Minggu, 29 Oktober 2017

Mengejar Mentari





Nama gue Bintang. cowok terkeren, terganteng yang jago main basket. Kegantengan gue membuat semua para wanita tergila-gila sama gue. Bahkan, sahabat gue sendiri Diki merasa iri sama ketenaran gue disekolah.
“Hei coy, seru banget ya pertandingan basket kemarin.” Ujar Diki
“Yoii… akhirnya piala bergilir tetap bertahan disekolah kita dan itu semua berkat gue.” Sahut Bintang dengan pede
“Lu itu jadi orang jangan kepede-an deh, jelas-jelas gue yang masukin bola di last minutes.” Sahut Diki
“Tapi kalau bukan karena operan indah gue, mana mungkin lu bisa masukin bola seindah itu.” Sahut Bintang dengan gaya sombongnya.
“Yaudah, gimana kalau sekarang kita tanding basket? Siapa yang kalah harus pacaran sama Mentari anak klub Seni Rupa selama satu bulan.” Tangan Diki menunjuk kearah Mentari
“Hah….Mentari?” Lu tahu kan Mentari cewek paling aneh sesatu sekolahan. Kalau gue kalah nanti bisa-bisa hancur dong predikat cowok terkeren gue.” Bintang bengong menatap Mentari si cewek aneh yang suka melukis itu
“Kenapa?? Lu takuuutttt!!!! Yaudah gak masalah. karena kalau lu takut yang akan mendapatkan predikat cowok terkeren di sekolah bakalan gue”. Tantang Diki
“Okay, gue terima tantangan lu!! Lu gak akan pernah bisa merebut predikat cowok terkeren gue dari sekolah ini. Lihat aja nanti..” Ujar Bintang dengan pede.
Pertandingan basket pun dimulai. Bintang dan Diki mulai bertanding satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang menjadi cowok terkeren disekolah.
Setelah beberapa menit melakukan pertandingan Diki berhasil memenangkan pertandingan basket dan bebas dari tantangan untuk mendapatkan Mentari si cewek aneh itu.
“Yesss,, gue menang.” Sorak Diki
“Curang lu?” Bintang marah karena merasa ia tak mempercayai hal itu.
“Curang gimana, emang ada larangan merebut bola yang belum masuk?” Jawab Diki
“Ya,, gak ada sih. Tapi…..” Bintang pun kesal
“Yaudah, kalau lu gak mau terima hukumannya. Gue akan ambil predikat lu sebagai cowok terkeren disekolah ini.” Sahut Diki
“Okay..okay! gue yakin bukan hal yang susah buat gue untuk nembak Mentari jadi pacar gue.” Ujar Bintang dengan pede
“Yaudah, kalau begitu buktikan sekarang dong.”
Bintang pun berlari kearah tempat Mentari melukis..
“Mentari, lu mau gak jadi pacar gue?” Ujar Bintang dengan spontan.
“Lu ngomong sama gue?” Mentari kaget
“Ya,, iyalah. Nama Mentari di sekolah ini kan cuma lu doang! Gimana mau kan jadi cewek gue??” Rayu Bintang
“Gak mau.” Ujar Mentari dengan singkat
“Tapi kan gue ganteng, gue kece, gue keren, gue anak basket, siapa sih yang gak mau sama gue.. Lu pasti mau kan sama gue?” Ujar Bintang dengan menggoda Mentari kembali.
“NGGAK.” Mentari pun pergi meninggalkan Bintang
***
Di perjalanan pulang Bintang pun kesel karena telah ditolak Mentari. Ia marah-marah dengan memukul stir mobilnya.  Tiba-tiba mobilnya mogok dijalanan karena ia lupa mengisi bensin. Dengan terpaksa ia harus mendorong mobilnya menuju pom bensin.
Mentari pun melihat ada sosok lelaki yang sedang mendorong mobil sendirian dijalanan tempat ia biasa pulang sekolah. Dengan rasa kasihannya akhirnya Mentari membantu lelaki tersebut untuk mendorong mobilnya tanpa ia sadari ternyata mobil lelaki yang mogok itu ternyata mobilnya Bintang.
“Kok jadi ringan gini ya.” Bintang merasa aneh dan melihat kearah belakang.
“Lu..?”
“Kok lu.”
“Lu ngapain disini? Lu ngikuti gue ya?” Tanya Bintang
“Gak, gue emang pulang sekolah selalu lewat sini kok.” Jawab Mentari terbatah
“Tadi sok-sokan nolak gue, sekarang bantuin gue. Oh jangan-jangan lu caper ya sama gue setelah lu nolak gue tadi” Bintang merasa kesal melihat Mentari membantunya mendorong mobil.
“Nggak kok. Gue gak tahu kalau ini mobil lu. Gue hanya kasihan aja lihat orang dorong mobilnya sendirian. Lu mau dibantuin gak. Kalau lu gak mau ya udah gue pergi nih.” Ujar Mentari
“Ya…yaudah bantuin gue.’’ Sahut Bintang dengan nada masih kesel
Keesokannya disekolah, Diki menjadi pusat perhatian para wanita disekolah. Banyak sekali para wanita yang minta foto bareng dengan Diki..
“Kayaknya ada orang yang ditolak nih yee?” Ledek Diki
“Enak aja, gue belum kalah ya. Kemarin itu Mentari cuma kaget lihat cowok keren, kece dan ganteng kayak gue tiba-tiba nembak dia.” Jawab Bintang yang tak mau kalah dengan Diki
“Okay, kalau gitu buktiin ke gue kalau lu mau predikat lu gak gue rebut dari tangan lu.” Sahut Diki
“Tunggu aja tanggal mainnya, gue pastiin kalau Mentari bakalan jadi pacar gue. Dan ingat lu gak usah kepede-an dulu.” Ujar Bintang memberi peringatan ke Diki.
“Okay, gue tunggu sampai kapan pun.”  Ujar Diki.
***
Jam istirahat pun berbunyi. Bintang mencoba mendekati Mentari kembali. Lagi-lagi Mentari bersikap cuek dengan Bintang dan tak memperdulikan keberadaannya.
“Hei, Mentari. Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu.”
“Ngomong apaan?” jawab Mentari jutek
“Kita ngomongnya dikantin aja ya.” Ajak Bintang
“Kenapa harus dikantin? Disini aja kan bisa.” Ujar Mentari
“Ya gak bisalah, disini banyak orang.” Rayu Bintang kembali
Mereka berdua pun pergi ke kantin di jam istirahat..
“Lu mau makan apaan, Mentari?”
“Nggak usah urusin perut gue. Urusin aja perut lu!!”
“Ahh,, gue mah gampang. Gak makan aja masih tetap kuat gue.”
By the way, tadi lu mau ngomong apaan? Buruan gih kalau mau ngomong..” Tanya Mentari
“Terima kasih ya lu udah bantuin gue kemarin.” Ujar Bintang
“Iya sama-sama.” Sahut Mentari
“Nah, sekarang lu mau kan jadi pacar gue?” Tanya Bintang kembali
“NGGAK. Emang apa sih yang membuat lu berpikiran kalau gue suka sama lu?” Tanya Mentari dengan rasa yang membingungkan
“Lu, tahu kan gue siapa? Cowok terkeren disekolah ini! Masa lu gak mau sama gue?” Bintang merasa heran dengan penolakan Mentari kedua kalinya.
“Bagi gue, itu semua gak penting.” Jawab Mentari dengan tegas dan kemudian ia pergi meninggalkan Bintang yang saat itu masih berada dikantin.
***
 Bintang pun tak pernah berputus asa untuk mendapatkan hatinya Mentari. Ia terus berusaha mencari cara agar Mentari bisa jadi pacarnya dan ia bisa membuktikan ke Diki bahwa ia bisa bebas dari hukuman taruhannya.
Di depan Aula, Mentari dan teman-temannya membagikan brosur seni rupanya kepada teman-teman sekolahnya. Namun, tak ada satu pun teman-teman sekolahnya yang tertarik untuk ikut bergabung di klub seni rupanya.
Tiba-tiba Bintang pun datang menghampiri Mentari.
“Hai Mentari…” sapa Bintang dengan tersenyum
“Ngapain lu disini?” sahut Mentari dengan jutek
“Gue mau bantuin lu.” Jawab Bintang
“Iya, Bintang aja yang bantuin kita.” Ujar salah satu teman Mentari
“Nah,, teman lu aja setuju sama gue. Masa lu ngga?”
Mentari pun memberikan semua brosur seni rupa ke Bintang
“PENGUMUMAN….PENGUMUMAN.. Bagi semua teman-teman yang bergabung sama klub seni rupa semuanya akan dapat selfie bareng dengan gue.” Ujar Bintang yang sedang berdiri ditengah lapangan sekolah.
Semua teman-teman pun berlarian menuju kearah Bintang untuk mendaftarkan diri bergabung di klub seni rupa dan selfie bareng bersama Bintang.
***
Di jam istirahat, Bintang pun menghampiri Mentari yang sedang berada diruang seni rupa..
“Hai Mentari..”
“Lu lagi,, lu lagi.. ngapain sih kesini?”
“Gue cuma mau bilang sekarang lu udah percayakan dengan bantuin gue.”
“iya, percaya. Makasih ya.”
“Truss… lu mau kan jadi cewek gue.”
“NGGAK.”
“Lho kok masih gak mau? Lu tahu kan siapa gue? Cowok paling ganteng, paling keren dan paling popular disekolahan.”
“iyaaaa,, gue tahu.”
“kenapa lu masih nolak gue?”
“karena bagi gue semua itu gak penting.”
“Oke, pokoknya gue gak mau tahu lu harus balas kebaikan gue tadi.”
“emang lu mau dibalas pakai apaan sih? Tapi, gue gak mau ya jadi pacar lu.”
“kita ngedate ?”
“ngedate , gue kan udah bilang kalau gue gak mau.”
ngedate kan bukan berarti pacaran. Pokoknya besok kita makan malam di café.”
“Nggak mau.”
“Nonton di bioskop.”
“Nggak mau.”
“Trus lu maunya kemana sih?”  Bintang pun merasa kesel
“Kita ke taman.” Jawab Mentari
“Tamaaann?” Bintang pun kaget.
“Oke, besok kita nge date berdua di taman jam 2 siang.” Ujar Bintang
Mentari pun bergegas pergi meninggalkan Bintang sendirian yang masih berada di dalam ruangan seni rupa.
“Bagaimana pun caranya gue harus pastiin kalau besok Mentari jatuh cinta ke gue. Agar Diki gak merebut predikat cowok terkeren dari diri gue.” Ujar  Bintang dalam hatinya.
***
Keesokan harinya, mereka pun bertemu di taman. Bintang yang saat itu datang telat merasa kaget lihat penampilan Mentari yang mengenakan baju kotor seusai menolong salah satu anak yang bolanya terjatuh di kolam.
“Anak siapa tuh?” Tanya Bintang ke Mentari
“Nggak tahu tuh anak siapa, heran deh orang tua nya kemana ya. Masa anaknya ditinggali sendirian disini. Kalau nanti terjadi sesuatu gimana coba.” Jawab Mentari
“Eh, tapi lihat deh baju lu kotor banget. Mana ada ya cowoknya ganteng ngedate sama cewek yang bajunya kotor.” Ujar Bintang
“kenapa gak mau ngedate sama cewek yang bajunya kotor? Yaudah!!” Mentari pun bergegas ingin meninggalkan Bintang.”
“Eh, tunggu dulu. Ini pakai jaket gue.” Bintang pun menahan Mentari dan melepaskan jaketnya untuk dipinjamkan ke Mentari.
Mentari pun terdiam dan berbalik arah menatap Bintang.
Di taman, mereka bermain dengan asyiknya tanpa memikirkan usia mereka yang sudah beranjak dewasa.
“Bintang…bintang ini ada ice cream.” Panggil Mentari
“Makasih ya. Kayaknya udah lama banget rasanya gue gak ke taman. Terakhir kali ke taman SD.” Ujar Bintang
“kalau gue sih sering, tiap weekend malahan soalnya disini banyak obyek yang bisa dilukis.” jawab Mentari
By the way, kenapa sih lu suka melukis?”
“soalnya melukis itu lebih seru, jujur dan bisa meluapkan perasaan gue.”  
“owh, gue kira karena lu gak punya teman. Ups,, maaf mentari.”
“gak apa-apa kok karena gue udah sering dengerin teman-teman ngomong gue.”
“tapi menurut gue, lu itu bukan cewek yang aneh. Lu itu cewek yang baik, jujur dan satu lagi lu itu gak palsu bukan kayak cewek yang lain yang gak gue suka.”
“Cie…ciee yang lagi pacaran.” Sorakan anak kecil yang ngeledeki Mentari dan Bintang seolah memecahkan suasana perbincangan mereka.
“Eh, anak kecil udah tahu pacaran ya. Gue kejar nih ya!!!”  Bintang pun berlari mengejar anak kecil yang ngeledekinya tadi.
Mentari tersenyum tersipu malu sambil sesekali memakan ice cream nya.
Keesokan harinya, di sekolah Bintang dan teman-temannya sedang bermain basket di lapangan.
“Kayaknya ada yang lagi senang. Lu udah jadian ya sama Mentari?” ujar Diki yang menggoda Bintang
“Nggak… belum” jawab Bintang
“Kalau gak kenapa dari tadi lu senyum-senyum sendiri. Hhhmm…jangan-jangan lu jatuh cinta beneran ya sama Mentari” tanya Diki kembali.
“Hah? Jatuh Cinta???” Bintang pun kaget
Beberapa menit kemudian Mentari menghampiri Bintang yang saat itu sedang berada di lapangan basket.
“Bintaaannng….” Sahut Mentari dari arah yang tak begitu jauh dari lapangan.
“Iya,, kenapa?” Bintang pun menengok kearah Mentari yang saat itu sedang membawakan bungkusan untuk dirinya
“Boleh bicara sebentar gak?” tanya Mentari
“Iya boleh..”
“Nih, gue mau balikin jaket lu. Makasih ya..” ujar Mentari sambil memberikan bungkusan jaket Bintang
“Okey sama-sama kirain ada apa? Ada lagi? Kalau sekarang udah mau jadi cewek gue?” Tanya Bintang kembali
Mentari pun terdiam untuk beberapa detik.
“Iya..” jawab Mentari
“Iya.. lu mau?” Bintang memastikan kembali jawaban Mentari
 “Setau gue ya, lu itu cowok narsis gak budek.” Jawab Mentari dengan singkat
“Yeaaahhhh….. Gueee BERHASSSIIILLLLL….” Sorak Bintang sambil berlari menghampiri teman-temannya.
“Huh…sorry. Jadi sekarang kita udah pacaran? Ujar Bintang
“Iya, aku sama kamu sekarang udah pacaran.” Jawab Mentari sambil tersenyum
“Cieee…udah aku kamu” Sahut Bintang dengan tersenyum lepas
***
Semenjak mereka pacaran, Mentari pun lebih sering menemani Bintang latihan basket. Dan ia pun tak pernah lupa untuk memberikan perhatiannya kepada Bintang.
“Nih…” Mentari memberikan sebotol air mineral untuk Bintang yang saat itu sedang kehausan.
“ Makasih ya.” Bintang pun tersenyum dan meminta Mentari untuk duduk disampingnya.
Tembakan bola basket Bintang siang itu pun tak seindah hari-hari biasanya. Akhirnya dengan raut wajah yang kelelahan Bintang pun duduk disamping Mentari, pacarnya. Dengan sigapnya Mentari pun membasahi handuk miliknya untuk diletakan diatas kepala Bintang. Karena ia tahu pasti Bintang merasa kepanasan setelah hampir seharian latihan basket dibawah sinar metahari yang begitu teriknya. Bintang terpukau melihat sikap Mentari yang begitu baiknya memperlakukan dirinya.
Di hari berikutnya, Mentari masih tetap setia untuk menemani pacarnya latihan basket di lapangan sekolah. Tapi kali ini, ia tak lupa membawa peralatan melukisnya untuk menemani dirinya menonton Bintang latihan. Tanpa ia sadari ternyata Bintang pun memperhatikan dirinya dari lapangan.
“Kamu gak lihatin aku masukin bola ya?” ujar Bintang berlari kearah Mentari duduk
“Nggak..” Jawab Mentari dengan singkat
“Kenapa? Kamu kan datang kesini karena mau lihatin aku latihan. Kenapa malah sibuk melukis” Tanya Bintang kembali dengan raut wajah yang kesal
“Karena aku buat ini, miripkan sama kamu?” ujar Mentari
“Hah? Kamu miripin aku sama ini!!” Bintang pun kesal.
“Hhaha, gak deh aku becanda.” Mentari pun tersenyum dan kemudian memperlihatkan hasil melukisnya yang lain. Dan ternyata Mentari pun melukiskan wajah Bintang yang saat ini sedang berpose sedang memasukan bola.
“Miripkan? Tanya Mentari kembali”
“Nggak…gak mirip. Gantengan yang aslinya…hahaha” Bintang pun tersenyum dan akhirnya memfoto hasil lukisan Mentari dan di upload nya di Instagram.
***

Seusai latihan, di ruang ganti pakaian Diki pun menghampiri Bintang.
“Woi,,,bro. lu darimana aja baru kelihatan?” Tanya Diki
“Dari ruangan seni rupa.” Jawab Bintang
“Oh… jangan-jangan lu habis ketemu pacar ya?” Sahut Diki meledekin Bintang
“Apaan sih lu. Lebaayyy…” Bintang pun tersenyum
“Ya gak masalah sih kalau lu mau dekat Mentari, asalkan lu harus ingat hukuman lu tinggal 2 minggu lagi. Jadi lu harus siap-siap untuk mutusin Mentari.”
Peringatan dari Diki seolah-olah menusuk hati Bintang. Bintang pun terdiam dan bingung harus melakukan apa untuk memutuskan Mentari.
***
Bel istirahat pun berbunyi. Bintang dan Mentari sedang duduk di kantin dengan segelas jus dan bakso kesukaan mereka.
“Bintang, sore nanti kita ke taman yuk? Disana banyak sekali obyek-obyek baru untuk dilukis. Kamu temanin aku melukis ya?” Ajak Mentari
“Maaf ya kayaknya aku gak bisa lagi deh nemenin kamu melukis, soalnya aku ada jam latihan basket sore nanti. Dan kayaknya sekarang kita juga gak bisa pulang bareng lagi karena jadwal latihan aku udah mulai padet nih.’ Ujar Bintang yang sedang mencoba untuk menjauhi Mentari.
Mentari pun tersenyum dan tak lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi.
***
Sore harinya, Mentari pun menonton Bintang yang saat itu sedang latihan basket di lapangan sekolah. Mentari tersenyum manis kepada Bintang, sedangkan Bintang menjadi kebingungan untuk mencari cara bagaimana mutusin Mentari sesuai dengan perjanjian taruhannya dengan Diki.
“Waktu taruhan tinggal 2 minggu lagi, seharusnya gue senang tapi kenapa sekarang gue malah bingung. Apa mungkin gue jatuh cinta sama Mentari? Gue gak boleh jatuh cinta sama dia, hubungan gue sama Mentari hanya sekedar Status Palsu dan akan berakhir sebentar lagi. Gue harus cari cara buat mutusin dia” Ujar Bintang dalam hatinya, sambil melihat kearah Mentari yang saat itu sedang menontonnya latihan.
Tak lama kemudian, Bintang pun menghampiri Mentari yang sedang berdiri di pinggir lapangan basket.
“Katanya mau ke taman, kok malah kesini?” tanya Bintang
“Mau lihatin kamu” jawab Mentari singkat
“Sekarang kamu ke taman aja, aku ada latihan sampai sore” ujar Bintang sambil menyuruh Mentari pergi
“Ga papa kok, lagian dari pada aku di taman sendiri mendingan aku disini kan nontoni pacar latihan. Boleh kan?” tanya Mentari.
Bintang pun terdiam dan bingung harus berbuat apa.
“Yaudah, aku latihan dulu ya” ujar Bintang sambil meninggalkan Mentari
“Bintang,, SEMANGGAAAATTT Ya…” sahut Mentari sambil tersenyum
Bintang pun tersenyum lalu kembali ke lapangan.
***
Bintang dan teman-temannya akhirnya memulai kembali latihannya. Selama latihan pikirannya pun semakin kacau dan selalu teringat dengan pernjanjian taruhannya antara dia dan Diki. Apalagi ketika ada Mentari yang sedang menonton latihannya semakin membuat pikiran dan hatinya menjadi tak keruan dan tak tega bila harus menyakiti perasaan Mentari yang begitu tulus kepadanya. Karena pikirannya menjadi kacau dan latihannya menjadi tak fokus akhirnya Bintang pun mendapat teguran dari pelatihnya
“Bintang, kamu sekarang jadi cadangan” ujar pelatihnya.
Bintang pun merasa kesal dan akhirnya bergegas pulang dan meninggalkan Mentari. Namun, diperjalanan pulang Mentari terus saja memanggil Bintang.
“Bintang, Kamu kenapa?” tanya Mentari
“Tolong ya jangan ganggu aku” jawab Bintang singkat dan ingin segera pergi dari hadapan Mentari namun Mentari selalu saja menghalanginya.
“Tapi kamu kenapa dimarahin sama pelatih?” tanya Mentari sekali lagi
“Bukan urusan kamu” jawab Bintang singkat
“Bintang, Aku khawatir” sahut Mentari dengan rasa cemasnya
“Ini semua gara-gara kamu. Aku jadi gak konsen tahu gak? Ganggu pikiran aku” ujar Bintang kesal dengan emosi tingginya
“Jadi ini semua gara-gara aku? Oke mulai besok aku gak bakalan lagi nontonin kamu main basket. MAAF” Mentari pun pergi meninggalkan Bintang
Bintang pun kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan emosinya.
***

Keesokan harinya. Di taman Mentari sedang melukis sendirian tanpa ditemanin sama Bintang. Sambil melukis sesekali ia pun sering melamunkan dengan perkataan Bintang kemarin. Dengan rasa penasarannya akhirnya Mentari pun mulai mengecek social media milik Bintang. Ia melihat berbagai status social media Bintang yang tak ia ketahui apa maksudnya. Mentari pun akhirnya berpikir keras untuk mencari tahu maksud dari status Bintang. Hingga akhirnya Mentari pun menghampiri Bintang di lapangan basket untuk memberikan bekal makan siang untuk Bintang. Namun, tak ia sangka ternyata yang ia dengar adalah sebuah perbincangan antara Bintang dan Diki yang menyatakan bahwa Bintang dan dirinya hanyalah status palsu dan sebentar lagi kan kalian akan putus.
“Ngapain sih mikirin Mentari cewek aneh begitu. Lebih baik sekarang lu pikirin gimana caranya buat putusin dia” ujar Diki yang mencoba merasuki pikiran Bintang.
Bintang pun terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Diki. Namun, tiba-tiba Mentari datang dengan bekal makanan yang telah ia siapkan untuk Bintang dan dilemparkannya bekal makanan itu ketubuhnya Bintang dengan raut wajahnya yang marah. Bintang pun terkejut ketika melihat Mentari yang telah mendengarkan semua pembicaraannya bersama Diki.
“Jadi ini alasan kamu maksa aku untuk jadi pacar kamu? Karena aku adalah hukuman taruhan kalian.” Mentari marah dan kesal.
“Mentari…Mentari ntar aku jelasin dulu ya.” Bintang mencoba menenangkan perasaannya Mentari.
“Gak perlu ada yang dijelasin lagi. Gue udah dengar semuanya.” Jawab Mentari dengan nada yang tinggi.
Bintang terus saja menahan tangan Mentari. Namun hanya cacian yang ia dapati dari Mentari.
“Buat lu, hukuman dia selesai.” Mentari menunjuk kearah Diki dengan kemarahannya.
“Dan mulai sekarang hubungan kita PUTUUUSSSS.” Ujar Mentari kepada Bintang.
Mentari pun pergi meninggalkan Bintang bersama Diki, temannya. Bintang pun merasa kesal dan akhirnya mengejar Mentari. Namun, Bintang pun tak tahu kearah mana Mentari pergi. Bintang pun mencoba menelpon Mentari namun telponnya pun tak aktif.
Tiba-tiba Diki menghampiri Bintang yang saat itu sedang berada di parkiran mobil.
“Mentari kemana bro?” tanya Diki
“Gak tahu. Gue juga lagi nyari.” Jawab Bintang singkat yang sambil menghubungi Mentari kembali.
“Wih…cepat banget tu anak larinya kayak copet.” Ujar Diki spontan.
“Jaga mulut lu ya.” Sahut Bintang yang tak menerima pacarnya dibilang copet oleh temannya.
“Lu suka sama cewek aneh kayak Mentari?” Diki memastikan kembali perasaan Bintang.
“Kalau iya, kenapa?” jawab Bintang dengan serius.
“Lu mau ambil predikat cowok terkeren di sekolah!!!! AMBIL. Gue gak butuh itu.” Sahut Bintang dengan emosi dan meninggalkan Diki.

***

Keesokan harinya. Di sekolah. Bintang pun mencoba mengampiri Mentari kembali dan mencoba untuk menjelaskan semua persoalan yang terjadi antara dirinya, Mentari dan Diki. Namun, hanya reaksi cuek dan kemarahan yang Bintang dapati. Karena hati Mentari telah begitu sakit disakiti oleh Bintang.
Berbagai cara telah Bintang lakukan untuk menjelaskan persoalan itu. Tetapi hasilnya tetap nihil. Akhirnya Bintang pun berusaha kembali untuk menyakinkan Mentari sekali lagi.
“Temui aku di taman kota malam ini, jam 7 malam. Ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu. PENTING.” Isi sms Bintang
“Mentari pun bingung dan tak tahu harus pergi atau tidak.”

Jam terus berputar. Malam pun telah tiba. Berbagai persiapan telah Bintang siapkan untuk menyenangkan hati Mentari kembali. Sebuah dinner romantis dan lentera telah Bintang siapkan. Tak lupa juga kotak peralatan lukis Mentari yang saat itu ketinggalan di Bintang, dibawanya pula. Namun, setelah beberapa jam Bintang menunggu di taman kota hingga akhirnya ia pun ketiduran, Mentari pun belum datang juga.
Hari menjelang malam, saat Bintang sedang tertidur lelap diatas kursi diantara lentera-lentera indah yang telah Bintang siapkan. Tiba-tiba Mentari pun datang dan membangun Bintang dengan kemarahannya.
“Apa-apaan ini?” tanya Mentari dengan jutek.
“Duduk dulu Mentari.” Bintang pun mempersilahkan mentari duduk
“Ngapain lu bikin kayak beginian. Norak tahu gak. Kenapa? Mau bikin gue terkesan? Mau bikin gue suka lagi sama lu? Mau bikin gue jadi pacar lu lagi, iya? Gak Akan. Gue kasih tahu ya sama lu. Gue gak akan pernah lagi jatuh cinta sama orang pembohong kayak lu.” Ujar Mentari meluapkan semua kemarahannya kepada Bintang.
“Aku cuma mau minta maaf. Aku sadar aku udah salah. Aku udah jadiin kamu hukuman taruhan antara aku sama Diki. Awalnya beneran aku gak ada rasa apa-apa sama kamu. Tapi, semakin hari semakin kesini aku semakin suka sama kamu, bahkan aku benaran jatuh cinta sama kamu.” Jawab Bintang sambil mencoba menjelaskan semua persoalannya yang terjadi.
“Mentari. Aku tahu kamu gak akan percaya sama omongan ini. Aku juga gak maksa kamu untuk menerima cintaku kembali. Tapi, satu hal yang aku ingin kamu tahu kalau semua yang terjadi saat kita pacaran itu semua gak ada yang palsu. Aku beneran bahagia bisa dekat sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf.” Bintang mencoba meminta maaf untuk kesekian kalinya.
“Gue Gak PEDULI.” Jawab Mentari singkat sambil menangis dan ia pun ingin segera pergi namun Bintang mencoba menahannya kembali.
“Tunggu Mentari. Boleh duduk sebentar. Please.” Bintang memohon Mentari untuk mendengarkan penjelasannya satu kali lagi.
“Aku tahu ini berharga buat kamu.” Bintang mengeluarkan kotak peralatan lukis Mentari dari bawah meja serta memberikan selembaran lukisan wajahnya Mentari hasil lukisannya sendiri.
“Meskipun gambarnya gak mirip. Aku mau kamu terima gambaran itu. Supaya kamu tahu bagaimana pun kamu, Kamu tetap Mentari buat aku. Sama seperti siang hari yang selalu terang karena sinar Mentari dan malam hari yang selalu indah karena adanya Bintang. Itulah kita bagi aku.” Bintang pun akhirnya pergi lebih dulu dan membiarkan Mentari merenungi semua penjelasan dari dirinya.
Mentari tetap terdiam dikursinya sambil menangis dan membuka hasil lukisan yang Bintang buat untuk dirinya.

***
Besoknya. Di sekolah. Bintang dan Mentari masih ragu-ragu untuk saling menyapa. Walaupun mereka sering berpapasan di sekolah, namun mereka tetap tak saling bicara bahkan mereka pun saling menghindari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Bintang mulai aktif kembali di klub basketnya dan mulai aktif kembali mengikuti setiap latihan yang diadakan di sekolahannya. Dan Mentari pun tampaknya mulai rindu ingin melihat Bintang bermain basket lagi. Akhirnya Mentari pun menyempatkan dirinya untuk melihat kembali aksi main basketnya Bintang di pinggir lapangan basket. Tanpa Mentari sadari, ternyata arah bola basket meluncur mendekati dirinya dan hampir saja mengenai dirinya. Dengan reaksi cepat Bintang. Akhirnya Bintang menepis bola basket tersebut hingga dirinya terjatuh dan pingsan.
Mentari pun cemas. Diki serta teman-teman Bintang yang lainnya segera membawa Bintang keruangan UKS.  Namun, tak lama kemudian akhirnya Bintang pun segera sadar dan ingin segera keluar UKS. Ketika Mentari mau menjenguk Bintang di UKS. Ternyata Mentari ketemu Bintang dilorong sekolah menuju kantin.
“Bintang.. kok kamu keluar?” tanya Mentari
“Aku mau ketemu sama kamu.” Jawab Bintang singkat dan kemudian ia terjatuh kembali di depan Mentari.
“Bintang kamu kenapa?” tanya Mentari dengan kecemasannya.
“Mentari….”
“Iya kenapa aku disini.”
“Aku sayang banget sama kamu. Aku kangen banget sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku lagi? Maafin aku Mentari” Ujar Bintang sambil merintih kesakitan.
Mentari pun terdiam dan bingung harus berkata. Namun, tak lama kemudian Bintang pun pingsan. Mentari pun mencemaskan keadaannya.
“Bintang….Bintang….Bintang kamu kenapa Bintang. Please bangun Bintang. Aku juga sayang sama kamu Bintang. Bintang aku maafin kamu, Bintang. Tapi, please kamu bangun Bintang.” Mentari pun mencoba menepuk-nepuk pipi Bintang untuk menyadarkan Bintang kembali dan meminta bantuan ke teman yang lainnya untuk membawa Bintang ke UKS.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba Bintang bangun dengan sendirinya.
“Bintang, kamu gak papa? Kamu gak jadi mati?” ujar Mentari dengan raut wajah yang cemas.
“Kamu nyumpahin aku mati? Tega bangeeetttt lho.” sahut Bintang sambil mencoba berdiri.
“Ya, Nggak. Justru aku gak mau kamu ninggalin aku.” Jawab Mentari dengan rasa pedulinya.
“Aahh…Apa? Aku gak dengar? Coba ulang.” Tanya Bintang kembali dengan rasa tak percayanya.
“Aku gak mau kamu ninggalin aku.” Ujar Mentari dengan malu-malu.
“Apaan aku gak dengar deh? Coba ulang sekali lagi.” Bintang mencoba menggoda Mentari.
“UDAH…AH!!!” Teriak Mentari.
“Hei…jangan teriak-teriak. Aku juga gak mau ninggalin kamu. Aku cinta sama kamu” Jawab Bintang dengan senyumannya.
Mentari pun pergi meninggalkan Bintang dan berlari menuju kehalaman sekolah. Akhirnya pun mereka kembali lagi menjadi sepasang kekasih dengan status yang nyata. 











Jumat, 01 September 2017

Kenangan Dibalik Sebuah Foto

Hai semua,, 
Selamat Hari Raya Idul Adha ya untuk kalian semua. Saya yang belum bekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏
Okey,, 
Ditulisan kali ini aku ingin mengenang kembali keseruan lebaran di masa-masa aku dan keempat saudaraku ketika kami masih kecil dan belum memutuskan untuk menikah seperti saat ini. Nah kali ini aku ingin memperlihatkan salah satu foto ter-unyu kami ketika merayakan hari lebaran beberapa tahun yang lalu.
Jreng...jreeng !!!! Ini dia fotonya...


Hihihi,, lucu sekali kan foto kita? Ya iyalah, itu foto zaman kita masih sekolah dan kuliah dulu. Bahkan aku pun lupa usiaku berapa disaat foto itu 😅 Ayo tebak aku yang mana?? Hahaha..
Yupz benar sekali, aku yang duduknya agak kurang sopan itu 😂 maklumin ya soalnya dulu aku masih kecil jadi belum paham betul cara duduk yang baik itu kayak gimana haha. Sebelah kanan aku adalah Ayuk tertua aku, namanya Yuk Ennik. sekarang beliau ikut suaminya tugas di Maluku. Sebelah kanan Yuk Ennik adalah Yuk Ita, dia anak keempat yang saat ini sudah menikah dan udah pisah rumah dengan aku dan mama. Perempuan yang berdiri dibelakang Yuk Ita itu namanya Yuk Vivit, saat ini  Yuk Vivit pun sudah menikah dan dia tinggalnya masih satu komplek sama aku. jadi gak terlalu jauh sih kalau mau main kerumahnya. Tapi, Yuk Vivit dan keluarga selalu lebaran di Palembang karena keluarga suaminya tinggal di Palembang semua. Lelaki yang nyengir itu adalah cowok terganteng kedua yang ada dirumah. dia adalah kakakku. dan dia adalah anak lelaki tunggal dikeluarga kami. Entah kenapa, hampir sebagian dari keluarga besar kami, agak sulit mendapatkan anak lelaki. bahkan anak bibi, mamang dan keluargaku yang lainnya pun hanya mempunyai satu anak lelaki. jadi jangan heran kalau misalkan kita sekeluarga besar sudah ngumpul karena rata-rata dari kami kebanyakan mempunyai saudara perempuan.
Dulu, sehabis sholat ied papa selalu melakukan tradisi foto-foto. Beliau selalu meyediakan Tustel atau istilah zaman sekarang sih kamera digital yang sering digunakan orang untuk berfoto-foto. Jadi sehabis sholat ied, kita belum diperbolehkan makan terlebih dahulu sebelum kita melakukan foto-foto. Padahal di dalam foto itu kakak udah nyiapin makanan di piringnya, karena kita gak pernah serius fotonya akhirnya papa minta diulang kembali fotonya. Aku lupa saat itu kakak bilang apa ketika papa mulai menjepret tustelnya, hingga akhirnya di foto terakhir ini pun kita masih dalam kondisi nahan ketawa gara-gara kelakukan kakak 😅 ketika tradisi foto-foto pun selesai, kakak langsung kabur ke dapur untuk segera makan dan kami pun masih ketawa melihat kelakuan kakak...hahaha
Sayang sekali ya, zaman dulu belum ada tongsis  jadi kita gak bisa selfie  bertujuh bersama mama dan papa. akhirnya kita pun selalu bergantian untuk saling motoin. Papa termasuk orang yang senang mengabadikan setiap moment indahnya. Bahkan papa selalu membiarkan anak-anaknya untuk mengabadikan setiap moment indah dengan tustelnya. Beliau gak pernah takut untuk meminjamkan tustelnya kepada anaknya. Ia selalu membiarkan anaknya menggunakan tustel milik pribadinya untuk mengabadikan setiap moment yang terjadi di dalam rumah maupun diluar rumah. Dan ketika pengambilan foto pun usai, papa pun selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke tukang foto dan mencuci semua foto lalu menempelnya di album keluarga.
Kini aku pun mulai mengerti apa tujuan papa untuk mengabadikan setiap moment itu, dan aku pun sadar setiap moment yang selalu papa abadikan dengan tustelnya dulu mampu mengingatkan kami kembali bahwa ada kenangan yang terselip dibalik setiap foto yang tertempel. Ketika rasa rindu itu pun melanda, aku, mama dan keponakan selalu membuka kembali seluruh album keluarga hasil dari jepretan tangan papa yang selalu papa lakukan diwaktu beliau masih ada. Dan sekarang, lebaran ke 10 tahun tanpa kehadiran papa. Aku pun mulai merasakan kehilangan tradisi mengabadikan moment itu yang dulunya selalu kita lakukan setelah sholat ied. Tapi kini tradisi itu pun berubah menjadi tradisi ziarah ke permakaman papa 😭😭

Jumat, 18 Agustus 2017

Banyak Kata Dibalik Diamku

Diamku..
Tak membuatmu peka terhadap cintaku..
Diamku..
Tak membuatmu mengerti apa inginku..
Diamku..
Hanya sebagaian resah dari hatiku..
Namun, Diamku..
Akan selalu menyimpa rasa untukmu..
Ketika aku diam..
Aku bingung harus berkata apa..
Ketika aku rindu..
Aku tak tahu rindu itu seperti apa..
Ketika aku sedih..
Aku tak tahu sebabnya apa..
Tapi, ketika aku terjaga..
Aku tahu tujuanku apa..
Yaitu Kamu..




 


  

Senin, 31 Juli 2017


Cinta Dibalik Awan





Hidup itu kayak awan
Datang dan pergi
Kadang gelap, kadang juga terang
Kadang terlihat menyepi sendirian tapi kadang juga ia datang berbondong - bondong berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya
dan aku pun
sama seperti awan
yang tak punya banyak kata dalam mencintaimu
yang selalu membisu ketika berada disampingmu
dan aku hanya wanita yang bisa kamu lihat, tapi selalu membuatmu teduh...

Dan kamu, Apakah bisa menjadi Hujan untukku????


Minggu, 02 Oktober 2016

Kepincut Hati Sang Gitaris





The Rhioz adalah band pensi yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang pemuda ganteng yang terdiri dari Dani (Vocalist), Dika (Drum), Al (Bassis) dan Raka (Gitaris). Mereka berempat berasal dari satu jurusan yang sama dan berasal dari keluarga yang berada. Meski, semuanya berasal dari keluarga yang berada tetapi sifat rendah hatinya selalu saja menjadi hal utama yang dikagumi oleh para fansnya.
“Rin nonton The Rhioz yuk?” ajak Nia sambil menarik tangan Airin.
“Nggak ah, aku lagi males nonton.” jawab Airin dengan raut wajah yang datar.
“Lho, kenapa? Bukannya kamu suka band?” tanya Nia kembali.
“Niaaaa,, aku lagi males nonton. Aku masih kepikiran sama skripsiku yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar Airin datar.
“Ya ampun, Rin. Justru dengan menonton The Rhioz hati kamu akan sedikit terhibur. Jadi, setelah pulang dari nonton The Rhioz kamu nggak akan kepikiran terus˗terusan dengan skripsi yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar Nia kepada Airin
“Yuukkk!!” Ajak Nia tanpa mendengarkan kembali jawaban dari Airin.
Tanpa membuang banyak waktu Nia menarik tangan Airin untuk ikut pergi bersamanya menonton penampilan The Rhioz sore itu. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama 10 menit mereka sampai di café tempat The Rhioz manggung. Suara teriakan para penonton semakin terdengar begitu jelas dari halaman parkiran yang tak begitu jauh dari pintu masuk menuju café. Gemerlap lampu yang menerangi ruangan semakin terlihat begitu indah, disertai dengan alunan music yang begitu merdu yang dimainkan oleh band The Rhioz.
Penampilan The Rhioz sungguh membuat Airin kagum. Mereka tampil dengan sangat sempurna disertai aksi panggung yang menawan sehingga para penonton merasa puas dan terhibur dengan penampilan The Rhioz sore itu. Sepanjang penampilan The Rhioz, Airin hanya bisa berdecak kagum memandangi satu persatu penampilan dari masing˗masing anggotanya. Ternyata, mereka sungguh mempesona. Mata dan telinga Airin dimanjakan dengan alunan lagu dan penampilan keren yang dimainkan oleh The Rhioz.  
“Wow,,,ternyata mereka benar˗benar mengaggumkan.” ujar Airin dalam hatinya.
Sorakan dari para penonton membuat suasana café semakin ramai didatangi oleh para anak muda. Tak hanya kaum hawa tapi kaum adam pun sangat menikmati penampilan yang disuguhi oleh band The Rhioz. Mereka tak takut untuk berjubelan diantara para penonton yang lainnya, itu semua dikarenakan mereka sangat menikmati aksi panggung band pensi yang saat ini sedang hangat menjadi perbincangan anak muda.
Semua orang bersorak bergembira, tak lupa pula teriakan penonton yang memanggil nama masing˗masing personil band The Rhioz semakin membuat suasana terasa lebih ramai. Mereka selalu melemparkan senyum manisnya kepada setiap penonton yang memanggil namanya. Penampilan keempat aksi cowok ganteng dari personil The Rhioz sungguh mampu membius suasana café sore itu menjadi lebih meriah.
“Hey,,,Rin!! Kenapa kamu diam membisu tanpa satu kata pun?” ujar Nia sambil menepuk pundak Airin.
“Hah!! Aku baik-baik saja kok.” sahut Airin.
“Aah,,,bohooonng!! Pasti kamu mulai suka kan dengan penampilan The Rhioz? Ya,,iyalah The Rhioz itu band pensi paling ngetop di kota kita. Bahkan di kampus kita aja nama band The Rhioz sudah sangat populer, makanya jadi orang tuh jangan kuper kuper amat  dong Rin.” ujar Nia meledek Airin
“Niiiiaaaaaaa…. Kamu ini cuma tahu nya tentang band The Rhioz aja. Emang kamu nggak mikirin tugas skripsimu yang masih ditolak dosen.” Sahut Airin dengan nada yang keras.
“Yaelaaaaah…!!! Bisa nggak sih, Rin satu hari aja tanpa mikirin skripsi.” Nia pun bergegas pergi meninggalkan Airin dan mulai menikmati kembali alunan lagu yang disuguhi oleh The Rhioz.
***
Keesokan harinya, tanpa disengaja Airin bertemu dengan Raka sang gitaris band The Rhioz di koridor kampus. Raka yang memiliki senyum manis, dan mempunyai postur badan besar dan tinggi serta mempunyai fans yang lebih banyak dibandingkan personil The Rhioz yang lainnya mampu membuat Airin jadi salah tingkah. Airin merasa malu ketika Raka berjalan menuju kearahnya. Karena rasa malu yang dimilikinya, Airin pun mencoba beralih kearah kantin agar tidak berpapasan secara langsung dengan Raka sang gitaris manis itu.
Setelah beberapa menit Raka pun berlalu dari arahnya.
“Huuu,,,legah!! Akhirnya ia tak mengarah kesini. Bisa salting gue kalau ketemu dengan dia secara langsung.” ujar Airin sambil menghembuskan nafasnya.
Airin pun mulai melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Pak Anwar yaitu Dosen Pembimbing skripsinya. Airin terus berjalan dengan gaya cuek yang telah menjadi ciri khas dirinya, tanpa melihat orang˗orang disekelilingnya Airin terus berjalan lurus menuju ruangan Pak Anwar.
 Setibanya sampai di depan ruang tunggu Pak Anwar. Airin pun dikagetkan dengan sosok laki˗laki bertubuh besar dan tinggi yang sedang duduk dipojokan di ruang tunggu  Pak Anwar. Ternyata, laki˗laki itu adalah Raka. Sosok laki˗laki yang mampu membuat dirinya menjadi salah tingkah dan gugup.
Di ruang tunggu Dosen, Airin terdiam bagaikan patung yang tak bisa bergerak, dan bicara. Tak henti˗hentinya Airin memainkan handphone genggamnya sambil sesekali memandangi Raka yang saat itu sedang membaca buku, duduk disebelahnya.
“Wah,,,ternyata nih cowok keren juga ya. Aku kira kerjaannya cuma bisa main gitar doang, ternyata dia juga suka membaca!” Pikir Airin.
Lamunan Airin terlalu dalam, sehingga ketika Raka mengarahkan pandangannya kearah Airin, Airin pun kaget dan kebingungan.
“Loe lihatin gue ya? Kenapa? Apa ada yang aneh dari muka gue?” Ujar Raka
“Enggaaaakk kok. Gue nggak lihatin loe. Dasar loe˗nya aja yang kepedean.” Ujar Airin dengan raut wajah yang datar.
“Oh,,,gitu!!!’” Sahut Raka dengan singkat
Raka pun tak menghiraukan Airin, ia masih asyik dengan buku bacaannya dan terus membaca hingga Pak Anwar tiba di ruangannya. Tak lama kemudian Pak Anwar pun tiba diruangannya. Beliau mengenakan kemeja putih polos dengan tatanan rambut yang rapi. Beliau tersenyum kepada seluruh mahasiswanya yang saat itu telah datang duluan untuk melakukan bimbingan skripsi dengannya.
Setelah secara bergiliran mengantri satu per satu masuk keruangan Pak Anwar, bimbingan pun usai. Airin dan Raka pun berpisah selayaknya orang biasa yang tak saling mengenal.
***
“Hey,, kamu dimana? Tumben batang hidungmu belum kelihatan jam segini?” ujar Airin melalui pesan singkat yang ia kirimkan untuk Nia.
“Masih di bus nih. Kenapa? Kamu udah kangen ya sama aku? Ledek Nia dipesan singkat yang ia kirimkan untuk Airin.
“Buruan deh kesini. Aku udah di kampus dari 35 menit yang lalu” Jawab Airin kembali dengan nada memaksa Nia agar segera tiba.
“Iya…iya sabaarr. Bentar lagi aku sampai kok.”
Beberapa menit kemudian, Nia pun tiba dikampus.
“Woy,,,,benggong aja loe” Teriak Nia tepat ditelinga Airin.
“Aahh loe ngagetin gue aja.” Airin pun terkejut
By the way, aku mau cerita nih, tapi kamu harus janji ya jangan bilang ke siapa˗siapa.” Sahut Airin dengan wajah yang serius.
“Oke, aku janji.” Ujar Nia mengulurkan jari kelingkingnya.
“Jadi gini ceritanya…..”
‘’APAAAA….? Loe serius Rin? Loe nggak bohongi gue kan tentang cerita yang barusan loe ceritain?” Jawab Nia yang masih tak mempercayai hal itu.
“Yaelah,, sejak kapan gue sering bohongin loe. Emang loe nggak lihat muka gue sudah serius begini!!” Ujar Airin dengan kesal.
“Heheh,,,maaf deh kalau gitu. Soalnya aku masih nggak percaya aja nih sama cerita kamu. By the way, jadi apa nih yang kamu rasakan setelah duduk bersebelahan dengan Raka? Apakah Raka semanis dan seganteng ketika ia sedang memainkan gitarnya? Ayooo dong Rin ceritain ke gue.” ujar Nia yang tak henti˗hentinya mencerocos.
“Pertanyaan loe banyak baget sih, pusing gue dengernya. Mending loe lihat sendiri tuh idola loe.” sahut Airin dengan kesal.
Karena tak sanggup mendengarkan celotehan Nia, Airin pun pergi meninggalkan Nia yang tak henti˗hentinya menanyakan tentang Raka sang cowok idolanya. Airin berjalan sendirian menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan. Ia membeli semangkok bakso dan es teh manis sebagai menu favorite˗nya. Tak lama kemudian Raka dan teman˗teman The Rhioz tiba di kantin tempat Airin sedang menyantap baksonya. Rasa jengkel Airin terhadap Raka masih saja menyelimuti hatinya. Ia merasa bahwa Raka adalah cowok sok kepedean yang ia kenal.
***
Keesokan harinya, dengan persiapan yang matang Airin pun siap melanjutkan bimbingannya dengan Pak Anwar. Ia telah melakukan perbaikan sesuai yang Pak Anwar inginkan. Dengan penuh harapan, ia berharap semoga hari ini adalah hari terakhir baginya untuk melakukan bimbingan. Rasa percaya dirinya membuat Airin melangkah dengan berani menuju ruangan Pak anwar.
Di ruang tunggu ruangan Pak Anwar, ternyata Raka telah lebih dulu datang dibandingkan Airin. Hari ini Raka terlihat semakin ganteng dan manis dengan kemeja polosnya yang berwarna navy. Penampilannya sangat berbeda dengan penampilannya ketika ia berada di panggung.
Meskipun Raka merupakan salah satu anggota band pensi terkenal di kampus, Entah kenapa suasana ruang tunggu tetap saja terasa hening, Semua mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada satu pun orang yang meminta foto dengan Raka meskipun ketika ia selesai performance bersama teman bandnya biasanya Raka kebanjiran fans yang meminta foto bersama dirinya, hal itu membuat Airin merasa aneh.
Ditengah˗tengah lamunannya, tanpa ia sadari ternyata Raka pun mencoba mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana hening siang itu.
“Hai..” sapa Raka
“Hai,,” jawab Airin singkat
“Kamu bimbingan dengan Pak Anwar juga ya?” tanya Raka dengan singkat.
“Eem..iya.”
“Owh, sama dong. aku juga bimbingan sama Pak Anwar.” ujar Raka dengan ramah
“Owh…” sahut Airin.
 "Raka terpanah melihat tingkah Airin yang begitu cuek."
By the way, namamu siapa?” tanya Raka kembali.
“Aku Airin.” Kalau kamu siapa?” ujar Airin yang berpura˗pura tidak tahu.
“Raka.” Raka pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Airin.
Berkali˗kali Airin masih tak mempercayai bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya. Setelah sebelumnya Raka bersikap sok cuek dan kepedean, hari ini Airin merasa terkagum kembali kepada Raka sang gitaris band The Rioz.
“Sungguh ini diluar dugaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya” ujar Airin dalam hatinya.
Satu jam berbincang˗bincang dengan Raka membuat rasa bosan Airin menghilang. Akhirnya, Pak Anwar pun tiba. Beliau mengenakan batik panjang berwarna biru cerah dengan rambut yang tertata rapi ditambah sedikit senyum manis yang terkadang mengalihkan pandangan mahasiswa. sikap tegasnya terkadang membuat Airin menangis, beliau merupakan salah satu Dosen yang paling teliti untuk membimbing mahasiswanya dalam menyelesaikan skripsi.
Setelah secara bergantian mengantri untuk melakukan bimbingan dengan Pak Anwar. Akhirnya jam bimbingan pun telah usai. Airin dan Raka pun berpisah disana.. Tiba˗tiba dari jarak yang berjauhan Raka lari˗larian memanggil nama Airin.
“Airiiiiiiinn…..Airinn, Hey tunggu dulu!!” ujar Raka memanggil Airin sambil berlari kearah tempat Airin berhenti.
“Iya, kenapa?” jawab Airin singkat
 By the way boleh nggak aku minta Id Line mu?” tanya Raka kepada Airin.
“Emangnya untuk apa?” tanya Airin kembali
“Jadi gini…….”
Setelah perbincangan singkat ditengah kampus tersebut akhirnya Raka mendapatkan Id Line Airin dan Airin pun tahu Id Line Raka si artis pensi itu.
“Aku tak pernah menyangka bahwa Raka akan seramah ini kepadaku. Meski dulunya aku sempat berpikir bahwa dia bukanlah cowok yang baik terhadap fans dan orang˗orang disekitarnya, ternyata tafsiranku terhadap dirinya selama ini salah”  pikir Airin.
***
Semenjak pertukeran Id Line di kampus beberapa hari yang lalu, akhirnya Airin dan Raka sering chattingan disela˗sela kesibukan mereka masing˗masing.
 “Hallo,, Rin. Kamu lagi apa?” Tanya Raka
“Lagi revisi aja nih. Emangnya kamu lagi ngapain? Pasti lagi manggung ya? tanya Airin kembali kepada Raka
“Hahaha….nggak lah. Aku lagi ngejam aja sama The Rhioz.”
“Owh,,,gitu.” jawab Airin singkat
“Yaudah kalau kamu lagi sibuk, lanjutin aja revisinya. Maaf ya aku ganggu.” Jawab Raka menutupi obrolan malam itu.
“Perbincangan yang sering mereka lakukan melalui Line membuat Airin menjadi tak keruan. Ia sering senyum˗senyum sendiri sambil menatapi layar handphone˗nya dan berharap semoga Raka akan segera mengirimkan stiker lucu untuknya.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
 Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.



















My Sweetheart

Pagi itu, hujan menyambut kehadiranmu Sembilan bulan yang ku nantikan dulu Kini berakhir sudah Tangisan merdu dari bibir mungilmu membuat...