Jumat, 01 September 2017

Kenangan Dibalik Sebuah Foto

Hai semua,, 
Selamat Hari Raya Idul Adha ya untuk kalian semua. Saya yang belum bekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏
Okey,, 
Ditulisan kali ini aku ingin mengenang kembali keseruan lebaran di masa-masa aku dan keempat saudaraku ketika kami masih kecil dan belum memutuskan untuk menikah seperti saat ini. Nah kali ini aku ingin memperlihatkan salah satu foto ter-unyu kami ketika merayakan hari lebaran beberapa tahun yang lalu.
Jreng...jreeng !!!! Ini dia fotonya...


Hihihi,, lucu sekali kan foto kita? Ya iyalah, itu foto zaman kita masih sekolah dan kuliah dulu. Bahkan aku pun lupa usiaku berapa disaat foto itu 😅 Ayo tebak aku yang mana?? Hahaha..
Yupz benar sekali, aku yang duduknya agak kurang sopan itu 😂 maklumin ya soalnya dulu aku masih kecil jadi belum paham betul cara duduk yang baik itu kayak gimana haha. Sebelah kanan aku adalah Ayuk tertua aku, namanya Yuk Ennik. sekarang beliau ikut suaminya tugas di Maluku. Sebelah kanan Yuk Ennik adalah Yuk Ita, dia anak keempat yang saat ini sudah menikah dan udah pisah rumah dengan aku dan mama. Perempuan yang berdiri dibelakang Yuk Ita itu namanya Yuk Vivit, saat ini  Yuk Vivit pun sudah menikah dan dia tinggalnya masih satu komplek sama aku. jadi gak terlalu jauh sih kalau mau main kerumahnya. Tapi, Yuk Vivit dan keluarga selalu lebaran di Palembang karena keluarga suaminya tinggal di Palembang semua. Lelaki yang nyengir itu adalah cowok terganteng kedua yang ada dirumah. dia adalah kakakku. dan dia adalah anak lelaki tunggal dikeluarga kami. Entah kenapa, hampir sebagian dari keluarga besar kami, agak sulit mendapatkan anak lelaki. bahkan anak bibi, mamang dan keluargaku yang lainnya pun hanya mempunyai satu anak lelaki. jadi jangan heran kalau misalkan kita sekeluarga besar sudah ngumpul karena rata-rata dari kami kebanyakan mempunyai saudara perempuan.
Dulu, sehabis sholat ied papa selalu melakukan tradisi foto-foto. Beliau selalu meyediakan Tustel atau istilah zaman sekarang sih kamera digital yang sering digunakan orang untuk berfoto-foto. Jadi sehabis sholat ied, kita belum diperbolehkan makan terlebih dahulu sebelum kita melakukan foto-foto. Padahal di dalam foto itu kakak udah nyiapin makanan di piringnya, karena kita gak pernah serius fotonya akhirnya papa minta diulang kembali fotonya. Aku lupa saat itu kakak bilang apa ketika papa mulai menjepret tustelnya, hingga akhirnya di foto terakhir ini pun kita masih dalam kondisi nahan ketawa gara-gara kelakukan kakak 😅 ketika tradisi foto-foto pun selesai, kakak langsung kabur ke dapur untuk segera makan dan kami pun masih ketawa melihat kelakuan kakak...hahaha
Sayang sekali ya, zaman dulu belum ada tongsis  jadi kita gak bisa selfie  bertujuh bersama mama dan papa. akhirnya kita pun selalu bergantian untuk saling motoin. Papa termasuk orang yang senang mengabadikan setiap moment indahnya. Bahkan papa selalu membiarkan anak-anaknya untuk mengabadikan setiap moment indah dengan tustelnya. Beliau gak pernah takut untuk meminjamkan tustelnya kepada anaknya. Ia selalu membiarkan anaknya menggunakan tustel milik pribadinya untuk mengabadikan setiap moment yang terjadi di dalam rumah maupun diluar rumah. Dan ketika pengambilan foto pun usai, papa pun selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke tukang foto dan mencuci semua foto lalu menempelnya di album keluarga.
Kini aku pun mulai mengerti apa tujuan papa untuk mengabadikan setiap moment itu, dan aku pun sadar setiap moment yang selalu papa abadikan dengan tustelnya dulu mampu mengingatkan kami kembali bahwa ada kenangan yang terselip dibalik setiap foto yang tertempel. Ketika rasa rindu itu pun melanda, aku, mama dan keponakan selalu membuka kembali seluruh album keluarga hasil dari jepretan tangan papa yang selalu papa lakukan diwaktu beliau masih ada. Dan sekarang, lebaran ke 10 tahun tanpa kehadiran papa. Aku pun mulai merasakan kehilangan tradisi mengabadikan moment itu yang dulunya selalu kita lakukan setelah sholat ied. Tapi kini tradisi itu pun berubah menjadi tradisi ziarah ke permakaman papa 😭😭

2 komentar:

  1. Mm, cuma ayuk ye, yang anaknya cowok semua.
    Untung, dulu belum ada facebook, jadi kadar kenarsisan kita nggak begitu parah hihi..

    Papa tetap liat kok, dari atas sana. Stay smile, yaa ;)

    BalasHapus

My Sweetheart

Pagi itu, hujan menyambut kehadiranmu Sembilan bulan yang ku nantikan dulu Kini berakhir sudah Tangisan merdu dari bibir mungilmu membuat...