Sabtu, 02 Juli 2016

Ketakutan Raina








Di saat Allah memanggil Papaku untuk selama­-lamanya, rasanya aku tak mampu lagi untuk menjalani setiap hari­-hariku. Entah kenapa, semenjak hari itu banyak hal yang aku takuti. Aku semakin takut untuk kehilangan, dan aku semakin takut untuk menatap masa depanku  Aku merasa bahwa aku tak mampu bangkit lagi dari rasa sedih yang aku alami ini. Luka ini begitu amat dalam aku rasakan. Aku tak mampu membagikan apa yang aku rasakan, karena aku yakin tak ada satu pun orang yang paham tentang apa yang aku rasakan.
Namaku Raina, aku anak bungsu dari lima bersaudara. Semua saudaraku sangat beruntung. Mereka mempunyai kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu meneruskan pendidikan ke Universitas dengan didampingi papa dan mama. Sedangkan aku? Aku harus rela menelan pahitnya cobaan yang datang padaku.
Di usiaku yang masih sangat remaja, aku harus ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan untukku dan keluargaku. Pada Tanggal 15 September 2008, tepat dibulan Ramadan, derai air mata membasahi setiap pipi anggota keluargaku. Tangisan ini mengiringi kepergian Papa untuk selama˗lamanya. Aku tak pernah menduga bahwa kejadian ini akan terjadi begitu cepat di dalam hidupku. Aku selalu berdoa semoga keluarga kami akan selalu lengkap dengan kehadiran Papa, Mama dan keempat saudaraku yang lainnya. Tetapi, Allah berkehendak lain padaku. Ia memberikan ujian yang amat perih untuk aku rasakan, ujian itu begitu sulit untuk aku lalui.
Masih terngiang di benakku, pagi itu, aku dikagetkan dengan dering telepon rumah yang berbunyi tepat setelah azan Subuh berkumandang. Hatiku berdebar˗debar untuk mendengarkan siapa si penelepon pagi itu. Suara itu tak asing lagi di telingaku, ternyata kakak yang menelepon. Kakak memberikan kabar yang membuat aku dan keluarga menjadi panik.
“Papa kritis.” ujar Kakak memberitahu kami lewat pesan suara yang ia sampaikan.
Aku hanya terpaku membisu setelah aku mendengarkan kabar dari kakak. Aku takut, aku cemas, dan aku tak tahu harus berbuat apa setelah berita itu sampai ditelinga ku. Aku ambil jaket untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara dipagi itu, lalu aku siap˗siap untuk pergi menuju kerumah sakit tempat papaku dirawat. Sesampainya disana, aku menyiapkan semua kekuatanku untuk tidak menangis, ku pandangi wajahnya yang telah lelah dengan semua selang yang berada disekujur tubuhnya, ia tampak lelah, matanya mulai mensipit dan nafasnya mulai tersenggah˗senggah seolah tak mampu lagi untuk bertahan dengan semua peralatan medis yang berada disekitarnya. Aku hanya bisa berdoa dengan semua keadaan yang mungkin saja akan terjadi dipagi itu.
“Bu, yang sabar ya. Bapak telah pergi untuk selama˗lamanya.” ujar Dokter cantik yang merawat Papaku.
Derai air mata mulai membanjiri seisi ruangan tempat Papaku dirawat. Seluruh keluarga menangis melihat kepergian papa untuk selama˗lamanya. Aku masih tak mempercayai semua hal ini bisa terjadi secepat ini. Aku hanya bisa diam membisu disudut kamar tempat Papaku dirawat. Aku masih yakin bahwa Papa hanya tidur sebentar lalu ia akan bangun kembali. Tetapi, itu semua hanya khayalanku saja. Aku hanya bisa menangis untuk meluapkan semua emosi didalam dadaku.
“Papa,,,,Papa bangun.” ujarku sambil menggoyangkan tubuh Papa yang mulai mengkaku.
“Raina,,,kamu harus ikhlas, sekarang Papa sudah pergi untuk selama˗lamanya dari kita.” ujar Mama yang mencoba untuk menenangkan jiwaku.”
“Aku yakin papa masih bisa bertahan, Ma!! Aku yakin Papa pasti kuat.”
“Mama memeluk ku begitu erat untuk menenangkan jiwa dan perasaanku setelah melihat kepergian Papa.”
Aku masih tak mempercayai semua ini akan terjadi begitu cepat didalam hidupku. Hatiku sakit ketika aku harus melihat orang yang aku sayangi pergi. Papa adalah sosok lelaki yang paling gagah didalam keluargaku. Kini, ia terpaku membisu dengan kain yang menutupi sekujur tubuhnya. Ia tertidur dengan pulas dengan senyuman khas miliknya. Ia terlihat sangat bahagia ketika rasa sakit yang ia rasakan kini tak akan pernah lagi ia rasakan.
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju kerumah, air mata ini terus mengalir tak henti˗hentinya. Ini semua bagaikan mimpi buruk yang harus aku lalui. Aku masih tak mempercayai bahwa hal ini benar˗benar terjadi di dalam hidupku, bendera kuning yang berkibar didepan rumahku membuat hatiku semakin tersakiti.
“Kenapa harus aku Fina yang mengalami kejadian terpahit ini?” ujarku kepada Fina teman sekelasku.
“Aku masih membutuhkan Papa untuk selalu ada didekat ku. keberadaannya begitu penting untukku. Tanpanya aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya seperti apa. Ya Allah, sungguh sulit cobaan ini untuk aku lalui.” gerutuku kembali sembari memandangi wajah papa untuk terakhir kalinya.
 “Sabar ya Raina, ini semua adalah ujian dari Allah.” ujar Fina, yang saat itu datang melayat kerumahku.
“Aku hanya bisa menganggukan kepalaku sambil sesekali menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku tak mampu memperlihatkan wajah sedihku di depan teman˗temanku yang sedang melayat kerumahku.”
Kini, aku harus siap menjadi seorang anak yatim. Meski aku tak tahu seberapa sulitnya menjalani hari˗hari sebagai anak yatim tapi aku percaya bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk sukses meski tanpa didampingi sosok Papa disampingku lagi.
Semenjak hari itu terjadi, satu per satu rasa takutku muncul dari dalam diriku. Aku takut bila nanti aku tak bisa melanjutkan kuliah, aku takut tak bisa membahagiakan Papa dan Mama, dan aku takut bila aku tak bisa menjadi anak yang sukses untuk Papa. Semua hal itu selalu saja menghantui perasaanku. Aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya akan menuju kemana semenjak kepergian Papa dari hidupku. Hidupku bagaikan deburan ombak yang selalu terombang˗ambing tak jelas selayaknya gelombang datang menghempaskan pantai.
Hari demi hari telah aku lalui tanpa kehadiran Papa. Tak terasa kini sudah  tahun kedua Papa meninggalkanku. Masa˗masa pahit yang pernah aku lalui dulu masih membekas didalam hati. Meski kejadian itu telah terjadi dua tahun yang lalu, tapi tak ada sedikit pun kenangan yang tecipta antara aku dan Papa hilang memudar begitu saja dari hatiku. Papa masih tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sosoknya masih akan selalu hidup dalam jiwaku, darahnya masih akan selalu mengalir didalam darahku. Begitu kentalnya perasaan ini untuknya hingga saat ini aku masih tetap merindukan dirinya.
Sore itu, bumi dibasahi dengan turunnya hujan yang begitu deras. Udara yang sejuk serta tiupan angin yang begitu syahdu membuat suasana bersantai aku dan mama terasa begitu nyaman. Meski tanpa kehadiran papa, tapi aku bersyukur setidaknya aku masih mempunyai mama yang selalu setia mendampingku.
“Ma,, hari ini tepat dua tahun kepergian papa ya?” tanyaku
“Iya, dek. Waktu berlalu begitu cepat ya dek.” jawab Mama.
“Iya, Ma. Aku juga baru sadar ternyata aku bisa sekuat ini melalui setiap cobaan yang datang padaku. Meski awalnya aku sempat meragukan diriku sendiri, tapi berkat support dari Mama, dan keempat kakak akhirnya aku mampu bangkit dari keterpurukan ku setelah kepergian Papa.”
“Sedih itu adalah hal yang wajar, tapi kalau kamu sedihnya berlarut˗larut pasti papa disana akan lebih sedih lagi melihat kamu disini. Jadi, untuk menjadi anak yang hebat kamu harus buktikan ke Papa kalau kamu mampu berdiri menjadi anak yang lebih kuat, tegar, mandiri dan bertanggung jawab.” ujar Mama menasehatiku.
“Setelah tamat sekolah nanti, kamu mau melanjutkan kuliah kemana, dek?” tanya Mama kepadaku.
“Aku masih ragu, Ma. Aku belum yakin apa aku masih bisa melanjutkan pendidikan tanpa bantuan dari papa? Mengandalkan uang pensiunan dari Papa rasanya belum cukup untuk membiayai semua keperluan kuliah ku, apalagi saat ini biaya kuliah semakin  mahal. Aku takut kalau nantinya aku merepotkan mama.” Jawabku.
“Papa kerja selama ini untuk menyekolahkan kalian semua sampai kejenjang yang lebih tinggi, mama selama ini berhemat untuk menabung menyiapkan semua keperluan kamu dan keempat saudaramu kuliah. Bagi kami, pendidikan adalah hal utama sebagai bekal kamu dewasa nanti. Dengan pendidikan kamu mampu bersaing untuk menaklukan dunia. Jadi, jangan pernah berpikir setelah Papa pergi kamu tidak bisa kuliah. Karena sebelum Papa pergi Papa dan keempat saudaramu telah tolong menolong untuk menyiapkan semua kebutuhan kuliahmu.” ujar Mama kepadaku.
Selama ini aku selalu saja ditakuti dengan perasaan itu. aku takut bahwa aku tak mampu menjadi anak yang berguna untuk Papa dan Mama. Hingga akhirnya aku selalu berpikiran pesimis sebelum aku menjalani hari˗hariku selanjutnya. Tanpa aku ketahui, ternyata dari dulu Papa selalu memperjuangkan kelima anaknya untuk bisa menginjak bangku sekolahan yang lebih tinggi hingga akhirnya ketika Papa telah tiada, Papa bisa tenang pergi meninggalkan kami dengan bekal akhlak dan ilmu yang telah Papa tinggalkan.
Selepas perpisahan sekolah, hari baru pun telah siap menanti kehadiranku. Aku siap untuk melangkah lebih maju seperti yang Papa harapkan. Aku mantapkan langkah kaki ku untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk ke Universitas Swasta di kota Palembang. Kulalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya aku dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswi baru angkatan 2010 yang mengambil jurusan pendidikan akuntansi.
Palembang merupakan ibu kota dari Sumatra Selatan. Kotanya cukup asing untukku. Apalagi selama ini aku tinggal di kota kecil yaitu kota Sekayu yang harus menempuh perjalanan ± 3,5 jam dari Sekayu ke Palembang. Kotanya sangat besar, hampir sebagian orang dari daerah terpencil merantau ke kota Palembang untuk bekerja bahkan untuk melanjutkan pendidikannya, salah satunya adalah aku. Meski tante dan om tinggal di kota Palembang tapi aku tidak ingin merepotkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal sendiri disebuah kontrakan yang tak jauh dari lokasi kampusku. Awal mulanya aku takut tak sanggup untuk tinggal sendirian di kota yang sebesar ini sebagai anak kosan, aku belum terbiasa hidup jauh dari Mama. Tapi semenjak Papa telah tiada, semua rasa ketakutanku harus dilawan agar aku mampu hidup mandiri tanpa harus berlindung dibawah bayang˗bayang keluargaku lagi. Akhirnya aku memulai menjalani hari˗hariku dengan sendirian seperti yang Papa dan Mama inginkan.
Di kontrakan yang sederhana ini aku memulainya dari awal. Aku mulai membiasakan diriku dengan kehidupan baru yang aku jalani sekarang. Aku mulai menikmati hari-hariku sebagai mahasiswi jurusan akuntansi, aku menikmati indahnya masa-masa kuliah, aku menikmati setiap perputaran waktu yang begitu cepatnya berputar hingga tanpa kusadari kini aku mulai terbiasa hidup mandiri tanpa didampingi Papa dan Mama lagi.
Hampir Tiga tahun menjalani kehidupan sebagai anak kosan yang tinggal di kota orang, bukanlah hal yang mudah untuk aku jalani. Hal yang dulunya aku takuti kini hilang seketika. Itu semua berkat support yang selalu Mama berikan untukku. Aku tak pernah lupa dengan semua nasihat yang Mama berikan untukku. Seperti yang diharapkan Papa dan Mama, aku harus menjadi anak yang sukses agar kelak aku bisa membuat Papa dan Mama bangga terhadapku. Ku mantapkan langkah kaki ku untuk melangkah meraih impianku. Aku lalui hari demi hari, ku lewati tahun demi tahun hingga akhirnya setelah beberapa tahun aku menjalani masa kuliahku, dipenghujung tahun 2014 aku telah siap untuk diwisuda.
Tanggal 24 Desember 2014 akan menjadi tanggal yang bersejarah untukku. Ditanggal itu, aku akan resmi menyandang gelar dibelakang namaku selain itu aku akan resmi dinyatakan lulus dari universitas tempatku menimba ilmu. Meski wisuda ini tak dihadiri oleh Papa dan keempat saudaraku yang lainnya, tetapi aku selalu yakin bahwa doa mereka selalu menghantarkanku menuju hari baruku. Jubah hitam dan kucir yang berpindah kesebelah kanan membuat perasaanku semakin bahagia, apalagi dengan kehadiran Mama, Tante dan Om yang datang dihari spesialku membuat hariku semakin terasa berkesan dengan doa yang selalu mereka berikan hingga akhirnya menghantarkanku sampai kesini. Aku lulus dengan nilai IPK yang sangat memuaskan. Kebahagiaan ini semoga dapat Papa rasakan dari jarak yang berjauhan. Kini, kelima anak Papa telah menjadi sarjana, foto wisuda seperti yang papa impikan kini sudah terpasang rapi didinding ruangan keluarga tempat biasanya kita bercengkeraman bersama.



My Sweetheart

Pagi itu, hujan menyambut kehadiranmu Sembilan bulan yang ku nantikan dulu Kini berakhir sudah Tangisan merdu dari bibir mungilmu membuat...