Nama gue Bintang. cowok
terkeren, terganteng yang jago main basket. Kegantengan gue membuat semua para
wanita tergila-gila sama gue. Bahkan, sahabat gue sendiri Diki merasa iri sama
ketenaran gue disekolah.
“Hei coy, seru banget
ya pertandingan basket kemarin.” Ujar Diki
“Yoii… akhirnya piala
bergilir tetap bertahan disekolah kita dan itu semua berkat gue.” Sahut Bintang
dengan pede
“Lu itu jadi orang
jangan kepede-an deh, jelas-jelas gue yang masukin bola di last minutes.” Sahut Diki
“Tapi kalau bukan karena
operan indah gue, mana mungkin lu bisa masukin bola seindah itu.” Sahut Bintang
dengan gaya sombongnya.
“Yaudah, gimana kalau
sekarang kita tanding basket? Siapa yang kalah harus pacaran sama Mentari anak
klub Seni Rupa selama satu bulan.” Tangan Diki menunjuk kearah Mentari
“Hah….Mentari?” Lu tahu
kan Mentari cewek paling aneh sesatu sekolahan. Kalau gue kalah nanti bisa-bisa
hancur dong predikat cowok terkeren gue.” Bintang bengong menatap Mentari si
cewek aneh yang suka melukis itu
“Kenapa?? Lu takuuutttt!!!!
Yaudah gak masalah. karena kalau lu takut yang akan mendapatkan predikat cowok
terkeren di sekolah bakalan gue”. Tantang Diki
“Okay, gue terima
tantangan lu!! Lu gak akan pernah bisa merebut predikat cowok terkeren gue dari
sekolah ini. Lihat aja nanti..” Ujar Bintang dengan pede.
Pertandingan basket pun
dimulai. Bintang dan Diki mulai bertanding satu lawan satu untuk membuktikan
siapa yang menjadi cowok terkeren disekolah.
Setelah beberapa menit
melakukan pertandingan Diki berhasil memenangkan pertandingan basket dan bebas
dari tantangan untuk mendapatkan Mentari si cewek aneh itu.
“Yesss,, gue menang.”
Sorak Diki
“Curang lu?” Bintang
marah karena merasa ia tak mempercayai hal itu.
“Curang gimana, emang
ada larangan merebut bola yang belum masuk?” Jawab Diki
“Ya,, gak ada sih. Tapi…..”
Bintang pun kesal
“Yaudah, kalau lu gak
mau terima hukumannya. Gue akan ambil predikat lu sebagai cowok terkeren
disekolah ini.” Sahut Diki
“Okay..okay! gue yakin
bukan hal yang susah buat gue untuk nembak Mentari jadi pacar gue.” Ujar
Bintang dengan pede
“Yaudah, kalau begitu
buktikan sekarang dong.”
Bintang pun berlari
kearah tempat Mentari melukis..
“Mentari, lu mau gak
jadi pacar gue?” Ujar Bintang dengan spontan.
“Lu ngomong sama gue?”
Mentari kaget
“Ya,, iyalah. Nama
Mentari di sekolah ini kan cuma lu doang! Gimana mau kan jadi cewek gue??” Rayu
Bintang
“Gak mau.” Ujar Mentari
dengan singkat
“Tapi kan gue ganteng,
gue kece, gue keren, gue anak basket, siapa sih yang gak mau sama gue.. Lu
pasti mau kan sama gue?” Ujar Bintang dengan menggoda Mentari kembali.
“NGGAK.” Mentari pun pergi
meninggalkan Bintang
***
Di perjalanan pulang
Bintang pun kesel karena telah ditolak Mentari. Ia marah-marah dengan memukul
stir mobilnya. Tiba-tiba mobilnya mogok
dijalanan karena ia lupa mengisi bensin. Dengan terpaksa ia harus mendorong
mobilnya menuju pom bensin.
Mentari pun melihat ada
sosok lelaki yang sedang mendorong mobil sendirian dijalanan tempat ia biasa
pulang sekolah. Dengan rasa kasihannya akhirnya Mentari membantu lelaki
tersebut untuk mendorong mobilnya tanpa ia sadari ternyata mobil lelaki yang
mogok itu ternyata mobilnya Bintang.
“Kok jadi ringan gini
ya.” Bintang merasa aneh dan melihat kearah belakang.
“Lu..?”
“Kok lu.”
“Lu ngapain disini? Lu
ngikuti gue ya?” Tanya Bintang
“Gak, gue emang pulang
sekolah selalu lewat sini kok.” Jawab Mentari terbatah
“Tadi sok-sokan nolak
gue, sekarang bantuin gue. Oh jangan-jangan lu caper ya sama gue setelah lu
nolak gue tadi” Bintang merasa kesal melihat Mentari membantunya mendorong
mobil.
“Nggak kok. Gue gak
tahu kalau ini mobil lu. Gue hanya kasihan aja lihat orang dorong mobilnya
sendirian. Lu mau dibantuin gak. Kalau lu gak mau ya udah gue pergi nih.” Ujar
Mentari
“Ya…yaudah bantuin
gue.’’ Sahut Bintang dengan nada masih kesel
Keesokannya disekolah,
Diki menjadi pusat perhatian para wanita disekolah. Banyak sekali para wanita
yang minta foto bareng dengan Diki..
“Kayaknya ada orang
yang ditolak nih yee?” Ledek Diki
“Enak aja, gue belum
kalah ya. Kemarin itu Mentari cuma kaget lihat cowok keren, kece dan ganteng
kayak gue tiba-tiba nembak dia.” Jawab Bintang yang tak mau kalah dengan Diki
“Okay, kalau gitu
buktiin ke gue kalau lu mau predikat lu gak gue rebut dari tangan lu.” Sahut
Diki
“Tunggu aja tanggal
mainnya, gue pastiin kalau Mentari bakalan jadi pacar gue. Dan ingat lu gak
usah kepede-an dulu.” Ujar Bintang memberi peringatan ke Diki.
“Okay, gue tunggu
sampai kapan pun.” Ujar Diki.
***
Jam istirahat pun
berbunyi. Bintang mencoba mendekati Mentari kembali. Lagi-lagi Mentari bersikap
cuek dengan Bintang dan tak memperdulikan keberadaannya.
“Hei,
Mentari. Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu.”
“Ngomong apaan?” jawab Mentari jutek
“Ngomong apaan?” jawab Mentari jutek
“Kita
ngomongnya dikantin aja ya.” Ajak Bintang
“Kenapa
harus dikantin? Disini aja kan bisa.” Ujar Mentari
“Ya
gak bisalah, disini banyak orang.” Rayu Bintang kembali
Mereka
berdua pun pergi ke kantin di jam istirahat..
“Lu
mau makan apaan, Mentari?”
“Nggak
usah urusin perut gue. Urusin aja perut lu!!”
“Ahh,,
gue mah gampang. Gak makan aja masih tetap kuat gue.”
“By the way, tadi lu mau ngomong apaan?
Buruan gih kalau mau ngomong..” Tanya Mentari
“Terima
kasih ya lu udah bantuin gue kemarin.” Ujar Bintang
“Iya
sama-sama.” Sahut Mentari
“Nah,
sekarang lu mau kan jadi pacar gue?” Tanya Bintang kembali
“NGGAK.
Emang apa sih yang membuat lu berpikiran kalau gue suka sama lu?” Tanya Mentari
dengan rasa yang membingungkan
“Lu,
tahu kan gue siapa? Cowok terkeren disekolah ini! Masa lu gak mau sama gue?”
Bintang merasa heran dengan penolakan Mentari kedua kalinya.
“Bagi
gue, itu semua gak penting.” Jawab Mentari dengan tegas dan kemudian ia pergi
meninggalkan Bintang yang saat itu masih berada dikantin.
***
Bintang pun tak pernah berputus asa untuk
mendapatkan hatinya Mentari. Ia terus berusaha mencari cara agar Mentari bisa
jadi pacarnya dan ia bisa membuktikan ke Diki bahwa ia bisa bebas dari hukuman
taruhannya.
Di depan Aula, Mentari
dan teman-temannya membagikan brosur seni rupanya kepada teman-teman
sekolahnya. Namun, tak ada satu pun teman-teman sekolahnya yang tertarik untuk
ikut bergabung di klub seni rupanya.
Tiba-tiba Bintang pun
datang menghampiri Mentari.
“Hai Mentari…” sapa
Bintang dengan tersenyum
“Ngapain lu disini?”
sahut Mentari dengan jutek
“Gue mau bantuin lu.”
Jawab Bintang
“Iya, Bintang aja yang
bantuin kita.” Ujar salah satu teman Mentari
“Nah,, teman lu aja
setuju sama gue. Masa lu ngga?”
Mentari pun memberikan
semua brosur seni rupa ke Bintang
“PENGUMUMAN….PENGUMUMAN..
Bagi semua teman-teman yang bergabung sama klub seni rupa semuanya akan dapat selfie bareng dengan gue.” Ujar Bintang
yang sedang berdiri ditengah lapangan sekolah.
Semua teman-teman pun
berlarian menuju kearah Bintang untuk mendaftarkan diri bergabung di klub seni
rupa dan selfie bareng bersama Bintang.
***
Di jam istirahat,
Bintang pun menghampiri Mentari yang sedang berada diruang seni rupa..
“Hai Mentari..”
“Lu lagi,, lu lagi..
ngapain sih kesini?”
“Gue cuma mau bilang
sekarang lu udah percayakan dengan bantuin gue.”
“iya, percaya. Makasih
ya.”
“Truss… lu mau kan jadi
cewek gue.”
“NGGAK.”
“Lho kok masih gak mau?
Lu tahu kan siapa gue? Cowok paling ganteng, paling keren dan paling popular
disekolahan.”
“iyaaaa,, gue tahu.”
“kenapa lu masih nolak
gue?”
“karena bagi gue semua
itu gak penting.”
“Oke, pokoknya gue gak
mau tahu lu harus balas kebaikan gue tadi.”
“emang lu mau dibalas
pakai apaan sih? Tapi, gue gak mau ya jadi pacar lu.”
“kita ngedate ?”
“ngedate
,
gue kan udah bilang kalau gue gak mau.”
“ngedate kan bukan berarti pacaran. Pokoknya besok kita makan malam
di café.”
“Nggak mau.”
“Nonton di bioskop.”
“Nggak mau.”
“Trus lu maunya kemana
sih?” Bintang pun merasa kesel
“Kita ke taman.” Jawab
Mentari
“Tamaaann?” Bintang pun
kaget.
“Oke, besok kita nge date berdua di taman jam 2 siang.” Ujar
Bintang
Mentari pun bergegas
pergi meninggalkan Bintang sendirian yang masih berada di dalam ruangan seni
rupa.
“Bagaimana pun caranya
gue harus pastiin kalau besok Mentari jatuh cinta ke gue. Agar Diki gak merebut
predikat cowok terkeren dari diri gue.” Ujar
Bintang dalam hatinya.
***
Keesokan harinya,
mereka pun bertemu di taman. Bintang yang saat itu datang telat merasa kaget
lihat penampilan Mentari yang mengenakan baju kotor seusai menolong salah satu
anak yang bolanya terjatuh di kolam.
“Anak siapa tuh?” Tanya
Bintang ke Mentari
“Nggak tahu tuh anak
siapa, heran deh orang tua nya kemana ya. Masa anaknya ditinggali sendirian
disini. Kalau nanti terjadi sesuatu gimana coba.” Jawab Mentari
“Eh, tapi lihat deh
baju lu kotor banget. Mana ada ya cowoknya ganteng ngedate sama cewek yang bajunya kotor.” Ujar Bintang
“kenapa gak mau ngedate sama cewek yang bajunya kotor?
Yaudah!!” Mentari pun bergegas ingin meninggalkan Bintang.”
“Eh, tunggu dulu. Ini
pakai jaket gue.” Bintang pun menahan Mentari dan melepaskan jaketnya untuk
dipinjamkan ke Mentari.
Mentari pun terdiam dan
berbalik arah menatap Bintang.
Di taman, mereka
bermain dengan asyiknya tanpa memikirkan usia mereka yang sudah beranjak
dewasa.
“Bintang…bintang ini
ada ice cream.” Panggil Mentari
“Makasih ya. Kayaknya
udah lama banget rasanya gue gak ke taman. Terakhir kali ke taman SD.” Ujar
Bintang
“kalau gue sih sering,
tiap weekend malahan soalnya disini
banyak obyek yang bisa dilukis.” jawab Mentari
“By the way, kenapa sih lu suka melukis?”
“soalnya melukis itu
lebih seru, jujur dan bisa meluapkan perasaan gue.”
“owh, gue kira karena
lu gak punya teman. Ups,, maaf mentari.”
“gak apa-apa kok karena
gue udah sering dengerin teman-teman ngomong gue.”
“tapi menurut gue, lu
itu bukan cewek yang aneh. Lu itu cewek yang baik, jujur dan satu lagi lu itu
gak palsu bukan kayak cewek yang lain yang gak gue suka.”
“Cie…ciee yang lagi
pacaran.” Sorakan anak kecil yang ngeledeki Mentari dan Bintang seolah
memecahkan suasana perbincangan mereka.
“Eh, anak kecil udah
tahu pacaran ya. Gue kejar nih ya!!!” Bintang
pun berlari mengejar anak kecil yang ngeledekinya tadi.
Mentari tersenyum
tersipu malu sambil sesekali memakan ice
cream nya.
Keesokan harinya, di
sekolah Bintang dan teman-temannya sedang bermain basket di lapangan.
“Kayaknya ada yang lagi
senang. Lu udah jadian ya sama Mentari?” ujar Diki yang menggoda Bintang
“Nggak… belum” jawab
Bintang
“Kalau gak kenapa dari
tadi lu senyum-senyum sendiri. Hhhmm…jangan-jangan lu jatuh cinta beneran ya
sama Mentari” tanya Diki kembali.
“Hah? Jatuh Cinta???” Bintang
pun kaget
Beberapa menit kemudian
Mentari menghampiri Bintang yang saat itu sedang berada di lapangan basket.
“Bintaaannng….” Sahut
Mentari dari arah yang tak begitu jauh dari lapangan.
“Iya,, kenapa?” Bintang
pun menengok kearah Mentari yang saat itu sedang membawakan bungkusan untuk
dirinya
“Boleh bicara sebentar
gak?” tanya Mentari
“Iya boleh..”
“Nih, gue mau balikin
jaket lu. Makasih ya..” ujar Mentari sambil memberikan bungkusan jaket Bintang
“Okey sama-sama kirain
ada apa? Ada lagi? Kalau sekarang udah mau jadi cewek gue?” Tanya Bintang
kembali
Mentari pun terdiam
untuk beberapa detik.
“Iya..” jawab Mentari
“Iya.. lu mau?” Bintang
memastikan kembali jawaban Mentari
“Setau gue ya, lu itu cowok narsis gak budek.”
Jawab Mentari dengan singkat
“Yeaaahhhh….. Gueee
BERHASSSIIILLLLL….” Sorak Bintang sambil berlari menghampiri teman-temannya.
“Huh…sorry. Jadi
sekarang kita udah pacaran? Ujar Bintang
“Iya, aku sama kamu
sekarang udah pacaran.” Jawab Mentari sambil tersenyum
“Cieee…udah aku kamu” Sahut
Bintang dengan tersenyum lepas
***
Semenjak mereka
pacaran, Mentari pun lebih sering menemani Bintang latihan basket. Dan ia pun
tak pernah lupa untuk memberikan perhatiannya kepada Bintang.
“Nih…” Mentari
memberikan sebotol air mineral untuk Bintang yang saat itu sedang kehausan.
“ Makasih ya.” Bintang
pun tersenyum dan meminta Mentari untuk duduk disampingnya.
Tembakan bola basket
Bintang siang itu pun tak seindah hari-hari biasanya. Akhirnya dengan raut
wajah yang kelelahan Bintang pun duduk disamping Mentari, pacarnya. Dengan
sigapnya Mentari pun membasahi handuk miliknya untuk diletakan diatas kepala
Bintang. Karena ia tahu pasti Bintang merasa kepanasan setelah hampir seharian
latihan basket dibawah sinar metahari yang begitu teriknya. Bintang terpukau
melihat sikap Mentari yang begitu baiknya memperlakukan dirinya.
Di hari berikutnya,
Mentari masih tetap setia untuk menemani pacarnya latihan basket di lapangan
sekolah. Tapi kali ini, ia tak lupa membawa peralatan melukisnya untuk menemani
dirinya menonton Bintang latihan. Tanpa ia sadari ternyata Bintang pun
memperhatikan dirinya dari lapangan.
“Kamu gak lihatin aku
masukin bola ya?” ujar Bintang berlari kearah Mentari duduk
“Nggak..” Jawab Mentari
dengan singkat
“Kenapa? Kamu kan
datang kesini karena mau lihatin aku latihan. Kenapa malah sibuk melukis” Tanya
Bintang kembali dengan raut wajah yang kesal
“Karena aku buat ini,
miripkan sama kamu?” ujar Mentari
“Hah? Kamu miripin aku
sama ini!!” Bintang pun kesal.
“Hhaha, gak deh aku
becanda.” Mentari pun tersenyum dan kemudian memperlihatkan hasil melukisnya
yang lain. Dan ternyata Mentari pun melukiskan wajah Bintang yang saat ini
sedang berpose sedang memasukan bola.
“Miripkan? Tanya
Mentari kembali”
“Nggak…gak mirip.
Gantengan yang aslinya…hahaha” Bintang pun tersenyum dan akhirnya memfoto hasil
lukisan Mentari dan di upload nya di Instagram.
***
Seusai latihan, di ruang ganti pakaian
Diki pun menghampiri Bintang.
“Woi,,,bro. lu darimana aja baru
kelihatan?” Tanya Diki
“Dari ruangan seni rupa.” Jawab Bintang
“Oh… jangan-jangan lu habis ketemu pacar
ya?” Sahut Diki meledekin Bintang
“Apaan sih lu. Lebaayyy…” Bintang pun tersenyum
“Ya gak masalah sih
kalau lu mau dekat Mentari, asalkan lu harus ingat hukuman lu tinggal 2 minggu
lagi. Jadi lu harus siap-siap untuk mutusin Mentari.”
Peringatan dari Diki
seolah-olah menusuk hati Bintang. Bintang pun terdiam dan bingung harus
melakukan apa untuk memutuskan Mentari.
***
Bel istirahat pun
berbunyi. Bintang dan Mentari sedang duduk di kantin dengan segelas jus dan
bakso kesukaan mereka.
“Bintang, sore nanti
kita ke taman yuk? Disana banyak sekali obyek-obyek baru untuk dilukis. Kamu
temanin aku melukis ya?” Ajak Mentari
“Maaf ya kayaknya aku
gak bisa lagi deh nemenin kamu melukis, soalnya aku ada jam latihan basket sore
nanti. Dan kayaknya sekarang kita juga gak bisa pulang bareng lagi karena
jadwal latihan aku udah mulai padet nih.’ Ujar Bintang yang sedang mencoba
untuk menjauhi Mentari.
Mentari pun tersenyum
dan tak lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi.
***
Sore harinya, Mentari
pun menonton Bintang yang saat itu sedang latihan basket di lapangan sekolah.
Mentari tersenyum manis kepada Bintang, sedangkan Bintang menjadi kebingungan untuk
mencari cara bagaimana mutusin Mentari sesuai dengan perjanjian taruhannya
dengan Diki.
“Waktu taruhan tinggal
2 minggu lagi, seharusnya gue senang tapi kenapa sekarang gue malah bingung.
Apa mungkin gue jatuh cinta sama Mentari? Gue gak boleh jatuh cinta sama dia,
hubungan gue sama Mentari hanya sekedar Status Palsu dan akan berakhir sebentar
lagi. Gue harus cari cara buat mutusin dia” Ujar Bintang dalam hatinya, sambil
melihat kearah Mentari yang saat itu sedang menontonnya latihan.
Tak lama kemudian,
Bintang pun menghampiri Mentari yang sedang berdiri di pinggir lapangan basket.
“Katanya mau ke taman,
kok malah kesini?” tanya Bintang
“Mau lihatin kamu”
jawab Mentari singkat
“Sekarang kamu ke taman
aja, aku ada latihan sampai sore” ujar Bintang sambil menyuruh Mentari pergi
“Ga papa kok, lagian
dari pada aku di taman sendiri mendingan aku disini kan nontoni pacar latihan.
Boleh kan?” tanya Mentari.
Bintang pun terdiam dan
bingung harus berbuat apa.
“Yaudah, aku latihan
dulu ya” ujar Bintang sambil meninggalkan Mentari
“Bintang,,
SEMANGGAAAATTT Ya…” sahut Mentari sambil tersenyum
Bintang pun tersenyum
lalu kembali ke lapangan.
***
Bintang dan
teman-temannya akhirnya memulai kembali latihannya. Selama latihan pikirannya
pun semakin kacau dan selalu teringat dengan pernjanjian taruhannya antara dia
dan Diki. Apalagi ketika ada Mentari yang sedang menonton latihannya semakin
membuat pikiran dan hatinya menjadi tak keruan dan tak tega bila harus
menyakiti perasaan Mentari yang begitu tulus kepadanya. Karena pikirannya
menjadi kacau dan latihannya menjadi tak fokus akhirnya Bintang pun mendapat
teguran dari pelatihnya
“Bintang, kamu sekarang
jadi cadangan” ujar pelatihnya.
Bintang pun merasa
kesal dan akhirnya bergegas pulang dan meninggalkan Mentari. Namun,
diperjalanan pulang Mentari terus saja memanggil Bintang.
“Bintang, Kamu kenapa?”
tanya Mentari
“Tolong ya jangan
ganggu aku” jawab Bintang singkat dan ingin segera pergi dari hadapan Mentari
namun Mentari selalu saja menghalanginya.
“Tapi kamu kenapa
dimarahin sama pelatih?” tanya Mentari sekali lagi
“Bukan urusan kamu”
jawab Bintang singkat
“Bintang, Aku khawatir”
sahut Mentari dengan rasa cemasnya
“Ini semua gara-gara
kamu. Aku jadi gak konsen tahu gak? Ganggu pikiran aku” ujar Bintang kesal
dengan emosi tingginya
“Jadi ini semua
gara-gara aku? Oke mulai besok aku gak bakalan lagi nontonin kamu main basket.
MAAF” Mentari pun pergi meninggalkan Bintang
Bintang pun kesal
dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan emosinya.
***
Keesokan harinya. Di
taman Mentari sedang melukis sendirian tanpa ditemanin sama Bintang. Sambil
melukis sesekali ia pun sering melamunkan dengan perkataan Bintang kemarin.
Dengan rasa penasarannya akhirnya Mentari pun mulai mengecek social media milik
Bintang. Ia melihat berbagai status social media Bintang yang tak ia ketahui
apa maksudnya. Mentari pun akhirnya berpikir keras untuk mencari tahu maksud
dari status Bintang. Hingga akhirnya Mentari pun menghampiri Bintang di
lapangan basket untuk memberikan bekal makan siang untuk Bintang. Namun, tak ia
sangka ternyata yang ia dengar adalah sebuah perbincangan antara Bintang dan
Diki yang menyatakan bahwa Bintang dan dirinya hanyalah status palsu dan
sebentar lagi kan kalian akan putus.
“Ngapain sih mikirin
Mentari cewek aneh begitu. Lebih baik sekarang lu pikirin gimana caranya buat
putusin dia” ujar Diki yang mencoba merasuki pikiran Bintang.
Bintang pun terdiam
mendengarkan apa yang dikatakan oleh Diki. Namun, tiba-tiba Mentari datang
dengan bekal makanan yang telah ia siapkan untuk Bintang dan dilemparkannya
bekal makanan itu ketubuhnya Bintang dengan raut wajahnya yang marah. Bintang
pun terkejut ketika melihat Mentari yang telah mendengarkan semua
pembicaraannya bersama Diki.
“Jadi ini alasan kamu
maksa aku untuk jadi pacar kamu? Karena aku adalah hukuman taruhan kalian.” Mentari
marah dan kesal.
“Mentari…Mentari ntar
aku jelasin dulu ya.” Bintang mencoba menenangkan perasaannya Mentari.
“Gak perlu ada yang
dijelasin lagi. Gue udah dengar semuanya.” Jawab Mentari dengan nada yang
tinggi.
Bintang terus saja
menahan tangan Mentari. Namun hanya cacian yang ia dapati dari Mentari.
“Buat lu, hukuman dia
selesai.” Mentari menunjuk kearah Diki dengan kemarahannya.
“Dan mulai sekarang
hubungan kita PUTUUUSSSS.” Ujar Mentari kepada Bintang.
Mentari pun pergi
meninggalkan Bintang bersama Diki, temannya. Bintang pun merasa kesal dan akhirnya
mengejar Mentari. Namun, Bintang pun tak tahu kearah mana Mentari pergi.
Bintang pun mencoba menelpon Mentari namun telponnya pun tak aktif.
Tiba-tiba Diki
menghampiri Bintang yang saat itu sedang berada di parkiran mobil.
“Mentari kemana bro?” tanya
Diki
“Gak tahu. Gue juga
lagi nyari.” Jawab Bintang singkat yang sambil menghubungi Mentari kembali.
“Wih…cepat banget tu
anak larinya kayak copet.” Ujar Diki spontan.
“Jaga mulut lu ya.”
Sahut Bintang yang tak menerima pacarnya dibilang copet oleh temannya.
“Lu suka sama cewek
aneh kayak Mentari?” Diki memastikan kembali perasaan Bintang.
“Kalau iya, kenapa?”
jawab Bintang dengan serius.
“Lu mau ambil predikat
cowok terkeren di sekolah!!!! AMBIL. Gue gak butuh itu.” Sahut Bintang dengan
emosi dan meninggalkan Diki.
***
Keesokan harinya. Di
sekolah. Bintang pun mencoba mengampiri Mentari kembali dan mencoba untuk
menjelaskan semua persoalan yang terjadi antara dirinya, Mentari dan Diki.
Namun, hanya reaksi cuek dan kemarahan yang Bintang dapati. Karena hati Mentari
telah begitu sakit disakiti oleh Bintang.
Berbagai cara telah
Bintang lakukan untuk menjelaskan persoalan itu. Tetapi hasilnya tetap nihil.
Akhirnya Bintang pun berusaha kembali untuk menyakinkan Mentari sekali lagi.
“Temui aku di taman kota
malam ini, jam 7 malam. Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu. PENTING.” Isi sms
Bintang
“Mentari pun bingung
dan tak tahu harus pergi atau tidak.”
Jam terus berputar.
Malam pun telah tiba. Berbagai persiapan telah Bintang siapkan untuk
menyenangkan hati Mentari kembali. Sebuah dinner romantis dan lentera telah
Bintang siapkan. Tak lupa juga kotak peralatan lukis Mentari yang saat itu
ketinggalan di Bintang, dibawanya pula. Namun, setelah beberapa jam Bintang
menunggu di taman kota hingga akhirnya ia pun ketiduran, Mentari pun belum
datang juga.
Hari menjelang malam,
saat Bintang sedang tertidur lelap diatas kursi diantara lentera-lentera indah
yang telah Bintang siapkan. Tiba-tiba Mentari pun datang dan membangun Bintang
dengan kemarahannya.
“Apa-apaan ini?” tanya
Mentari dengan jutek.
“Duduk dulu Mentari.”
Bintang pun mempersilahkan mentari duduk
“Ngapain lu bikin kayak
beginian. Norak tahu gak. Kenapa? Mau bikin gue terkesan? Mau bikin gue suka
lagi sama lu? Mau bikin gue jadi pacar lu lagi, iya? Gak Akan. Gue kasih tahu
ya sama lu. Gue gak akan pernah lagi jatuh cinta sama orang pembohong kayak
lu.” Ujar Mentari meluapkan semua kemarahannya kepada Bintang.
“Aku cuma mau minta
maaf. Aku sadar aku udah salah. Aku udah jadiin kamu hukuman taruhan antara aku
sama Diki. Awalnya beneran aku gak ada rasa apa-apa sama kamu. Tapi, semakin
hari semakin kesini aku semakin suka sama kamu, bahkan aku benaran jatuh cinta
sama kamu.” Jawab Bintang sambil mencoba menjelaskan semua persoalannya yang terjadi.
“Mentari. Aku tahu kamu
gak akan percaya sama omongan ini. Aku juga gak maksa kamu untuk menerima
cintaku kembali. Tapi, satu hal yang aku ingin kamu tahu kalau semua yang
terjadi saat kita pacaran itu semua gak ada yang palsu. Aku beneran bahagia bisa
dekat sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf.” Bintang mencoba meminta maaf
untuk kesekian kalinya.
“Gue Gak PEDULI.” Jawab
Mentari singkat sambil menangis dan ia pun ingin segera pergi namun Bintang
mencoba menahannya kembali.
“Tunggu Mentari. Boleh duduk
sebentar. Please.” Bintang memohon
Mentari untuk mendengarkan penjelasannya satu kali lagi.
“Aku tahu ini berharga
buat kamu.” Bintang mengeluarkan kotak peralatan lukis Mentari dari bawah meja
serta memberikan selembaran lukisan wajahnya Mentari hasil lukisannya sendiri.
“Meskipun gambarnya gak
mirip. Aku mau kamu terima gambaran itu. Supaya kamu tahu bagaimana pun kamu,
Kamu tetap Mentari buat aku. Sama seperti siang hari yang selalu terang karena
sinar Mentari dan malam hari yang selalu indah karena adanya Bintang. Itulah
kita bagi aku.” Bintang pun akhirnya pergi lebih dulu dan membiarkan Mentari
merenungi semua penjelasan dari dirinya.
Mentari tetap terdiam
dikursinya sambil menangis dan membuka hasil lukisan yang Bintang buat untuk
dirinya.
***
Besoknya. Di sekolah. Bintang
dan Mentari masih ragu-ragu untuk saling menyapa. Walaupun mereka sering
berpapasan di sekolah, namun mereka tetap tak saling bicara bahkan mereka pun
saling menghindari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Bintang mulai aktif
kembali di klub basketnya dan mulai aktif kembali mengikuti setiap latihan yang
diadakan di sekolahannya. Dan Mentari pun tampaknya mulai rindu ingin melihat
Bintang bermain basket lagi. Akhirnya Mentari pun menyempatkan dirinya untuk
melihat kembali aksi main basketnya Bintang di pinggir lapangan basket. Tanpa
Mentari sadari, ternyata arah bola basket meluncur mendekati dirinya dan hampir
saja mengenai dirinya. Dengan reaksi cepat Bintang. Akhirnya Bintang menepis
bola basket tersebut hingga dirinya terjatuh dan pingsan.
Mentari pun cemas. Diki
serta teman-teman Bintang yang lainnya segera membawa Bintang keruangan
UKS. Namun, tak lama kemudian akhirnya
Bintang pun segera sadar dan ingin segera keluar UKS. Ketika Mentari mau
menjenguk Bintang di UKS. Ternyata Mentari ketemu Bintang dilorong sekolah
menuju kantin.
“Bintang.. kok kamu
keluar?” tanya Mentari
“Aku mau ketemu sama
kamu.” Jawab Bintang singkat dan kemudian ia terjatuh kembali di depan Mentari.
“Bintang kamu kenapa?”
tanya Mentari dengan kecemasannya.
“Mentari….”
“Iya kenapa aku
disini.”
“Aku sayang banget sama
kamu. Aku kangen banget sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Kamu mau kan
jadi pacar aku lagi? Maafin aku Mentari” Ujar Bintang sambil merintih kesakitan.
Mentari pun terdiam dan
bingung harus berkata. Namun, tak lama kemudian Bintang pun pingsan. Mentari
pun mencemaskan keadaannya.
“Bintang….Bintang….Bintang
kamu kenapa Bintang. Please bangun
Bintang. Aku juga sayang sama kamu Bintang. Bintang aku maafin kamu, Bintang.
Tapi, please kamu bangun Bintang.”
Mentari pun mencoba menepuk-nepuk pipi Bintang untuk menyadarkan Bintang
kembali dan meminta bantuan ke teman yang lainnya untuk membawa Bintang ke UKS.
Tak lama setelah itu,
tiba-tiba Bintang bangun dengan sendirinya.
“Bintang, kamu gak
papa? Kamu gak jadi mati?” ujar Mentari dengan raut wajah yang cemas.
“Kamu nyumpahin aku
mati? Tega bangeeetttt lho.” sahut Bintang sambil mencoba berdiri.
“Ya, Nggak. Justru aku
gak mau kamu ninggalin aku.” Jawab Mentari dengan rasa pedulinya.
“Aahh…Apa? Aku gak
dengar? Coba ulang.” Tanya Bintang kembali dengan rasa tak percayanya.
“Aku gak mau kamu
ninggalin aku.” Ujar Mentari dengan malu-malu.
“Apaan aku gak dengar
deh? Coba ulang sekali lagi.” Bintang mencoba menggoda Mentari.
“UDAH…AH!!!” Teriak
Mentari.
“Hei…jangan
teriak-teriak. Aku juga gak mau ninggalin kamu. Aku cinta sama kamu” Jawab
Bintang dengan senyumannya.
Mentari pun pergi
meninggalkan Bintang dan berlari menuju kehalaman sekolah. Akhirnya pun mereka
kembali lagi menjadi sepasang kekasih dengan status yang nyata.