![]() |
| Diamku.. Tak membuatmu peka terhadap cintaku.. Diamku.. Tak membuatmu mengerti apa inginku.. Diamku.. Hanya sebagaian resah dari hatiku.. Namun, Diamku.. Akan selalu menyimpa rasa untukmu.. |
Jumat, 18 Agustus 2017
Banyak Kata Dibalik Diamku
Senin, 31 Juli 2017
Cinta Dibalik Awan
Hidup itu kayak awan
Datang dan pergi
Kadang gelap, kadang juga terang
Kadang terlihat menyepi sendirian tapi kadang juga ia datang berbondong - bondong berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya
dan aku pun
sama seperti awan
yang tak punya banyak kata dalam mencintaimu
yang selalu membisu ketika berada disampingmu
dan aku hanya wanita yang bisa kamu lihat, tapi selalu membuatmu teduh...
Dan kamu, Apakah bisa menjadi Hujan untukku????
Minggu, 02 Oktober 2016
Kepincut Hati Sang Gitaris
The Rhioz adalah band pensi
yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka
semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang
pemuda ganteng yang terdiri dari Dani (Vocalist),
Dika (Drum), Al (Bassis) dan Raka (Gitaris).
Mereka berempat berasal dari satu jurusan yang sama dan berasal dari keluarga
yang berada. Meski, semuanya berasal dari keluarga yang berada tetapi sifat
rendah hatinya selalu saja menjadi hal utama yang dikagumi oleh para fansnya.
“Rin nonton The Rhioz
yuk?” ajak Nia sambil menarik tangan Airin.
“Nggak ah, aku lagi males
nonton.” jawab Airin dengan raut wajah yang datar.
“Lho, kenapa? Bukannya
kamu suka band?” tanya Nia kembali.
“Niaaaa,, aku lagi
males nonton. Aku masih kepikiran sama skripsiku yang ditolak sama Pak Anwar.” ujar
Airin datar.
“Ya ampun, Rin. Justru
dengan menonton The Rhioz hati kamu akan sedikit terhibur. Jadi, setelah pulang
dari nonton The Rhioz kamu nggak akan kepikiran terus˗terusan dengan skripsi yang
ditolak sama Pak Anwar.” ujar Nia kepada Airin
“Yuukkk!!” Ajak Nia
tanpa mendengarkan kembali jawaban dari Airin.
Tanpa membuang banyak
waktu Nia menarik tangan Airin untuk ikut pergi bersamanya menonton penampilan
The Rhioz sore itu. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama 10 menit
mereka sampai di café tempat The Rhioz manggung. Suara teriakan para penonton
semakin terdengar begitu jelas dari halaman parkiran yang tak begitu jauh dari
pintu masuk menuju café. Gemerlap lampu yang menerangi ruangan semakin terlihat
begitu indah, disertai dengan alunan music yang begitu merdu yang dimainkan
oleh band The Rhioz.
Penampilan The Rhioz
sungguh membuat Airin kagum. Mereka tampil dengan sangat sempurna disertai aksi
panggung yang menawan sehingga para penonton merasa puas dan terhibur dengan
penampilan The Rhioz sore itu. Sepanjang penampilan The Rhioz, Airin hanya bisa
berdecak kagum memandangi satu persatu penampilan dari masing˗masing
anggotanya. Ternyata, mereka sungguh mempesona. Mata dan telinga Airin
dimanjakan dengan alunan lagu dan penampilan keren yang dimainkan oleh The Rhioz.
“Wow,,,ternyata mereka
benar˗benar mengaggumkan.” ujar Airin dalam hatinya.
Sorakan dari para
penonton membuat suasana café semakin ramai didatangi oleh para anak muda. Tak
hanya kaum hawa tapi kaum adam pun sangat menikmati penampilan yang disuguhi
oleh band The Rhioz. Mereka tak takut untuk berjubelan diantara para penonton
yang lainnya, itu semua dikarenakan mereka sangat menikmati aksi panggung band
pensi yang saat ini sedang hangat menjadi perbincangan anak muda.
Semua orang bersorak bergembira,
tak lupa pula teriakan penonton yang memanggil nama masing˗masing personil band
The Rhioz semakin membuat suasana terasa lebih ramai. Mereka selalu melemparkan
senyum manisnya kepada setiap penonton yang memanggil namanya. Penampilan keempat
aksi cowok ganteng dari personil The Rhioz sungguh mampu membius suasana café
sore itu menjadi lebih meriah.
“Hey,,,Rin!! Kenapa kamu
diam membisu tanpa satu kata pun?” ujar Nia sambil menepuk pundak Airin.
“Hah!! Aku baik-baik
saja kok.” sahut Airin.
“Aah,,,bohooonng!!
Pasti kamu mulai suka kan dengan penampilan The Rhioz? Ya,,iyalah The Rhioz itu
band pensi paling ngetop di kota kita. Bahkan di kampus kita aja nama band The
Rhioz sudah sangat populer, makanya jadi orang tuh jangan kuper kuper amat dong Rin.” ujar Nia meledek Airin
“Niiiiaaaaaaa…. Kamu
ini cuma tahu nya tentang band The Rhioz aja. Emang kamu nggak mikirin tugas skripsimu
yang masih ditolak dosen.” Sahut Airin dengan nada yang keras.
“Yaelaaaaah…!!! Bisa
nggak sih, Rin satu hari aja tanpa mikirin skripsi.” Nia pun bergegas pergi
meninggalkan Airin dan mulai menikmati kembali alunan lagu yang disuguhi oleh
The Rhioz.
***
Keesokan harinya, tanpa
disengaja Airin bertemu dengan Raka sang gitaris band The Rhioz di koridor
kampus. Raka yang memiliki senyum manis, dan mempunyai postur badan besar dan
tinggi serta mempunyai fans yang lebih banyak dibandingkan personil The Rhioz
yang lainnya mampu membuat Airin jadi salah tingkah. Airin merasa malu ketika Raka
berjalan menuju kearahnya. Karena rasa malu yang dimilikinya, Airin pun mencoba
beralih kearah kantin agar tidak berpapasan secara langsung dengan Raka sang
gitaris manis itu.
Setelah beberapa menit Raka
pun berlalu dari arahnya.
“Huuu,,,legah!!
Akhirnya ia tak mengarah kesini. Bisa salting gue kalau ketemu dengan dia
secara langsung.” ujar Airin sambil menghembuskan nafasnya.
Airin pun mulai
melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Pak Anwar yaitu Dosen Pembimbing
skripsinya. Airin terus berjalan dengan gaya cuek yang telah menjadi ciri khas
dirinya, tanpa melihat orang˗orang
disekelilingnya Airin terus berjalan lurus menuju ruangan Pak Anwar.
Setibanya sampai di depan ruang tunggu Pak
Anwar. Airin pun dikagetkan dengan sosok laki˗laki bertubuh besar dan tinggi
yang sedang duduk dipojokan di ruang tunggu Pak Anwar. Ternyata,
laki˗laki itu adalah Raka. Sosok laki˗laki yang mampu membuat dirinya menjadi
salah tingkah dan gugup.
Di ruang tunggu Dosen,
Airin terdiam bagaikan patung yang tak bisa bergerak, dan bicara. Tak henti˗hentinya
Airin memainkan handphone genggamnya sambil
sesekali memandangi Raka yang saat itu sedang membaca buku, duduk disebelahnya.
“Wah,,,ternyata nih
cowok keren juga ya. Aku kira kerjaannya cuma bisa main gitar doang, ternyata
dia juga suka membaca!” Pikir Airin.
Lamunan Airin terlalu
dalam, sehingga ketika Raka mengarahkan pandangannya kearah Airin, Airin pun
kaget dan kebingungan.
“Loe lihatin gue ya?
Kenapa? Apa ada yang aneh dari muka gue?” Ujar Raka
“Enggaaaakk kok. Gue
nggak lihatin loe. Dasar loe˗nya aja yang kepedean.” Ujar Airin dengan raut
wajah yang datar.
“Oh,,,gitu!!!’” Sahut
Raka dengan singkat
Raka pun tak
menghiraukan Airin, ia masih asyik dengan buku bacaannya dan terus membaca
hingga Pak Anwar tiba di ruangannya. Tak lama kemudian Pak Anwar pun tiba
diruangannya. Beliau mengenakan kemeja putih polos dengan tatanan rambut yang
rapi. Beliau tersenyum kepada seluruh mahasiswanya yang saat itu telah datang
duluan untuk melakukan bimbingan skripsi dengannya.
Setelah secara
bergiliran mengantri satu per satu masuk keruangan Pak Anwar, bimbingan pun
usai. Airin dan Raka pun berpisah selayaknya orang biasa yang tak saling
mengenal.
***
“Hey,, kamu dimana?
Tumben batang hidungmu belum kelihatan jam segini?” ujar Airin melalui pesan
singkat yang ia kirimkan untuk Nia.
“Masih di bus nih. Kenapa? Kamu udah kangen ya
sama aku? Ledek Nia dipesan singkat yang ia kirimkan untuk Airin.
“Buruan deh kesini. Aku
udah di kampus dari 35 menit yang lalu” Jawab Airin kembali dengan nada memaksa
Nia agar segera tiba.
“Iya…iya sabaarr.
Bentar lagi aku sampai kok.”
Beberapa menit kemudian,
Nia pun tiba dikampus.
“Woy,,,,benggong aja
loe” Teriak Nia tepat ditelinga Airin.
“Aahh loe ngagetin gue
aja.” Airin pun terkejut
“By the way, aku mau cerita nih, tapi kamu harus janji ya jangan
bilang ke siapa˗siapa.” Sahut Airin dengan wajah yang serius.
“Oke, aku janji.” Ujar
Nia mengulurkan jari kelingkingnya.
“Jadi gini
ceritanya…..”
‘’APAAAA….? Loe serius
Rin? Loe nggak bohongi gue kan tentang cerita yang barusan loe ceritain?” Jawab
Nia yang masih tak mempercayai hal itu.
“Yaelah,, sejak kapan
gue sering bohongin loe. Emang loe nggak lihat muka gue sudah serius begini!!”
Ujar Airin dengan kesal.
“Heheh,,,maaf deh kalau
gitu. Soalnya aku masih nggak percaya aja nih sama cerita kamu. By the way, jadi apa nih yang kamu
rasakan setelah duduk bersebelahan dengan Raka? Apakah Raka semanis dan
seganteng ketika ia sedang memainkan gitarnya? Ayooo dong Rin ceritain ke gue.”
ujar Nia yang tak henti˗hentinya mencerocos.
“Pertanyaan loe banyak
baget sih, pusing gue dengernya. Mending loe lihat sendiri tuh idola loe.”
sahut Airin dengan kesal.
Karena tak sanggup
mendengarkan celotehan Nia, Airin pun pergi meninggalkan Nia yang tak
henti˗hentinya menanyakan tentang Raka sang cowok idolanya. Airin berjalan
sendirian menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan. Ia
membeli semangkok bakso dan es teh manis sebagai menu favorite˗nya. Tak lama kemudian Raka dan teman˗teman The Rhioz tiba
di kantin tempat Airin sedang menyantap baksonya. Rasa jengkel Airin terhadap
Raka masih saja menyelimuti hatinya. Ia merasa bahwa Raka adalah cowok sok
kepedean yang ia kenal.
***
Keesokan harinya,
dengan persiapan yang matang Airin pun siap melanjutkan bimbingannya dengan Pak
Anwar. Ia telah melakukan perbaikan sesuai yang Pak Anwar inginkan. Dengan penuh
harapan, ia berharap semoga hari ini adalah hari terakhir baginya untuk
melakukan bimbingan. Rasa percaya dirinya membuat Airin melangkah dengan berani
menuju ruangan Pak anwar.
Di ruang tunggu ruangan
Pak Anwar, ternyata Raka telah lebih dulu datang dibandingkan Airin. Hari ini
Raka terlihat semakin ganteng dan manis dengan kemeja polosnya yang berwarna navy. Penampilannya sangat berbeda
dengan penampilannya ketika ia berada di panggung.
Meskipun Raka merupakan
salah satu anggota band pensi terkenal di kampus, Entah kenapa suasana ruang
tunggu tetap saja terasa hening, Semua mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri. Tak
ada satu pun orang yang meminta foto dengan Raka meskipun ketika ia selesai performance bersama teman bandnya biasanya
Raka kebanjiran fans yang meminta foto bersama dirinya, hal itu membuat Airin
merasa aneh.
Ditengah˗tengah
lamunannya, tanpa ia sadari ternyata Raka pun mencoba mengajaknya mengobrol
untuk mencairkan suasana hening siang itu.
“Hai..” sapa Raka
“Hai,,” jawab Airin singkat
“Kamu bimbingan dengan
Pak Anwar juga ya?” tanya Raka dengan singkat.
“Eem..iya.”
“Owh, sama dong. aku juga
bimbingan sama Pak Anwar.” ujar Raka dengan ramah
“Owh…” sahut Airin.
"Raka terpanah melihat
tingkah Airin yang begitu cuek."
“By the way, namamu siapa?” tanya Raka kembali.
“Aku Airin.” Kalau kamu
siapa?” ujar Airin yang berpura˗pura tidak tahu.
“Raka.” Raka pun
tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Airin.
Berkali˗kali Airin
masih tak mempercayai bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya. Setelah
sebelumnya Raka bersikap sok cuek dan kepedean, hari ini Airin merasa terkagum
kembali kepada Raka sang gitaris band The Rioz.
“Sungguh ini diluar
dugaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya” ujar Airin dalam hatinya.
Satu jam
berbincang˗bincang dengan Raka membuat rasa bosan Airin menghilang. Akhirnya, Pak
Anwar pun tiba. Beliau mengenakan batik panjang berwarna biru cerah dengan
rambut yang tertata rapi ditambah sedikit senyum manis yang terkadang
mengalihkan pandangan mahasiswa. sikap tegasnya terkadang membuat Airin menangis,
beliau merupakan salah satu Dosen yang paling teliti untuk membimbing mahasiswanya
dalam menyelesaikan skripsi.
Setelah secara
bergantian mengantri untuk melakukan bimbingan dengan Pak Anwar. Akhirnya jam
bimbingan pun telah usai. Airin dan Raka pun berpisah disana.. Tiba˗tiba dari
jarak yang berjauhan Raka lari˗larian memanggil nama Airin.
“Airiiiiiiinn…..Airinn,
Hey tunggu dulu!!” ujar Raka memanggil Airin sambil berlari kearah tempat Airin
berhenti.
“Iya, kenapa?” jawab
Airin singkat
“By
the way boleh nggak aku minta Id Line
mu?” tanya Raka kepada Airin.
“Emangnya untuk apa?” tanya
Airin kembali
“Jadi gini…….”
Setelah perbincangan singkat
ditengah kampus tersebut akhirnya Raka mendapatkan Id Line Airin dan Airin pun tahu Id
Line Raka si artis pensi itu.
“Aku tak pernah
menyangka bahwa Raka akan seramah ini kepadaku. Meski dulunya aku sempat
berpikir bahwa dia bukanlah cowok yang baik terhadap fans dan orang˗orang
disekitarnya, ternyata tafsiranku terhadap dirinya selama ini salah” pikir Airin.
***
Semenjak pertukeran Id Line di kampus beberapa hari yang
lalu, akhirnya Airin dan Raka sering chattingan
disela˗sela kesibukan mereka masing˗masing.
“Hallo,, Rin. Kamu lagi apa?” Tanya Raka
“Lagi revisi aja nih.
Emangnya kamu lagi ngapain? Pasti lagi manggung ya? tanya Airin kembali kepada
Raka
“Hahaha….nggak lah. Aku
lagi ngejam aja sama The Rhioz.”
“Owh,,,gitu.” jawab
Airin singkat
“Yaudah kalau kamu lagi
sibuk, lanjutin aja revisinya. Maaf ya aku ganggu.” Jawab Raka menutupi obrolan
malam itu.
“Perbincangan yang sering
mereka lakukan melalui Line membuat Airin
menjadi tak keruan. Ia sering senyum˗senyum sendiri sambil menatapi layar handphone˗nya dan berharap semoga Raka
akan segera mengirimkan stiker lucu untuknya.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.
Dan ternyata satu jam kemudian Raka mengirimkan sebuah stiker lucu untuk menyemangati Airin yang saat itu sedang merevisi skripsinya. Airin pun tertawa sambil menatap layar handphone-nya. Tak henti-hentinya ia tersenyum manis dan memikirkan Raka.
Kini Airin baru menyadari ternyata Raka bukanlah tipe cowok yang sombong, kepedean seperti pemikirannya sebelumnya. Airin sadar bahwa anggota The Rhioz adalah pemuda baik yang mau berteman sama siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tersebut. Kini, pertemanan mereka semakin terjalin akrab dari hari ke hari, hingga akhirnya Airin pun menyadari bahwa kini hatinya telah terpincut oleh sang gitaris The Rhioz.
Sabtu, 02 Juli 2016
Ketakutan Raina
Di saat Allah memanggil
Papaku untuk selama-lamanya, rasanya aku tak mampu lagi untuk menjalani setiap
hari-hariku. Entah kenapa, semenjak hari itu banyak hal yang aku takuti. Aku
semakin takut untuk kehilangan, dan aku semakin takut untuk menatap masa
depanku Aku merasa bahwa aku tak mampu
bangkit lagi dari rasa sedih yang aku alami ini. Luka ini begitu amat dalam aku
rasakan. Aku tak mampu membagikan apa yang aku rasakan, karena aku yakin tak
ada satu pun orang yang paham tentang apa yang aku rasakan.
Namaku Raina, aku anak
bungsu dari lima bersaudara. Semua saudaraku sangat beruntung. Mereka mempunyai
kesempatan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu
meneruskan pendidikan ke Universitas dengan didampingi papa dan mama. Sedangkan
aku? Aku harus rela menelan pahitnya cobaan yang datang padaku.
Di usiaku yang masih
sangat remaja, aku harus ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan
untukku dan keluargaku. Pada Tanggal 15 September 2008, tepat dibulan Ramadan,
derai air mata membasahi setiap pipi anggota keluargaku. Tangisan ini
mengiringi kepergian Papa untuk selama˗lamanya. Aku tak pernah menduga bahwa
kejadian ini akan terjadi begitu cepat di dalam hidupku. Aku selalu berdoa
semoga keluarga kami akan selalu lengkap dengan kehadiran Papa, Mama dan
keempat saudaraku yang lainnya. Tetapi, Allah berkehendak lain padaku. Ia
memberikan ujian yang amat perih untuk aku rasakan, ujian itu begitu sulit
untuk aku lalui.
Masih terngiang di benakku,
pagi itu, aku dikagetkan dengan dering telepon rumah yang berbunyi tepat
setelah azan Subuh berkumandang. Hatiku berdebar˗debar untuk mendengarkan siapa
si penelepon pagi itu. Suara itu tak asing lagi di telingaku, ternyata kakak
yang menelepon. Kakak memberikan kabar yang membuat aku dan keluarga menjadi
panik.
“Papa kritis.” ujar Kakak
memberitahu kami lewat pesan suara yang ia sampaikan.
Aku hanya terpaku
membisu setelah aku mendengarkan kabar dari kakak. Aku takut, aku cemas, dan
aku tak tahu harus berbuat apa setelah berita itu sampai ditelinga ku. Aku ambil
jaket untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara dipagi itu, lalu aku siap˗siap
untuk pergi menuju kerumah sakit tempat papaku dirawat. Sesampainya disana, aku
menyiapkan semua kekuatanku untuk tidak menangis, ku pandangi wajahnya yang
telah lelah dengan semua selang yang berada disekujur tubuhnya, ia tampak
lelah, matanya mulai mensipit dan nafasnya mulai tersenggah˗senggah seolah tak
mampu lagi untuk bertahan dengan semua peralatan medis yang berada
disekitarnya. Aku hanya bisa berdoa dengan semua keadaan yang mungkin saja akan
terjadi dipagi itu.
“Bu, yang sabar ya.
Bapak telah pergi untuk selama˗lamanya.” ujar Dokter cantik yang merawat Papaku.
Derai air mata mulai
membanjiri seisi ruangan tempat Papaku dirawat. Seluruh keluarga menangis
melihat kepergian papa untuk selama˗lamanya. Aku masih tak mempercayai semua
hal ini bisa terjadi secepat ini. Aku hanya bisa diam membisu disudut kamar
tempat Papaku dirawat. Aku masih yakin bahwa Papa hanya tidur sebentar lalu ia
akan bangun kembali. Tetapi, itu semua hanya khayalanku saja. Aku hanya bisa
menangis untuk meluapkan semua emosi didalam dadaku.
“Papa,,,,Papa bangun.”
ujarku sambil menggoyangkan tubuh Papa yang mulai mengkaku.
“Raina,,,kamu harus
ikhlas, sekarang Papa sudah pergi untuk selama˗lamanya dari kita.” ujar Mama
yang mencoba untuk menenangkan jiwaku.”
“Aku yakin papa masih
bisa bertahan, Ma!! Aku yakin Papa pasti kuat.”
“Mama memeluk ku begitu
erat untuk menenangkan jiwa dan perasaanku setelah melihat kepergian Papa.”
Aku masih tak
mempercayai semua ini akan terjadi begitu cepat didalam hidupku. Hatiku sakit
ketika aku harus melihat orang yang aku sayangi pergi. Papa adalah sosok lelaki
yang paling gagah didalam keluargaku. Kini, ia terpaku membisu dengan kain yang
menutupi sekujur tubuhnya. Ia tertidur dengan pulas dengan senyuman khas
miliknya. Ia terlihat sangat bahagia ketika rasa sakit yang ia rasakan kini tak
akan pernah lagi ia rasakan.
Sepanjang perjalanan
dari rumah sakit menuju kerumah, air mata ini terus mengalir tak
henti˗hentinya. Ini semua bagaikan mimpi buruk yang harus aku lalui. Aku masih
tak mempercayai bahwa hal ini benar˗benar terjadi di dalam hidupku, bendera
kuning yang berkibar didepan rumahku membuat hatiku semakin tersakiti.
“Kenapa harus aku Fina yang
mengalami kejadian terpahit ini?” ujarku kepada Fina teman sekelasku.
“Aku masih membutuhkan
Papa untuk selalu ada didekat ku. keberadaannya begitu penting untukku.
Tanpanya aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya seperti apa. Ya Allah, sungguh
sulit cobaan ini untuk aku lalui.” gerutuku kembali sembari memandangi wajah
papa untuk terakhir kalinya.
“Sabar ya Raina, ini semua adalah ujian dari Allah.”
ujar Fina, yang saat itu datang melayat kerumahku.
“Aku hanya bisa
menganggukan kepalaku sambil sesekali menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Aku tak mampu memperlihatkan wajah sedihku di depan teman˗temanku yang sedang
melayat kerumahku.”
Kini, aku harus siap
menjadi seorang anak yatim. Meski aku tak tahu seberapa sulitnya menjalani
hari˗hari sebagai anak yatim tapi aku percaya bahwa aku masih mempunyai
kesempatan untuk sukses meski tanpa didampingi sosok Papa disampingku lagi.
Semenjak hari itu
terjadi, satu per satu rasa takutku muncul dari dalam diriku. Aku takut bila
nanti aku tak bisa melanjutkan kuliah, aku takut tak bisa membahagiakan Papa
dan Mama, dan aku takut bila aku tak bisa menjadi anak yang sukses untuk Papa.
Semua hal itu selalu saja menghantui perasaanku. Aku tak tahu jalan hidupku
selanjutnya akan menuju kemana semenjak kepergian Papa dari hidupku. Hidupku
bagaikan deburan ombak yang selalu terombang˗ambing tak jelas selayaknya gelombang
datang menghempaskan pantai.
Hari demi hari telah
aku lalui tanpa kehadiran Papa. Tak terasa kini sudah tahun kedua Papa meninggalkanku. Masa˗masa
pahit yang pernah aku lalui dulu masih membekas didalam hati. Meski kejadian
itu telah terjadi dua tahun yang lalu, tapi tak ada sedikit pun kenangan yang
tecipta antara aku dan Papa hilang memudar begitu saja dari hatiku. Papa masih
tetap menjadi bagian terindah dalam hidupku. Sosoknya masih akan selalu hidup
dalam jiwaku, darahnya masih akan selalu mengalir didalam darahku. Begitu
kentalnya perasaan ini untuknya hingga saat ini aku masih tetap merindukan
dirinya.
Sore itu, bumi dibasahi
dengan turunnya hujan yang begitu deras. Udara yang sejuk serta tiupan angin
yang begitu syahdu membuat suasana bersantai aku dan mama terasa begitu nyaman.
Meski tanpa kehadiran papa, tapi aku bersyukur setidaknya aku masih mempunyai
mama yang selalu setia mendampingku.
“Ma,, hari ini tepat
dua tahun kepergian papa ya?” tanyaku
“Iya, dek. Waktu
berlalu begitu cepat ya dek.” jawab Mama.
“Iya, Ma. Aku juga baru
sadar ternyata aku bisa sekuat ini melalui setiap cobaan yang datang padaku.
Meski awalnya aku sempat meragukan diriku sendiri, tapi berkat support dari Mama, dan keempat kakak
akhirnya aku mampu bangkit dari keterpurukan ku setelah kepergian Papa.”
“Sedih itu adalah hal
yang wajar, tapi kalau kamu sedihnya berlarut˗larut pasti papa disana akan
lebih sedih lagi melihat kamu disini. Jadi, untuk menjadi anak yang hebat kamu
harus buktikan ke Papa kalau kamu mampu berdiri menjadi anak yang lebih kuat,
tegar, mandiri dan bertanggung jawab.” ujar Mama menasehatiku.
“Setelah tamat sekolah
nanti, kamu mau melanjutkan kuliah kemana, dek?” tanya Mama kepadaku.
“Aku masih ragu, Ma.
Aku belum yakin apa aku masih bisa melanjutkan pendidikan tanpa bantuan dari
papa? Mengandalkan uang pensiunan dari Papa rasanya belum cukup untuk membiayai
semua keperluan kuliah ku, apalagi saat ini biaya kuliah semakin mahal. Aku takut kalau nantinya aku
merepotkan mama.” Jawabku.
“Papa kerja selama ini
untuk menyekolahkan kalian semua sampai kejenjang yang lebih tinggi, mama
selama ini berhemat untuk menabung menyiapkan semua keperluan kamu dan keempat
saudaramu kuliah. Bagi kami, pendidikan adalah hal utama sebagai bekal kamu
dewasa nanti. Dengan pendidikan kamu mampu bersaing untuk menaklukan dunia.
Jadi, jangan pernah berpikir setelah Papa pergi kamu tidak bisa kuliah. Karena
sebelum Papa pergi Papa dan keempat saudaramu telah tolong menolong untuk
menyiapkan semua kebutuhan kuliahmu.” ujar Mama kepadaku.
Selama ini aku selalu
saja ditakuti dengan perasaan itu. aku takut bahwa aku tak mampu menjadi anak
yang berguna untuk Papa dan Mama. Hingga akhirnya aku selalu berpikiran pesimis
sebelum aku menjalani hari˗hariku selanjutnya. Tanpa aku ketahui, ternyata dari
dulu Papa selalu memperjuangkan kelima anaknya untuk bisa menginjak bangku
sekolahan yang lebih tinggi hingga akhirnya ketika Papa telah tiada, Papa bisa
tenang pergi meninggalkan kami dengan bekal akhlak dan ilmu yang telah Papa
tinggalkan.
Selepas perpisahan
sekolah, hari baru pun telah siap menanti kehadiranku. Aku siap untuk melangkah
lebih maju seperti yang Papa harapkan. Aku mantapkan langkah kaki ku untuk
meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi yaitu masuk ke Universitas
Swasta di kota Palembang. Kulalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya aku
dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswi baru angkatan 2010 yang mengambil
jurusan pendidikan akuntansi.
Palembang merupakan ibu
kota dari Sumatra Selatan. Kotanya cukup asing untukku. Apalagi selama ini aku
tinggal di kota kecil yaitu kota Sekayu yang harus menempuh perjalanan ± 3,5
jam dari Sekayu ke Palembang. Kotanya sangat besar, hampir sebagian orang dari
daerah terpencil merantau ke kota Palembang untuk bekerja bahkan untuk
melanjutkan pendidikannya, salah satunya adalah aku. Meski tante dan om tinggal
di kota Palembang tapi aku tidak ingin merepotkannya. Akhirnya aku memutuskan
untuk tinggal sendiri disebuah kontrakan yang tak jauh dari lokasi kampusku.
Awal mulanya aku takut tak sanggup untuk tinggal sendirian di kota yang sebesar
ini sebagai anak kosan, aku belum terbiasa hidup jauh dari Mama. Tapi semenjak
Papa telah tiada, semua rasa ketakutanku harus dilawan agar aku mampu hidup
mandiri tanpa harus berlindung dibawah bayang˗bayang keluargaku lagi. Akhirnya
aku memulai menjalani hari˗hariku dengan sendirian seperti yang Papa dan Mama
inginkan.
Di kontrakan yang
sederhana ini aku memulainya dari awal. Aku mulai membiasakan diriku dengan
kehidupan baru yang aku jalani sekarang. Aku mulai menikmati hari-hariku
sebagai mahasiswi jurusan akuntansi, aku menikmati indahnya masa-masa kuliah,
aku menikmati setiap perputaran waktu yang begitu cepatnya berputar hingga
tanpa kusadari kini aku mulai terbiasa hidup mandiri tanpa didampingi Papa dan
Mama lagi.
Hampir Tiga tahun menjalani
kehidupan sebagai anak kosan yang tinggal di kota orang, bukanlah hal yang
mudah untuk aku jalani. Hal yang dulunya aku takuti kini hilang seketika. Itu
semua berkat support yang selalu Mama
berikan untukku. Aku tak pernah lupa dengan semua nasihat yang Mama berikan
untukku. Seperti yang diharapkan Papa dan Mama, aku harus menjadi anak yang
sukses agar kelak aku bisa membuat Papa dan Mama bangga terhadapku. Ku
mantapkan langkah kaki ku untuk melangkah meraih impianku. Aku lalui hari demi
hari, ku lewati tahun demi tahun hingga akhirnya setelah beberapa tahun aku
menjalani masa kuliahku, dipenghujung tahun 2014 aku telah siap untuk diwisuda.
Tanggal 24 Desember
2014 akan menjadi tanggal yang bersejarah untukku. Ditanggal itu, aku akan
resmi menyandang gelar dibelakang namaku selain itu aku akan resmi dinyatakan
lulus dari universitas tempatku menimba ilmu. Meski wisuda ini tak dihadiri
oleh Papa dan keempat saudaraku yang lainnya, tetapi aku selalu yakin bahwa doa
mereka selalu menghantarkanku menuju hari baruku. Jubah hitam dan kucir yang
berpindah kesebelah kanan membuat perasaanku semakin bahagia, apalagi dengan
kehadiran Mama, Tante dan Om yang datang dihari spesialku membuat hariku semakin
terasa berkesan dengan doa yang selalu mereka berikan hingga akhirnya
menghantarkanku sampai kesini. Aku lulus dengan nilai IPK yang sangat
memuaskan. Kebahagiaan ini semoga dapat Papa rasakan dari jarak yang berjauhan.
Kini, kelima anak Papa telah menjadi sarjana, foto wisuda seperti yang papa
impikan kini sudah terpasang rapi didinding ruangan keluarga tempat biasanya
kita bercengkeraman bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
My Sweetheart
Pagi itu, hujan menyambut kehadiranmu Sembilan bulan yang ku nantikan dulu Kini berakhir sudah Tangisan merdu dari bibir mungilmu membuat...
-
Diamku.. Tak membuatmu peka terhadap cintaku.. Diamku.. Tak membuatmu mengerti apa inginku.. Diamku.. Hanya sebagaian resah dari hatiku....
-
Mungkin ini sudah kesekian kalinya aku menangis tanpa ada satupun orang yang mengetahuinya. air mata ini terus mengaliri pipiku.. aku tak ta...
-
Sebenarnya sudah beberapa hari ini laptop item kesayanganku bikin hatiku kesel banget.. ga tahu kenapa akhir-akhir ini dia bikin aku puyeng...


