untuk membiayai
semua keperluan kuliah ku, apalagi saat ini biaya kuliah semakin mahal. Aku takut kalau nantinya aku
merepotkan mama.” Jawabku.
“Papa kerja selama ini
untuk menyekolahkan kalian semua sampai kejenjang yang lebih tinggi, mama
selama ini berhemat untuk menabung menyiapkan semua keperluan kamu dan keempat
saudaramu kuliah. Bagi kami, pendidikan adalah hal utama sebagai bekal kamu
dewasa nanti. Dengan pendidikan kamu mampu bersaing untuk menaklukan dunia.
Jadi, jangan pernah berpikir setelah Papa pergi kamu tidak bisa kuliah. Karena
sebelum Papa pergi Papa dan keempat saudaramu telah tolong menolong untuk
menyiapkan semua kebutuhan kuliahmu.” ujar Mama kepadaku.
Selama ini aku selalu
saja ditakuti dengan perasaan itu. aku takut bahwa aku tak mampu menjadi anak
yang berguna untuk Papa dan Mama. Hingga akhirnya aku selalu berpikiran pesimis
sebelum aku menjalani hari˗hariku selanjutnya. Tanpa aku ketahui, ternyata dari
dulu Papa selalu memperjuangkan kelima anaknya untuk bisa menginjak bangku
sekolahan yang lebih tinggi hingga akhirnya ketika Papa telah tiada, Papa bisa
tenang pergi meninggalkan kami dengan bekal akhlak dan ilmu yang telah Papa
tinggalkan.
Selepas perpisahan
sekolah, hari baru pun telah siap menanti kehadiranku. Aku siap untuk melangkah
lebih maju seperti yang Papa harapkan. Aku mantapkan langkah kaki ku untuk
meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk ke Universitas
Swasta di kota Palembang. Kulalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya aku
dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswi baru angkatan 2010 yang mengambil
jurusan pendidikan akuntansi.
Palembang merupakan ibu
kota dari Sumatra Selatan. Kotanya cukup asing untukku. Apalagi selama ini aku
tinggal di kota kecil yaitu kota Sekayu yang harus menempuh perjalanan ± 3,5
jam dari Sekayu ke Palembang. Kotanya sangat besar, hampir sebagian orang dari
daerah terpencil merantau ke kota Palembang untuk bekerja bahkan untuk
melanjutkan pendidikannya, salah satunya adalah aku. Meski tante dan om tinggal
di kota Palembang tapi aku tidak ingin merepotkannya. Akhirnya aku memutuskan
untuk tinggal sendiri disebuah kontrakan yang tak jauh dari lokasi kampusku.
Awal mulanya aku takut tak sanggup untuk tinggal sendirian di kota yang sebesar
ini sebagai anak kosan, aku belum terbiasa hidup jauh dari Mama. Tapi semenjak
Papa telah tiada, semua rasa ketakutanku harus dilawan agar aku mampu hidup
mandiri tanpa harus berlindung dibawah bayang˗bayang keluargaku lagi. Akhirnya
aku memulai menjalani hari˗hariku dengan sendirian seperti yang Papa dan Mama
inginkan.
Di kontrakan yang
sederhana ini aku memulainya dari awal. Aku mulai membiasakan diriku dengan
kehidupan baru yang aku jalani sekarang. Aku mulai menikmati hari-hariku
sebagai mahasiswi jurusan akuntansi, aku menikmati indahnya masa-masa kuliah,
aku menikmati setiap perputaran waktu yang begitu cepatnya berputar hingga
tanpa kusadari kini aku mulai terbiasa hidup mandiri tanpa didampingi Papa dan
Mama lagi.
Hampir Tiga tahun menjalani
kehidupan sebagai anak kosan yang tinggal di kota orang, bukanlah hal yang
mudah untuk aku jalani. Hal yang dulunya aku takuti kini hilang seketika. Itu
semua berkat support yang selalu Mama
berikan untukku. Aku tak pernah lupa dengan semua nasihat yang Mama berikan
untukku. Seperti yang diharapkan Papa dan Mama, aku harus menjadi anak yang
sukses agar kelak aku bisa membuat Papa dan Mama bangga terhadapku. Ku
mantapkan langkah kaki ku untuk melangkah meraih impianku. Aku lalui hari demi
hari, ku lewati tahun demi tahun hingga akhirnya setelah beberapa tahun aku
menjalani masa kuliahku, dipenghujung tahun 2014 aku telah siap untuk diwisuda.
Tanggal 24 Desember
2014 akan menjadi tanggal yang bersejarah untukku. Ditanggal itu, aku akan
resmi menyandang gelar dibelakang namaku selain itu aku akan resmi dinyatakan
lulus dari universitas tempatku menimba ilmu. Meski wisuda ini tak dihadiri
oleh Papa dan keempat saudaraku yang lainnya, tetapi aku selalu yakin bahwa doa
mereka selalu menghantarkanku menuju hari baruku. Jubah hitam dan kucir yang
berpindah kesebelah kanan membuat perasaanku semakin bahagia, apalagi dengan
kehadiran Mama, Tante dan Om yang datang dihari spesialku membuat hariku semakin
terasa berkesan dengan doa yang selalu mereka berikan hingga akhirnya
menghantarkanku sampai kesini. Aku lulus dengan nilai IPK yang sangat
memuaskan. Kebahagiaan ini semoga dapat Papa rasakan dari jarak yang berjauhan.
Kini, kelima anak Papa telah menjadi sarjana, foto wisuda seperti yang papa
impikan kini sudah terpasang rapi didinding ruangan keluarga tempat biasanya
kita bercengkeraman bersama.