Dulu
aku mempunyai dua bintang dihidupku. Tapi, kini satu bintangku telah pergi
membawa separuh nafasku. Sekarang aku hanya mempunyai satu bintang dalam
hidupku. Ia selalu bersinar terang dalam hidupku dan membawa sejuta kebahagiaan
untukku.
Namaku Raina, aku anak
bungsu dari lima bersaudara. Hidupku sangat sederhana, semua yang aku punyai
serba pas-pasan. Tapi, dibalik semua itu aku sangat bersyukur kepada Allah SWT
yang telah mengirimkan dua bintang dalam hidupku yaitu Mama dan Papaku. Beliau
adalah orangtua yang sangat luar biasa untukku.
Kedua bintangku selalu
tampak bersinar terang dalam hidupku. Bahkan terangnya sinar bintangku mampu
mengalahkan sejuta bintang dilangit yang selalu tampak indah berkilau dimalam
hari.
Di bulan Ramadhan,
tepatnya 8 tahun yang lalu. Aku melihat salah satu bintangku merintih
kesakitan. Ia tak henti-hentinya merintih kesakitan sambil menahan tangisnya
dan memegang bagian tubuhnya yang tak henti-hentinya menusuk disekujur
tubuhnya. Bintangku tak bersinar terang kala itu, kilaunya meredup bahkan
senyum indahnya tak tampak lagi di hari itu.
“Pa, apa yang harus aku
lakukan biar rasa sakit itu tak terasa lagi ditubuh papa?” tanyaku.
Papa hanya
menggelengkan kepalanya dan tersenyum palsu untuk menyembunyikan rasa sakitnya
itu.
Lagi..lagi dan lagi,..
hati ini tak tega melihat papa merintih kesakitan seperti itu. Bintangku tak
seindah hari yang lalu, senyumnya kian memudar ditutupi dengan rintihan itu.
“Ya..Allah apa yang
harus aku lakukan biar aku bisa melihat bintangku bersinar terang kembali.”
Bisikku dalam hati.
Mama pun datang
menghampiriku. Ia menyadarkanku dari lamunanku. Ia selalu bersikap tenang
didepanku meskipun raut wajahnya tampak panik sekali saat itu. Bahkan ia
menyembunyikan kekhwatirannya seakan-akan ia yakin tak akan terjadi apa-apa
terhadap papa.
Tapi, hati ini masih
tak bisa tenang melihat kondisi papa yang semakin hari semakin melemah. Tubuh
gempal yang selalu menjadi tempat ternyaman untukku bersandar kini menjadi
lunglai seakan-akan sudah tak kuat lagi untuk menompang raganya. Senyum manis
yang selalu aku lihat disetiap hariku kini tak tampak lagi dari wajah
gantengnya. Bahkan bintang-bintangku yang dulunya selalu ceria dan bersinar
terang kini ia mulai perlahan-lahan meredupkan kilau cahayanya.
Berjuta tanya yang
timbul dari pemikiranku yang saat itu masih berusia belasan tahun. Hal buruk
yang tak seharusnya aku pikirkan bahkan sempat terlintas berkeliaran dipemikiranku
yang masih dangkal ini.
“Aku tak ingin salah
satu bingtangku pergi? Aku yakin bahwa bintangku akan bersinar terang kembali? Aku
tak ingin hal itu terjadi secepat ini dalam hidupku ya allah sembuhkanlah
bintangku kembali…” ujarku dalam doa.
Aku pun tak ingin
berputus asa secepat itu, seiring berjalannya waktu papa dirawat dirumah sakit.
Aku terus berusaha mendoakannya agar papa lekas sembuh dari sakitnya, karena
apa yang tejadi dalam hidup ini aku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Hanya keajaiban
dari diri-Nya lah yang mampu membuat bintangku berkilau kembali.
Hari pun telah berlalu.
Hampir satu minggu papa dirawat dirumah sakit kondisi papa pun semakin hari
semakin melemah. Kini, bintangku mulai redup kilaunya. Bahkan sudah lama sekali
aku tak melihat lagi sinarnya kembali ada seperti hari-hari yang lalu. Ia mulai
perlahan-lahan ingin pergi jauh dariku dan meninggalkan aku disini.
Menjelang pagi hari,
tepatnya dihari senin. Bintangku semakin tak tampak lagi kilaunya. Ia mulai
perlahan-lahan menghilang seolah-olah ia sudah tak mampu lagi menyinari setiap
malamku. Hatiku pun sedih. Bintangku telah merobek semua perasaanku pagi itu.
Ia meninggalkanku tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku sudah siap atau
belum.
Kini, hatiku mulai
porak poranda, awan pun tak secerah hari kemarin. Ia tampak gelap seolah-olah
ia tahu isi hatiku saat itu. Awan ikut menangis mengiringi kepergian bintangku.
Dan tangisan pun mulai membasahi seluruh bagian pipiku. Aku masih tak percayai
bahwa bintangku telah pergi secepat ini.
“Sabar ya Raina, kamu
harus kuat menghadapi semua cobaan ini.” Ujar temanku
Aku hanya menganggukan
kepalaku sambil sesekali melihat wajah bintangku yang kini telah terbujur kaku.
Sungguh cobaan ini sangat berat untuk aku lalui. Aku hanya anak belasan tahun
yang masih haus akan kasih sayang dari orangtua. Aku pun tak tahu apa yang
harus aku lakukan selepas kejadian ini menerpaku. Berjuta keraguan selalu
muncul dibenakku.
Namun seiring
berjalannya waktu keraguan itu pun kini kian memudar. Aku tak boleh larut dalam
kesedihanku yang tak kunjung usai ini. Aku masih mempunyai satu bintang yang
selalu tampak bersinar terang mengisi hari-hariku, yaitu Mamaku. Mama adalah
satu-satunya bintang yang aku punyai saat ini. Kilau cahayanya sungguh terang
sekali. Bahkan kilau cahaya bintangku ini mampu menerangi hatiku yang gelap
dimasa lalu.
“Ma, terimakasih untuk
semua pengorbanan mama terhadapku. Aku sungguh beruntung mempunyai orangtua
seperti papa dan mama. Kalian bagaikan bintang yang nyata sehingga aku
merasakan ada surga yang indah didalam rumah ini.” Ujarku sambil tersenyum.
“Mama justru bangga
sama kamu dan keempat kakakmu. Kalian sungguh luar biasa bagi mama dan papa.
Kalian mau saling menolong dikala salah satu dari kalian berlima sedang membutuhkan
bantuan. Tetaplah jadi seperti ini untuk selamanya ya, Nak.” Jawab mamaku.
Suasana haru pun terjadi
di sore itu. Tak terasa enam tahun telah berlalu, akhirnya aku mampu melewati
masa sedihku bersama satu bintangku dan keempat bulanku yang tetap setia
menerangi hidupku. Bintangku ini sungguh luar biasa, meski ia tak berdampingan
lagi dengan bintangnya tapi bintangku ini tetap kuat melewati hari-harinya
dengan cahaya kilaunya yang terang sekali.
Mama adalah bintang
yang nyata dalam hidupku dan keempat saudaraku adalah bulan yang nyata yang
selalu setia mengiringin langkahku. Bukan hanya sekedar bintang dan bulan saja
mereka bagi hidupku bahkan mama serta keempat saudaraku bagaikan malaikat tak
bersayap yang selalu ada setiap aku membutuhkannya.
Surga indah ini sungguh
terlihat nyata di dalam rumahku. Bahkan aku merasakan kebahagiaan yang tak
ternilai harganya dibandingkan apapun. Mama, Papa dan keempat saudaraku adalah
keindahan yang paling indah yang Allah berikan untukku. Berkat mereka akhirnya
aku pun mampu menyelesaikan kuliahku. Perjuangan yang sungguh luar biasa ini
membuat aku akan terus semangat memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Aku
tak ingin mereka menjadi sedih. Aku ingin sekali melihat cahaya bintang dan
bulanku tetap bersinar terang meski tanpa satu bintangku lagi yang telah
hilang.
“Ma, andai ya diacara
wisuda ini papa masih ada pasti suasananya akan semakin ramai ya.” Ujarku yang
menyesalkan ketiadaan papa disini.
“Ini semua kan sudah
takdir dari Allah. Meskipun papa tidak ada disini tapi mama yakin pasti papa
melihat dari sana, Dek.” Jawab mama
“Iya ma, aku yakin kok
pasti papa bahagia lihat aku sekarang sudah wisuda ya. Dan aku juga senang
banget karena salah satu keinginan papa untuk melihat foto kelima anaknya
wisuda sebentar lagi aku terwujud.” Aku pun memeluk mama
“Yaudah, sekarang kamu
jangan sedih lagi ya. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untukmu dan
keluarga kita jadi kamu harus tersenyum bahagia ketika sebentar lagi kamu akan
dinyatakan lulus menjadi seorang sarjana.”
Ujar mama sambil tersenyum.
Kakiku pun begitu
semangat untuk memasuki ruangan acara wisudaku. Senyum semeringa terpancar dari
pipiku yang merona ini. Hatiku pun mulai bergetar cepat. Rasanya aku masih tak
mempercayai hal ini.
Dulu, ketika aku tahu
bahwa papa telah meninggalkan aku untuk selamanya. Aku masih tak yakin untuk
meneruskan kuliahku. Tapi, berkat mama dan keempat saudaraku akhirnya apa yang
aku ragukan dulu kini akan segera terwujudkan. Sungguh keajaiban yang luar
biasa bisa sampai ketitik seperti ini.
Aku tak akan pernah
mengkhianati bintang dan bulanku. Bintang ini akan selalu ada dihatiku. Bahkan
bulan ini juga akan selalu setia menjadi teman hidupku. Meskipun kini cahayanya telah hilang satu tapi
rasa sayang dari mereka akan selalu menyatukan kilaunya dalam hidupku.
Mama, Papa dan keempat
saudaraku. Kalian harus percaya bahwa tak ada hal yang lebih indah lagi selain
keberadaan kalian dalam hidupku. Kalian lah surga yang nyata yang aku punyai.
Andaikan hidupku tanpa adanya kalian mungkin aku tak akan bisa setegar ini
untuk menghadapi setiap cobaan yang datang padaku. Mama dengarkanlah puisi
sederhana ini untukmu. Aku akan selalu menjadi orang yang paling setia untuk
selalu mendoakanmu bahkan mendoakan seluruh keluargaku. Tetaplah jadi bintang
dalam hidupku yang mampu menghadirkan surga terindah di dalam rumah kita yang
sederhana ini.
“Mama..
Dimanapun…kapanpun…sedari
dulu dan sampai nantipun.
Kaulah
tempatku mengadu, mencari restu, dan menemani masa-masa sulitku.
Mama..
Terimakasihku
tak akan cukup untuk membalas semua ketulusan hatimu.
Hanya
doa dariku yang sanggup tuk jadi penyanding jasamu untukku.
Mama..
I
Love you….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar